Science Battle


Science Battle


 Chapter 1

Musik berdentum-dentum memenuhi penjuru ruangan itu. Gelas-gelas yang kosong buru-buru diisi sampanye lagi. Para bartender sibuk mengisi ulang gelas para pelanggan yang sudah mabuk berat.
Di tengah ruangan, tepat dibawah lampu gantung mewah, terletak meja kayu bundar berukir rumit. Meja itu dikelilingi kurang lebih 5 pria dengan tatapan serius dan tegang. Namun ada satu? yang tampak paling muda? terlihat lebih rileks dari yang lain. Ia duduk bersandar di kursinya dengan malas. Sebelah tangannya menggenggam kartu sedangkan yang lain menopang gelas minuman yang separuh kosong.
Ia memandang kartu di genggamannya itu, melirik sekilas ke wajah frustasi lawan di sekelilingnya, menghela nafas sejenak lalu menyesap sisa minumannya? mengosongkan isi gelasnya dalam sekali teguk.
Dengan ekspresi berbinar ia mengeluarkan kartu terakhirnya. Dengan senyum kemenangan, ia mengambil cek di hadapannya, menatapnya dengan gaya dramatis. Ia tersenyum dan mengangguk malas ke arah lawannya yang mulai menunduk gusar? lalu berbalik pergi.
“CURAAANG!!!!”
Terdengar gebrakan keras dan meja bundar itu terbalik, salah satu kaki mejanya patah. Gelas-gelas pecah dengan bunyi nyaring. Sunyi sesaat saat seluruh pengunjung klub memusatkan perhatian pada pusat keributan. Sunyi yang hanya sejenak. Keributan yang terjadi setelah itu mengalahkan gegapnya musik yang berdentum-dentum.
***
Wilda berlari masuk ke klub itu tanpa berpikir. Yang ia tahu hanyalah ia harus terus berlari. Ketika mendapati jalan buntu dan hanya klub itu yang tersisa, tanpa ragu ia berlari masuk.
Telinganya sedikit berdenging saat beradaptasi dengan keadaan klub yang hingar bingar. Namun bukan musik yang membuat telinga Wilda sakit? tapi bunyi gelas pecah itu. Bukan hanya gelas? entah barang pecah belah lainnya hancur dengan mengenaskan. Belum lagi lampu hias mewah di tengah ruangan yang baru terjatuh beberapa detik lalu. Pecahannya menyebar ke seluruh ruangan dan membaret siku Wilda.
Wilda memaki keras saat kaca itu membuat sikunya robek. Di sambarnya taplak meja terdekat? merobeknya sedikit lalu membebat sikunya yang berdarah. Wilda bergegas bangkit dan hendak keluar dari klub sialan itu. Ia memutuskan tempat itu bukan tempat yang baik untuk bersembunyi.
Tapi memang dewi fortuna tidak berpihak padanya. Belum sampai tangannya sempat memutar kenop pintu, sebalok kayu? mungkin kaki meja yang patah? menghantam keras belakang kepalanya. Mata Wilda berkunang-kunang. Ia terhuyung-huyung dan akhirnya limbung.
“Sialan!” umpatnya sebelum pingsan.
***
Klub itu sudah nyaris kosong. Hanya beberapa pelayan yang berjalan mondar-mandir membersihkan sisa-sisa kekacauan tadi. Lelaki muda itu? pemicu keributan awal? melepas jas nya yang tampak kumal setelah kekacauan tadi. Matanya menatap sosok gadis yang masih pingsan yang kini bersandar di sofa di sudut ruangan.
Siku gadis itu terbebat dan bernoda darah. Lelaki itu maju mendekat dan memeriksa belakang kepala si gadis yang ternyata memar berat. Pantas saja gadis itu pingsan. Ia terhantam? entah apa? dengan sangat keras.
Tak lama kemudian, seorang pria datang menghampiri pemuda itu, “Apa yang harus kita lakukan dengan mereka, Elmer?” Tanya pria itu.
Elmer menghela nafas namun tak melepas pandang dari gadis di hadapannya ini berkata, “Lepaskan saja. Hari ini aku ingin menambah pahala.”
“Lalu bagaimana dengan gadis ini?” Tanya pria itu lagi.
“Kita tunggu dia sampai sadar, Brandon.” Katanya.
Pria yang bernama Brandon itu mengangguk mengerti dan menepuk bahu Elmer sekilas sebelum beranjak pergi. Elmer duduk di salah satu kursi. Tangannya merogoh saku dan mengeluarkan selembar cek kemenangannya yang agak kusut. Pendapatan yang lumayan.
Tangannya memainkan kalung berbandul salib? kebiasaannya bila sedang berpikir. Ia tidak memikirkan apa yang baru saja terjadi, atau berapa kerugian karena kondisi klub nya yang berantakan. Uang tidak menjadi masalah dan sangat mudah di dapat. Tidak, masalah sekecil itu tidak dapat mengganggu pikiran seorang Rudolph Elmer? ahli judi kelas kakap serta calon pewaris tunggal Dark’z Rain Kasino.

Yang mengganggu pikirannya adalah gadis dengan memar besar di belakang kepalanya. Bagaimana kalau gadi ini tidak pernah bangun. Nah itu yang gawat. Karena nyawa manusia tidak bisa di beli, dan fakta yang satu itu membuat Elmer kesal.
Mata Elmer memicing. Posisi duduknya menjadi lebih tegak saat dilihatnya gadis tadi mulai memuat gerakan kecil. Tanpa sadar Elmer menghela nafas lega. Gadis itu bangkit perlahan sambil memegangi belakang kepalanya yang berdenyut-denyut.
“Mana kacamataku?” ujarnya serak. Elmer melirik sekilas dan mengambil kacamata berframe merah dari atas meja. Gadis itu segera memakai kacamatanya. Matanya terlihat merah. Ia berusaha berdiri namun ambruk lagi. Telinganya berdenging.
“Duduk dulu,” gumam Elmer. Gadis itu memicing dan mengamati Elmer lekat-lekat. Sebelah tangannya menyibak poninya yang di highlight merah cerah, sedang satu tangannya mengusap sekilas mata kakinya? tempat pisau lipatnya tersembunyi. Apapun yang terjadi, dia harus siap bertarung.
Diam-diam dia mengamati laki-laki di hadapannya ini. Rambutnya berwarna pirang pucat menyentuh kerah bajunya. Ia mengenakan kalung dan anting bertindik 2? semuanya berbandul salib. Kristen sejati, dengus cewek itu. Penampilannya tampak casual dengan lengan kemeja toska yang digulung sampai batas siku. Secara total, pemuda ini berkelas.
“Siapa kau?” gumam gadis itu.
Elmer berdecak dan melipat lengannya di depan dada. “Harusnya aku yang bertanya. Siapa kau?” ujarnya.
Tatapan gadis itu menajam. Hal itu terlihat dari gerak-geriknya yang selalu menyentuh sekilas mata kakinya. “Jangan mengalihkan pembicaraan!” ujar gadis itu keras.
Elmer berdecak. Gadis ini galak sekali. Namun, Elmer ingin menunjukan bahwa ia mempunyai kuasa disini? seperti biasa. Ia bangkit dan membungkuk di depan gadis ini hingga mata mereka saling bertatapan.
“Kau ada di klub ku. Kau pingsan disini.” Elmer sengaja menekankan kata pingsan. “Jadi, yang punya hak melontarkan pertanyaan ‘siapa kau?’ itu aku. Bukan kau!” Elmer mengulurkan telunjuknya ke arah gadis itu, tapi tak sampai hitungan detik segera menariknya dan mundur mendadak.
Matanya menatap jalang ke arah pisau yang terhunus di tempat jarinya tadi berada. Kalau ia tidak bereaksi cepat tadi, Elmer bisa kehilangan jari telunjuknya.
“Sialan! Apa yang kau lakukan???!” teriak Elmer keras. Teriakannya mengundang perhatian
beberapa pelayan yang masih berlalu-lalang. Brandon bergegas menghampiri Elmer.

Gadis itu tersenyum sinis sambil memutar-mutar pisau lipatnya dengan santai. “Perlindungan diri.” Katanya datar.
“Memangnya kau kira apa yang mau kulakukan, hah? Kau hampir memotong jariku!” maki Elmer. Gadis itu tersenyum datar. Ia menatap Elmer sekilas dalam diam sebelum mengalihkan pandang pada Brandon? yang hanya berdiri di samping Elmer, diam dan memperhatikan.
“Boleh kuminta kompresnya? Kepalaku sakit sekali,” kata gadis itu. Brandon tersadar dan memberikan kompres yang sudah berisi es batu pada gadis itu. Gadis itu meringis saat kompres menyentuh belakang kepalanya yang berdenyut-denyut.
Elmer duduk lagi. Raut wajahnya masih kesal. Brandon mengambil tempat tak jauh di sebelah Elmer. “Jadi, kenapa kau bisa pingsan?” Suara berat Brandon membuat perhatian gadis itu teralihkan.
“Entah. Mungkin kaki meja atau kayu sialan itu.” Gerutu gadis itu.
“Dan atas alasan apa kau masuk ke tempat ini?” Tanya Brandon lagi.
Gadis itu memicing, “Bukannya ini tempat umum?”
“Yah, tapi tidak se-umum itu. Ini tempat judi. Kasino.” Kali ini Elmer yang angkat bicara. “Dan kau tidak memiliki tampang judi, jadi aku bertanya-tanya?”
Gadis itu mendengus, “Aku tak punya waktu memikirkan hal paling tidak penting seperti itu. Aku salah masuk tempat, oke?”
“Kenapa bisa salah masuk tempat?” cecar Elmer.
Kesabaran gadis itu mulai sampai di ujung batas, “Karena aku sedang di kejar. Karena jalan ini buntu dan satu-satunya pintu Cuma kasino ini.” Katanya kesal. “Dan kalau kau bertanya kenapa aku di kejar, itu karena aku tidak mau sekolah. Tidak di tempat itu!”
“Dimana?”
Oke, kesabaran gadis itu benar-benar habis. Gadis itu menekan tombol kecil berwarna merah yang terletak di ujung pisau lipatnya. Dan mata pisau itu mengeluarkan sinar merah yang menyorot lurus ke arah vas bunga 10 meter di depannya. Terdengar bunyi retakan yang makin lama semakin jelas dan vas itu hancur? terbelah.
Elmer dan Brandon, serta seluruh pelayan yang ada di sana menatap vas bunga dan gadis yang masih duduk santai d kursinya itu bergantian. Ada yang menatapnya dengan sorot kagum, namun ada juga yang ngeri.
“Kalau kau melakukan sesuatu yang benar-benar menghabiskan kesabaranku lagi, aku pastikan kau akan menjadi pengganti vas bungamu itu!”
“Apa kau mengancamku?” balas Elmer datar.
“Sudah…” Brandon menengahi kedua makhluk ini karena ia tahu tak akan ada yang mau mengalah.
“Okay, aku pergi dulu. Terima kasih untuk kompresnya.” Gadis itu mengacungkan kompres itu dan melemparnya ke arah Elmer yang dengan kesal menangkapnya juga.
“Siapa namamu?” Tanya Brandon sopan.
“Wilda. Wilda Sweilyn.”
Dan gadis itu melangkah pergi. Namun Elmer sempat berteriak, “Pisaumu! Dimana kau membelinya?” tanyanya. Tak bisa di pungkiri, Elmer menaruh perhatian lebih pada pisau itu.
Wilda berhenti sejenak dan menolehkan kepalanya, “Membeli? Aku membuatnya.”
Dan ia melangkah pergi? tanpa menoleh lagi.
***
 #to be continued,,,