Lost One
Will Be Back
![]() |
| www.the-leaky-cauldron.org |
Hal
terakhir yang diingat Luna Lovegood adalah pintu yang menjeblak terbuka sebelum
ia menyelesaikan mantera Colloportus untuk menyegelnya. Luna tidak yakin berapa
banyak mantra pembeku yang ditujukan langsung pada dirinya, mungkin lebih dari
tiga. Setelah itu semuanya berubah gelap.
Begitu
ia membuka mata, ia sudah berbaring di sayap rumah sakit. Matanya mengerjap
karena cahaya lampu. Sesaat ingatan akan pertarungan di Kementrian Sihir
memenuhi pikirannya. Well, itu jumlah pelahap maut yang sangat banyak,
mengingat lawan mereka hanyalah enam orang anak sekolah biasa.
Mungkin lebih dari anak sekolah biasa. Mereka
adalah anggota LD, dan Harry sang ketua juga bersama mereka. Tapi tetap saja
kan. Kau-Tahu-Siapa jadi terlihat agak pengecut dengan mengirimkan pelahap maut sebanyak itu.
Luna
membuka mata lagi dan mendapati Neville Longbottom sedang menatapnya. Hidung
Neville tampak lebih baik, namun ia terlihat sangat lelah. Luna bergegas
bangkit dan melompat turun dari tempat tidurnya. Ia merasa jauh lebih baik dari
yang semestinya. Setidaknya ia lebih baik dari Neville yang kelihatan akan
roboh kapan saja karena lelah.
“Berbaringlah
Neville. Kau kelihatan kacau.” Ujar Luna.
Neville
menggeleng dan mengendikkan tatapan ke dua tempat tidur di sebelah Luna.
Hermione berbaring di tempat tidur persis di sebelah Luna. Wajahnya terlihat
amat pucat dan nafasnya terdengar berat.
“Aku
tak tahu ia terkena mantera apa. Semacam mantera verbal. Madam Pomfrey sudah
mengobatinya. Hanya saja ia butuh banyak istirahat untuk pulih.”
Luna
mengangguk mengerti. “Dan Ron?”
Neville
menghela nafas letih dan menarik kursi untuk duduk.
“Ia
tampak parah.” Gumam Luna.
Sekujur
badan Ron tampak membiru. Tangannya dipenuhi bekas-bekas luka tempat tentakel
otak itu melilitnya. Jujur saja, kalau saat itu Luna yakin Ron tidak berada
dalam bahaya, ia berniat mengambil beberapa sampel Aquavirius maggots untuk dikembangbiakkan bersama ayahnya. Namun
sepertinya Hermione benar kali ini. Yang dilihat Luna bukan Aquavirius maggots, tapi sejenis otak
yang berbahaya.
Neville
mengangguk. “Nyaris saja. Kondisinya bisa saja lebih parah. Aku meninggalkannya
dengan keadaan nyaris tercekik sulur otak itu. Tapi aku tak bisa berbuat
apa-apa. Aku payah soal mantera, dan tongkat Hermione terasa aneh. Apalagi
Harry sedang di bawah sana sendirian, dengan selusin pelahap maut.”
“Walau
aku tahu tak akan banyak berguna, aku harus mencoba menolongnya kan.” Ujar
Neville membela diri.
Luna
menepuk bahunya dengan lembut. “Kau benar Neville. Tidak ada yang bisa
disalahkan dalam kejadian ini. Kau tahu kalau aku meledakkan Pluto? Aku ingin
menjauhkan pelahap maut yang mecekal kaki Ginny. Akhirnya aku meledakkan Pluto,
dan meremukkan pergelangan kaki Ginny pada saat yang sama. Yang penting, Ginny
bebas kan.” Ujar Luna dengan suara jauhnya yang biasa.
Neville
menelan ludah. Bagi Luna, meremukkan pergelangan kaki teman untuk menjauhkannya
dari bahaya lebih besar, adalah perbuatan yang dapat diterima. Neville merasa
lebih baik sekarang.
“Di
mana Ginny? Ia sudah sembuh kan?”
Neville
mengangguk. “Ia ada di luar. Sedang berbicara dengan Ibunya, dan
kakak-kakaknya.”
“Baiklah.
Neville, sebaiknya kau beristirahat, sungguh. Aku memang tidak membawa kaca
mata wrackspurt, tapi aku yakin mereka sedang berputar-putar di sana sekarang.
Kau butuh tidur, Neville.” Ujar Luna.
Kali
ini Neville tidak menolak. Ia memang butuh tidur. Tubuhnya sudah menjerit
karena lelah. Mungkin Luna mau berbaik hati menunggui Ron dan Hermione. Dan
Harry. Anak itu, memang. Neville yakin, di antara mereka, Harry lah yang
terluka paling parah. Apalagi Sirius Black- yang ternyata ayah baptisnya- baru saja meninggal. Sirius Black
yang selama ini Neville takuti, justru menjadi orang yang menyelamatkannya.
Orde Phoenix! Neville tidak menyangka perkumpulan itu masih ada. Ayah dan
ibunya dulu pernah ada di sana juga.
“Luna?”
panggil Neville bingung ketika Luna melangkah menuju pintu.
Luna
menoleh, “Ada apa, Neville?”
“Mau
ke mana kau? Tidak bisakah kau di sini menunggui Ron dan Hermione? Aku ingin
tidur sebentar.”
“Oh,
tenang sajalah, Neville. Kau bisa tidur sekarang. Dan aku juga bisa pergi
sekarang. Lagipula aku sudah mendengar langkah kaki mendekat. Kupikir itu
Ginny. Dia bisa menunggui kalian, sementara aku mengirim kabar pada ayahku.”
Sahut Luna ringan.
Saat
itu juga pintu terbuka dan Ginny Weasley melangkah masuk. Kondisi Ginny tampak
sebaik Luna, walaupun ekspresinya sangat sedih. Sudah pasti Ginny sangat sedih.
Kakak dan teman-temannya terluka parah. Bahkan kondisi Harry, yang Luna yakin
amat parah hingga ia tak bisa dirawat di Rumah Sakit sekolah, pasti membuat
Ginny sedih dan khawatir. Gadis Weasley itu memang sudah lama menyukai Harry
Potter- Luna
tahu itu.
“Oh,
hai Ginny.” Sapa Luna riang.
Ginny
memaksakan senyum. “Hai, Luna. Kondisimu baik?”
“Tentu.
Aku sudah tidak sabar ingin mengirim kabar ke ayahku. Ia pasti senang. Dan
kisah kita bisa masuk di The Quibbler edisi pagi ini.”
Ginny
mendengus tapi tak mendebat Luna.
“Well,
kukira kau akan berangkat ke St. Mungo, Ginny.” Sahut Luna tiba-tiba.
Ginny
memandang Luna bingung. “Masih terlalu pagi, Luna. Kupikir aku akan pergi ke
sana besok.”
Luna
menggeleng, “Kupikir kau begitu khawatir karena kondisi Harry yang amat parah.
Wajahmu terlihat begitu sedih. Tapi, kalau kau memutuskan pergi ke sana besok
siang, syukurlah. Aku jadi yakin kalau kondisi Harry tidak separah itu.”
“Harry?
Harry tidak dirawat di St. Mungo, Luna. Tonks yang ada di sana sekarang. Ia
terluka lumayan parah.”
“Oh… Lalu
kenapa aku tak melihat Harry di sini?” tanya Luna polos.
Ginny
menarik nafas letih. “Ia sedang bersama Dumbledore, di kantornya.”
Nada
suara Ginny jelas menunjukkan ketidaksetujuannya. Ia yakin Harry sangat lelah,
baik fisik maupun mental. Tapi bukannya beristirahat, dia harus menerima
informasi lain- yang
Ginny yakin sama penting dan beratnya seperti informasi-informasi sebelumnya.
Ginny hanya berharap Harry mampu melalui ini semua. Ia tidak terlihat baik
akhir-akhir ini. Dan sekarang, dengan kepergian Sirius- Ginny hanya bisa berdoa.
“Ia
akan kembali, Ginny, tenang saja.” Ujar Luna menenangkan.
“Maukah
kau menunggui mereka sementara aku mengabari ayahku. Aku tak akan lama.”
Janjinya.
Ginny
mengangguk dan mengucapkan “Hati-hati…” tanpa
suara.
*
Luna
sedang menempelkan catatan ke lima di papan pengumuman di koridor Nyonya Gemuk
saat ia mendengar langkah kaki mendekat. Ia menoleh dan melihat Harry Potter
sedang berdiri kaku di sana. Sejauh ini, Luna pikir Harry tidak tampak membaik.
Luka batin memang tidak bisa disembuhkan secepat luka fisik. Dan sepertinya
Harry Potter benar-benar terluka karena kepergian Sirius Black, daripada yang
ia perlihatkan pada orang-orang selama ini.
“Hallo…” sapa
Luna pelan. Ia bisa melihat dengan jelas bahwa Harry sedang tidak ingin
berbicara dengan siapa-siapa saat ini. Tapi sebagai sahabat- Luna sudah menganggap Harry
sahabatnya juga- Luna
harus berusaha menghibur Harry. Atau mengalihkan perhatiannya dari kesedihan.
“Kenapa
kau tidak menghadiri pesta?” Harry bertanya.
Luna
mengerling sekilas pada catatan yang ia tulis yang kini sudah tertempel di
dinding. “Well, aku kehilangan hampir semua barang-barangku.” Kata Luna pelan.
“Orang-orang mengambilnya dan menyembunyikannya, kau tahu. Tapi karena ini
malam terakhir, aku benar-benar butuh barang-barang itu kembali, jadi aku
memasang pengumuman.”
Luna
mengerling ke catatan di hadapannya. Ia telah menuliskan dengan jelas daftar
buku-buku dan pakaiannya yang hilang. Ia juga yakin telah menuliskan permintaan
dengan sopan pada “mereka” yang menemukan untuk mengembalikannya. Setidaknya ia
berharap kaos kaki hadiah Natal ayahnya bisa kembali.
Luna
merasakan tatapan Harry Potter kini berubah. Ia memandang Luna dengan sorot
peduli. Padangan seorang sahabat.
“Kenapa
mereka menyembunyikan barang-barangmu?” Harry bertanya sambil merengut.
Luna
menarik nafas. Rasanya menyenangkan bisa berbagi perasaan dengan orang lain.
Mengungkapkan apa yang kadang-kadang mengganggu pikiran Luna selama ini. Harry
berdiri menunggu. Luna menatapnya sekali lagi dan memutuskan untuk menceritakan
ini pada Harry. Lagipula, Harry sekarang sahabatnya kan?
“Oh,
well…” Luna mengangkat bahu, berusaha terlihat tidak
peduli. “Kukira mereka berpikir aku agak aneh, kau tahu. Nyatanya, beberapa
orang memaggilku ‘Loony’ Lovegood.”
Luna
lega bisa menceritakannya. Selama ini ia berusaha tidak peduli dengan panggilan
itu. Toh ‘Loony’ Lovegood bukan sosok yang nyata. Hanya Luna Lovegood yang ada.
Jadi selama ini Luna menganggap mereka membicarakan orang lain yang bukan
dirinya.
Wajah
Harry tampak aneh. Ia terlihat marah, tapi Luna yakin kemarahan itu bukan
ditujukan padanya. “Itu bukan alasan bagi mereka untuk mengambil
barang-barangmu.” Sergah Harry datar.
Luna
benar-benar merasakan arti kepedulian seorang sahabat.
“Apa
kau perlu bantuan menemukannya?” Harry menawarkan bantuan.
Luna
tersenyum. Mengetahui bahwa setidaknya ia memiliki sahabat saat ini, sudah
lebih dari cukup. Sesuatu yang jauh lebih besar daripada nilai barang-barangnya
yang hilang. Lebih besar daripada ejekan ‘Loony’ yang diucapkan seisi sekolah.
“Oh,
tidak.” Kini Luna tersenyum manis. “Barang-barang itu akan kembali, selalu
begitu pada ahirnya, walaupun tidak dalam wujud yang kita kira.”
Jelas
mereka sudah kembali dalam wujud kelima sahabat barunya.
“Ngomong-ngomong
kau tidak ikut pesta?”
*
862013
(Memenuhi Pesanan)
Philomena Olaf

Bagus Si~ Dipanjangin lagi klw bisa... Wkwkwk XD
ReplyDeleteMungkin next fanfic mau ambil sudut pandang Prof. Lockhart biar gokil
DeleteTapi kalo buat besok, mungkin aku posting chapter 3 (mungkin(
hehe