Sihir itu Nyata
Rabu
pagi ini berjalan nyaris sama anehnya dengan pagi-pagi lain semenjak surat aneh
itu tiba. Bahkan jauh lebih aneh lagi ketika Vernon Dursley menyuruh anaknya untuk
mengambil surat di keset pintu depan. Dengan marah, Dudley Dursley, yang
tampangnya memang sudah seperti babi baby,
berjalan sambil memukul-mukulkan tongkat Smeltingsnya sambil mengamuk. Kali ini
dia justru terlihat seperti banteng gila versi babi baby.
Suara
ayunan tongkat Smeltings ke dinding bergema di sepanjang lorong. Bisa-bisanya
ayahnya menyiksa Dudley seperti ini hanya karena surat. Surat aneh untuk sepupu
anehnya. Surat aneh! Nah, kata-kata
itu berhasil menggerakkan syaraf-syaraf otak Dudley yang selama ini mati suri.
Siapa yang mengambil dia yang memiliki! Surat itu bukan lagi milik sepupunya,
tapi miliknya.Dengan semangat yang nyaris membabi buta- segala sesuatu yang berhubungan dengan Dudley selalu berkaitan dengan babi- Dudley berlari di sepanjang lorong. Tongkat Smeltingsnya lagi-lagi memantul di dinding dengan bunyi keras. Akhirnya Dudley yang tak pernah terbiasa berolahraga, apalagi berlari, sampai di keset ruang depan.
Sekilas
Dudley melihat setumpuk surat. Tapi setelah diambilnya, hanya ada dua amplop di
sana. Keduanya sama-sama ditujukan untuk sepupunya itu. Amplop itu benar-benar aneh. Warnanya kuning seperti
gigi dan terasa berat. Tulisannya terlihat rumit dan susah dibaca- orang normal menyebutnya elegan- dan ada lambang huruf “H” besar
yang dikelilingi empat binatang yang Dudley lupa namanya.
Dudley
sebetulnya sudah menarik nafas dalam-dalam untuk berteriak memanggil ayahnya,
sebelum ia berubah pikiran. Pandangannya kembali pada dua amplop tebal di
tangannya itu. Dahinya mengerut karena berpikir- sesuatu yang jarang dilakukannya.
Akhirnya Dudley memutuskan untuk menyimpan satu amplop itu untuk dirinya
sendiri. Dengan hati-hati, Dudley menyelipkan amplop itu ke dalam celana
besarnya. Permukaan amplop yang kasar terasa gatal di bokongnya.
“Ada
surat lagi! Mr H. Potter, Kamar Paling Kecil, Privet Drive nomor 4-”
Belum
selesai Dudley berteriak, terdengar kerusuhan di dapur. Dengan cengiran lebar,
Dudley mengangkat surat itu tinggi-tinggi di atas kepalanya. Ayahnya kini sudah
tampak di ujung lorong, dengan Harry Potter yang berusaha menyelip dengan percuma
karena tubuh gemuk Mr Dursley sudah memenuhi lorong sempit itu.
Mr
Dursley langsung memiting Dudley ke lantai untuk merebut surat itu. Dudley
meraung kaget dan berusaha bangkit berdiri. Tanpa perlu dipaksa, toh ia akan
menyerahkan surat itu dengan sukarela. Namun Mr Dursley tampaknya tak mengerti,
karena ia masih saja berusaha menjatuhkan Dudley ke bawah. Harry Potter juga
ikut masuk dalam pergulatan ini. Tubuhnya berayun-ayun pada leher Mr Dursley.
Dengan marah, Dudley berusaha memukul Harry dengan tongkat Smeltingsnya. Namun,
karena tidak bisa melihat dengan jelas, dengan bodoh Dudley mengayun-ayunkan
tongkat itu tanpa arah dan menghantam mereka bertiga.
Dengan
satu sentakan keras, Mr Dursley berhasil berdiri dengan surat terangkat
tinggi-tinggi di atas kepalanya. Tingkahnya mirip sekali dengan Dudley.
“Kembali
ke lemarimu-
maksudku, kamarmu.” Kata Mr Dursley kepada Harry.
“Dudley
pergi… pergi.” Ayahnya berbalik menatap Dudley.
Wajahnya memerah karena marah dan pukulan tongkat. Tanpa membantah, Dudley dan
Harry beranjak pergi.
Harry
kembali naik ke kamar barunya- yang
juga kamar kedua Dudley. Kamar itu direbut darinya karena surat sialan itu.
Karena teringat surat itu, Dudley tiba-tiba mengubah arahnya kembali ke pintu
depan, tempat ayahnya masih berdiri dengan wajah merah padam.
“Dudley… Sudah
kubilang pergi!” Raung ayahnya.
Dudley
merengut sambil mengayun-ayunkan tongkat Smeltingsnya dengan mengancam.
“Aku
mau pergi, Dad!” Ujarnya sambil menunjuk pintu depan.
Ayahnya
ganti menatap Dudley dan pintu depan seolah terkejut anaknya salah mengartikan
perintahnya.
“Tidak..tidak
Dudley. Aku tidak bermaksud mengusirmu-” kata Paman Vernon bodoh.
Dudley
mengernyit. “Dad sakit ya?”
Dudley
mendekati ayahnya dengan ngeri. Apakah ia memukul ayahnya terlalu keras tadi?
“Jangan
pergi, Pompkin. Kumohon-” isak
ayahnya. Matanya sudah dibanjiri air mata.
“Aku
hanya ingin main ke taman, Dad.” Balas Dudley bingung.
Mr
Dursley berhenti menangis. Senyum merekah membelah kumis lebatnya. Ia
mengangguk antusias sambil menepuk punggung Dudley.
“Pintar,
Dudley! Tak usah terburu-buru pulang. Bermainlah sepuasmu.”
Dengan
tawa menggelegar, Mr Dursley kembali ke ruang keluarga- meninggalkan Dudley sendiri dengan
amplop berat dalam celananya.
***
Matahari
baru saja beranjak ke atas. Dudley berjalan langsung menuju taman bermain yang
terletak di Magnolia Road, agak jauh dari Privet Drive. Tapi itulah yang
dibutuhkan Dudley, tempat yang jauh dimana ia bisa sendirian membaca isi surat
aneh itu.
Taman
bermain dipenuhi anak-anak yang jauh lebih kecil dari Dudley. Dengan mata menyipit,
Dudley mencari tempat kosong yang teduh supaya ia bisa membaca surat itu dengan
nyaman. Akhirnya Dudley bergelung di balik drum bekas yang diletakkan di bawah
pohon yang Dudley tidak tahu namanya.
Dudley
merobek amplop itu dan matanya langsung mengernyit menatap tulisan anggun yang
sangat susah dibaca olehnya.
SEKOLAH SIHIR HOGWARTS
Kepala Sekolah : Albus Percival
Wulfric Brian Dumbledore
(Order
of Merlin, Kelas Pertama, Penyihir Hebat, Kepala Penyihir Konfederasi Sihir
Internasional)
Mr Potter yang baik,
Dengan gembira kami mengabarkan
bahwa kami menyediakan tempat untuk Anda di Sekolah Sihir Hogwarts. Terlampir
daftar semua buku dan peralatan yang dibutuhkan.
Tahun ajaran baru mulai 1
September. Kami menunggu burung hantu anda paling lambat 31 Juli.
Hormat saya,
Minerva McGonagall
Wakil Kepala Sekolah
Butuh
setengah jam penuh bagi Dudley untuk menyelesaikan membaca surat itu. Dudley tidak
terbiasa berpikir, dan berpikir membuatnya tampak bodoh. Dudley menghabiskan
setengah jam lagi untuk memikirkan kata-kata sekolah sihir. Apa ini lelucon?
“Mr
H. Potter?”
Suara
itu membuat Dudley melonjak kaget dan membuat drum kosong itu terguling. Seorang
gadis kecil- sangat
kecil sehingga terlihat seperti Harry- duduk di tempat yang diduduki
Dudley tadi. Rambutnya lurus dan hitam dengan poni rata. Wajahnya tampak pucat
dan tak berwarna. Namun ketika menatap Dudley, senyumnya manis.
“Kau
Harry Potter?” tanya gadis kecil itu.
Dudley
hanya melongo bodoh. Dia tidak pernah berbicara dengan perempuan, kecuali
ibunya. Tidak juga dengan teman-teman perempuannya di sekolah.
Gadis
itu melambaikan surat di hadapan Dudley. Wajahnya masih menampakkan senyum.
“Apa
kau Harry Potter? Kau sudah menerima suratnya?” tanya gadis itu lagi.
Dudley
menggeleng samar. “Bukan… Aku
bukan Harry Potter.” Jawabnya.
Tampak
kerutan di dahi gadis itu. “Lalu kenapa kau membuka suratnya?” Suara gadis
itu terdengar tidak senang sekarang.
“Dan
kenapa kau berdiri saja?” Tuntut gadis itu.
Walau
marah, entah kenapa gadis itu masih terlihat manis sekali.
Dudley
mengangguk patuh seperti robot. Ia duduk di atas drum yang sudah terguling itu, tepat di samping si gadis.
“Kau siapa?” Akhirnya ia bisa bersuara.
“Aku
Eleanor Snape.” Jawabnya. “Dan kau?”
“Dudley
Dursley.” Jawab Dudley gugup.
“Oh… Aku
mengerti sekarang. Kenapa keluargamu tidak memberikan surat itu pada Harry
Potter?” tanya Eleanor.
“Dari
mana kau tahu Harry?”
Gadis
itu tertawa dan bunyinya seperti lonceng natal, dingin namun indah. Dudley tak
pernah berbicara dengan perempuan, dan ia masih berumur 11 tahun, namun ia
curiga bahwa ia sudah mulai menyukai Eleanor Snape untuk pertama kalinya.
“Siapa
yang tak mengenal Harry Potter?” balasnya.
Dudley
mengernyit tidak suka. “Semua teman sekolahku tak ada yang mengenal Harry
Potter. Dia hanya anak aneh dan tak punya orang tua. Seharusnya kau tak usah
dekat-dekat dengannya.” Sembur Dudley.
Eleanor
mengangkat sebelah alisnya. “Benarkah?” tanyanya skeptis.
Namun
sebelum Dudley membuka mulut, Eleanor sudah menyelanya.
“Menurutku
justru semua orang pasti mengenal
Harry Potter. Hanya orang-orang aneh yang tidak. Apakah kau tidak pernah mendengar
kisah Harry Potter?” ujar Eleanor. Kemudian ia langsung menepuk jidatnya
sendiri. “Astaga. Kau kan muggle.” Lanjutnya.
“Muggle?”
“Orang
yang bukan penyihir.”
Mulut
Dudley melongo semakin lebar. Wajahnya berkerut karena berpikir lagi. Penyihir?
Semua ini nyata atau omong kosong?
“Kau…
bohong.” Kata Dudley. Orang bodoh manapun pasti tahu bahwa tak ada yang namanya
sihir. Dan Dudley adalah orang bodoh. Jadi, sudah jelas ia tahu kalau sihir itu
tidak ada. Hati Dudley melengos membayangkan gadis di depannya ini sama anehnya
dengan sepupunya itu. Bagaimana bisa?
“Tidak.
Aku tidak bohong.” Jawab Eleanor ringan.
“Aku
datang ke sini, ke Privet Drive, bersama pamanku untuk mencari tahu kenapa
Harry Potter tidak juga menerima suratnya. Kupikir aku tahu sekarang.”
“Itu
semua omong kosong. Surat itu bohong. Dan sepupuku itu orang yang sangat aneh.”
Ujar Dudley membela diri. “Mom dan Dad bilang ini semua omong kosong!” teriak
Dudley.
Eleanor
sama sekali tidak gentar melihat Dudley mengamuk. Karena kali ini tongkat
Smeltings Dudley tergeletak di tanah- terabaikan. Mengingat Dudley tak
pernah meninggalkan tongkat Smelthingsnya kapanpun ia kesal, well ini terlihat
sangat aneh. Eleanor tersenyum.
“Itu
semua benar. Orang tuamu yang berbohong. Harry Potter adalah penyihir, dan kau
adalah muggle.” Kata Eleanor.
Dudley
merengut hingga wajahnya berubah menjadi merah. “Dan kau penyihir juga?”
Kini
Dudley benar-benar kesal. Bagaimana mungkin sepupunya itu bisa satu sekolah
dengan Eleanor? Tidak bisa. Dudley adalah orang pertama yang menemukan Eleanor.
Eleanor miliknya.
“Ya.
Tentu saja. Begitu juga paman dan bibimu- orang tua Harry Potter.”
“Kau
aneh.” Sahut Dudley tanpa berpikir.
Kali
ini wajah Eleanor berubah keruh. Dudley jarang sekali merasa bersalah, tapi
kali ini ia tahu ia telah melakukan kesalahan dengan berkata kasar pada Eleanor.
Gadis itu sama sekali tidak menangis. Hanya menunduk dengan wajah sedih.
“Maaf…”
Bahkan kata-kata itu terasa aneh di mulut Dudley.
“Tidak
masalah.” Jawab Eleanor setelah terdiam cukup lama. “Memang sangat aneh kan
kalau penyihir tidak bisa melakukan sihir.”
“Apa?”
“Aku
penyihir, tapi aku tidak bisa melakukan sihir. Aku squib, Dudley.”
Dudley
tidak mau repot-repot memikirkan apa itu “squib”. Dengan bersemangat, ia
bertanya. “Sekolah Sihir Hogwarts…” ujarnya.
“Ya?”
“Kalau
kau tidak bisa melakukan sihir, berarti kau tidak pergi ke sekolah itu juga
kan?”
Eleanor
mengangguk lesu. “Tidak. Aku tidak bisa pergi ke sana.”
Rasanya
Dudley ingin meloncat karena senang. Namun melihat kesedihan di wajah Eleanor,
Dudley mengurungkan niatnya. Ia berusaha berbicara dengan nada semenenangkan
mungkin.
“Tidak
masalah. Kau bisa masuk ke Smelthings seperti aku. Aku akan menjadi temanmu.”
Kata Dudley ceria.
Eleanor
menatapnya bingung. “Sekolah muggle?”
Dan
Dudley yang sudah lupa sama sekali apa itu muggle, kembali menatap Eleanor
bingung.
“Elie…” Suara
itu terdengar dingin di tengah musim panas. Dan tak jauh dari sana berdirilah
sosok pria dewasa dengan pasangan baju paling tidak sepadan yang pernah dilihat Dudley. Celana panjangnya sudah
begitu lusuh dan ia mengenakan sweater rajut di tengah musim panas- yang benar saja! Sementara itu,
rambutnya yang sehitam Eleanor, hanya saja tampak berminyak dan lengket,
terbelah membuka seperti tirai di wajahnya yang datar. Dudley bergidik.
“Aku
harus pergi, Dudley. Pamanku sudah menjemput.”
“Apa?”
tanya Dudley bodoh.
Namun
Eleanor sudah melangkah cepat ke arah pamannya yang sudah menunggu. Dudley
hanya bisa terpana menatapnya. Dan tepat setelah itu, Eleanor beserta pamannya
menghilang disertai bunyi “pop” pelan.
***
Sudah
lima hari semenjak Dudley bertemu dengan Eleanor. Dan selama itu pula Dudley
mengunci mulutnya rapat-rapat. Ia tidak menceritakan pada siapapun tentang
Eleanor dan sepupunya, Harry, yang ternyata adalah penyihir. Surat dari sekolah
sihir itu sudah terkubur dalam-dalam di dalam tanah taman bermain.
Sebisa
mungkin Dudley mengabaikan keanehan yang terus muncul setelah itu. Surat yang
terus menerus datang dan memenuhi rumahnya selama lima hari berturut-turut. Hingga
pada hari Minggu pagi ayahnya memutuskan untuk meninggalkan rumah mereka yang
nyaman di Privet Drive.
Dudley
menangis meraung-raung. Ia berdalih bahwa ia harus menonton acara TV
kesukaannya dan memainkan game komputernya. Namun yang Dudley inginkan
sebenarnya adalah bertemu Eleanor lagi. Dan kalau mereka meninggalkan Privet
Drive, bagaimana kalau Eleanor datang nanti?
Dudley
terpaksa masuk ke mobil setelah dipukul kepalanya oleh Mr Dursley. Sepanjang
jalan ia terus menangis. Ia tidak ingin meninggalkan Privet Drive. Dan ia
lapar, sangat lapar. Tidak pernah ia selapar ini seumur hidupnya.
Mereka
menginap di sebuah hotel jelek dan hanya makan cornflake melempem sebagai
sarapan. Dudley menangis lagi. Siang harinya mereka terpaksa pergi, karena surat aneh itu berhasil menemukan mereka!
Mereka
terus bermobil berputar-putar hingga akhirnya Mr Dursley memarkirkan mobilnya
di tepi pantai. Mr Dursley kemudian keluar dan mengunci yang lainnya di dalam
mobil.
Hujan
mulai turun dan dengan cepat menjadi deras. Tak lama setelah itu Mr Dursley
kembali sambil membawa bungkusan panjang dan sebuah bungkusan yang lebih kecil.
Mr Dursley membawa mereka ke tepi laut di mana seorang nelayan tua dan perahu
yang sama tuanya sudah menunggu mereka.
“Mom,
kita mau ke mana?” rengek Dudley.
Dudley
sama sekali tidak bisa berenang. Dan mengingat bobot tubuhnya, Dudley selalu
sukses tenggelam dengan cepat. Mrs Dursley membelai anaknya untuk menenangkan.
Sementara itu Harry Potter hanya bergeming terus. Pikirannya tampak berkelana
ke tempat lain. Semua ini gara-gara dia,
batin Dudley kesal.
Angin
laut yang amat dingin terasa menampar wajah Dudley. Ia menutup mata selama yang
dibutuhkan. Setelah entah berapa jam, akhirnya perahu itu menepi ke sebuah batu
karang besar yang diatasnya terdapat bangunan reyot yang sangat jelek. Dudley
merengek lagi dan minta pulang.
“Ayo..ayo
cepat!” Seru Mr Dursley.
Dengan
bersusah payah, ketiga Dursley dan Harry Potter berjalan mendaki menuju gubuk
reyot. Di dalam sana, Mr Dursley mengeluarkan perbekalan yang ia beli tadi.
Sebungkus kripik dan empat pisang untuk masing-masing dari mereka. Dudley
meraung lagi. Ia pasti mati sekarang.
Malam
hari turun dengan cepat. Badai yang sudah diramalkan kedatangannya mulai
menampakkan wujudnya. Rumah itu hanya memiliki satu kamar di lantai atas untuk
Mr dan Mrs Dursley tidur. Dudley dan Harry berbagi ruang di lantai bawah.
Dudley tidur di atas sofa reyot yang sama sekali tidak nyaman. Dan karena tidak
ada tempat, sepupunya berbaring meringkuk di bawah dengan selapis selimut
gombal.
Karena
kelelahan, Dudley tertidur dengan cepat. Malam itu, mimpi membawanya bertemu
dengan Eleanor lagi. Dalam mimpinya Eleanor masih terlihat cantik. Dan betapa
bahagianya Dudley ketika Eleanor memberitahunya bahwa ia juga akan masuk ke
Smeltings. Dan tak lama setelah itu, paman Eleanor muncul. Wajahnya tak tampak
menyeramkan lagi. Pamannya tersenyum manis dan melambai juga pada Dudley. Kemudian
mereka menghilang dengan bunyi “BUM” keras.
Tunggu
dulu! Di tengah mimpi, Dudley berusaha berpikir dan mengingat kembali pertemuannya
dengan Eleanor di dunia nyata. Eleanor tidak tertarik masuk ke Smeltings.
Pamannya terlihat menyeramkan dan galak. Dan mereka menghilang dengan bunyi
“pop” pelan seperti pop corn yang sedang meletup.
Dan
bunyi itu datang lagi. BUM! BUM! BUM!
Dengan
terlonjak, Dudley terbangun kaget. Mereka diserang! Sudah pasti sekarang mereka
dikepung. Dan meriam besar sudah diarahkan ke pintu gubuk itu untuk
menghancurkan mereka semua. Mereka akan mati.
Mr
dan Mrs Dursley turun tergopoh-gopoh ke lantai bawah. Di tangan Mr Dursley
tergenggam senapan panjang. Mr Dursley berteriak. “Siapa itu? Kuperingatkan
kau, aku bersenjata!” raungnya.
Seisi
ruangan itu tampak sunyi sesaat. Hanya terdengar gemuruh ombak dan suara badai
yang menggetarkan seisi gubuk. Lalu gebrakan keras membuat mereka semua
terlonjak. Pintu depan telah dihantam dan jatuh tanpa daya ke lantai.
Dan
di sana berdiri seorang raksasa-
raksasa sungguhan- dengan
rambut dan berewok yang menyeramkan. Wajahnya tersembunyi di balik
rambut-rambut itu. Hanya sepasang mata kecil yang hitam muncul di sana.
Ketiga
Dursley menjerit keras.
Raksasa
itu menjejalkan diri ke dalam gubuk. Setelah itu, dia memungut pintu yang
tergelatak di lantai dan memasangkannya kembali pada engselnya. Mata hitam itu
menatap mereka semua.
“Bisa
bikinkan teh, kan? Tidak gampang datang ke sini…”
Raksasa
itu kini melangkah lurus ke arah Dudley. Dudley melongo bodoh karena ngeri.
“Minggir
kau, karung besar!” Perintah raksasa itu.
Dudley
meloncat berdiri dan bersembunyi di balik Mrs Dursley. Tiba-tiba ia ingin
sekali pipis. Bisa dirasakan, tubuh ibunya juga gemetar. Begitu juga ayahnya.
Namun dengan gagah, ayahnya masih bertahan di depan dengan senjata teracung.
Kini
raksasa itu menatap langsung Harry Potter. Dudley setengah berharap semoga
daging Harry cukup untuk membuat raksasa itu kenyang. Namun anehnya, tatapan
raksasa itu malah terlihat lembut, bahkan raksasa itu tampak bahagia melihat
Harry.
“Terakhir
kali aku melihatmu, kau masih bayi.” Ujar raksasa itu. Lalu dengan bisikan yang
sarat kekaguman raksasa itu berkata, “Kau mirip sekali ayahmu. Namun matamu,
mata ibumu.”
Sekarang
Mr Dursley berusaha berbicara, suaranya terdengar sangat aneh.
“Saya
minta anda segera pergi, Sir! Anda menjebol pintu dan masuk tanpa izin.” Kata
Mr Dursley.
Raksasa
itu mendelik kesal, dan sekujur tubuh Dudley tambah gemetaran.
“Ah,
tutup mulut, Dursley, jangan sok!” raung si raksasa. Dengan tangan besarnya,
raksasa itu merebut senapan Mr Dursley dan membengkokkannya dengan mudah.
Dudley melengos menatap senapan yang tampak menyedihkan yang kini sudah
dilemparkan si raksasa ke sudut ruangan.
Raksasa
itu berpaling lagi pada Harry dan mengucapkan sesuatu yang kedengarannya
seperti selamat ulang tahun. Dudley bahkan tak ingat bahwa sekarang adalah
ulang tahun sepupunya. Ia sekarang sudah benar-benar sibuk memperhatikan kotak
besar yang tampak harum. Sepertinya berisi kue. Cacing-cacing di perut Dudley
berdemo meminta asupan layak itu. Dudley menelan ludah.
“Siapa
kau?” Akhirnya Harry berbicara.
Raksasa
itu tertawa keras sekali, namun yang diperhatikan Dudley hanya kotak yang sudah
dibuka oleh sepupunya itu. Harum kue memenuhi gubuk kecil. Membuat air liur
Dudley menetes.
“Betul,
aku belum perkenalkan diri. Rubeus Hagrid, pemegang kunci dan pengawas binatang
liar di Hogwarts.”
Ah,
kata-kata itu memaksa Dudley mengalihkan pandang dari kue lezat itu. Ia ingat
bahwa Hogwarts adalah nama sekolah sihir yang diceritakan Eleanor. Sekolah
sihir tempat sepupunya akan bersekolah nanti.
Kini
raksasa itu bangkit dan menjabat tangan Harry keras-keras. Ia kembali
mengingatkan keluarga Dursley soal permintaan teh hangatnya. Namun, karena
ketiga Dursley hanya bergeming, raksasa itu memutar bola matanya dan membungkuk
ke arah perapian. Dan saat itu, Dudley tahu ia baru saja melihat sihir.
Sihir
itu nyata!
Perapian
yang sebelumnya tampak hangus menyedihkan, kini dipenuhi nyala api yang
berderak-derak. Kehangatannya memenuhi seisi gubuk sempit itu. Tidak hanya itu.
Setelah kembali duduk, si raksasa mengeluarkan ceret tembaga, satu pak sosis,
tusukan panjang, cangkir-cangkir yang sudah bopak, serta cairan kuning
kecoklatan yang Dudley tidak tahu namanya.
Si
raksasa menenggaknya banyak sekali, sebelum akhirnya menunduk dan mulai
menyiapkan makanan. Seisi pondok kini dipenuhi aroma sosis panggang yang lezat.
Dudley tidak bisa menahan air liurnya yang semakin menderas. Ia sudah selangkah
untuk meminta sosis itu sebelum ayahnya berkata, “Jangan sentuh apapun yang
diberikannya padamu, Dudley!”
Dudley
menatap ayahnya dengan marah. Apakah ayahnya benar-benar ingin membunuhnya?
Raksasa
itu tertawa, “Anakmu yang sudah sebulat bola tak perlu dibulatkan lagi,
Dursley.”
Raksasa itu menyerahkan sosis panggang pada Harry. Dan sementara Harry
makan, mereka berdua- Harry dan
si raksasa- tampak
terlibat pembicaraan serius. Namun Dudley sama sekali tak berminat
memperhatikan. Matanya terus terpaku pada kue ulang tahun cokelat besar itu, dan
sosis di piring Harry.
Pembicaraan
terus berlanjut dan semakin lama semakin menegangkan. Sesekali Mr atau Mrs
Dursley menyela dan menjawab pertanyaan si raksasa. Namun Dudley tak pernah
berniat mengikuti perbincangan mereka yang membosankan. Yang ia pedulikan hanya
makanan yang tak bisa ia makan. Menyedihkan.
Raungan
itu yang berhasil menarik Dudley kembali pada perdebatan yang semakin
memanas.
“JANGAN
BERANI-BERANI…” gelegar raksasa itu. “HINA ALBUS
DUMBELDORE… DI DEPANKU!”
Dudley
menatap ngeri payung merah jambu yang selalu dibawa raksasa itu. Dengan satu
lambaian, muncul sinar ungu yang mengarah langsung ke Dudley. Saat itu juga
Dudley merasakan sensasi yang amat panas di pantatnya. Sensasi itu
bergulung-gulung hampir lima detik penuh. Lalu rasa panas itu digantikan
perasaan geli yang amat sangat, seakan sebagian daging Dudley ditarik-tarik
keluar. Dudley melompat-lompat di tempat sambil memegang pantat besarnya.
Lalu
setelah semua sensasi itu lenyap, seisi gubuk dipenuhi jeritan ketiga Dursley.
Ekor babi yang melingkar telah memanjang keluar menembus celana tidur Dudley. Dudley
meraung lagi. Bagaimana bisa ada ekor babi di pantatnya?
Dan
detik itu juga Dudley yakin seyakin-yakinnya.
Sihir
itu nyata.
***
Cover Chapter 2 by Theresia Lydiana :)

No comments:
Post a Comment