Friday, June 14

Fanfic : Harry Potter Series (Chapter 2)

Sihir itu Nyata
Rabu pagi ini berjalan nyaris sama anehnya dengan pagi-pagi lain semenjak surat aneh itu tiba. Bahkan jauh lebih aneh lagi ketika Vernon Dursley menyuruh anaknya untuk mengambil surat di keset pintu depan. Dengan marah, Dudley Dursley, yang tampangnya memang sudah seperti babi baby, berjalan sambil memukul-mukulkan tongkat Smeltingsnya sambil mengamuk. Kali ini dia justru terlihat seperti banteng gila versi babi baby.
Suara ayunan tongkat Smeltings ke dinding bergema di sepanjang lorong. Bisa-bisanya ayahnya menyiksa Dudley seperti ini hanya karena surat. Surat aneh untuk sepupu anehnya. Surat aneh! Nah, kata-kata itu berhasil menggerakkan syaraf-syaraf otak Dudley yang selama ini mati suri. Siapa yang mengambil dia yang memiliki! Surat itu bukan lagi milik sepupunya, tapi miliknya.
Dengan semangat yang nyaris membabi buta- segala sesuatu yang berhubungan dengan Dudley selalu berkaitan dengan babi- Dudley berlari di sepanjang lorong. Tongkat Smeltingsnya lagi-lagi memantul di dinding dengan bunyi keras. Akhirnya Dudley yang tak pernah terbiasa berolahraga, apalagi berlari, sampai di keset ruang depan.
Sekilas Dudley melihat setumpuk surat. Tapi setelah diambilnya, hanya ada dua amplop di sana. Keduanya sama-sama ditujukan untuk sepupunya itu. Amplop  itu benar-benar aneh. Warnanya kuning seperti gigi dan terasa berat. Tulisannya terlihat rumit dan susah dibaca- orang normal menyebutnya elegan- dan ada lambang huruf “H” besar yang dikelilingi empat binatang yang Dudley lupa namanya.
Dudley sebetulnya sudah menarik nafas dalam-dalam untuk berteriak memanggil ayahnya, sebelum ia berubah pikiran. Pandangannya kembali pada dua amplop tebal di tangannya itu. Dahinya mengerut karena berpikir- sesuatu yang jarang dilakukannya. Akhirnya Dudley memutuskan untuk menyimpan satu amplop itu untuk dirinya sendiri. Dengan hati-hati, Dudley menyelipkan amplop itu ke dalam celana besarnya. Permukaan amplop yang kasar terasa gatal di bokongnya.
            “Ada surat lagi! Mr H. Potter, Kamar Paling Kecil, Privet Drive nomor 4-
Belum selesai Dudley berteriak, terdengar kerusuhan di dapur. Dengan cengiran lebar, Dudley mengangkat surat itu tinggi-tinggi di atas kepalanya. Ayahnya kini sudah tampak di ujung lorong, dengan Harry Potter yang berusaha menyelip dengan percuma karena tubuh gemuk Mr Dursley sudah memenuhi lorong sempit itu.
Mr Dursley langsung memiting Dudley ke lantai untuk merebut surat itu. Dudley meraung kaget dan berusaha bangkit berdiri. Tanpa perlu dipaksa, toh ia akan menyerahkan surat itu dengan sukarela. Namun Mr Dursley tampaknya tak mengerti, karena ia masih saja berusaha menjatuhkan Dudley ke bawah. Harry Potter juga ikut masuk dalam pergulatan ini. Tubuhnya berayun-ayun pada leher Mr Dursley. Dengan marah, Dudley berusaha memukul Harry dengan tongkat Smeltingsnya. Namun, karena tidak bisa melihat dengan jelas, dengan bodoh Dudley mengayun-ayunkan tongkat itu tanpa arah dan menghantam mereka bertiga.
Dengan satu sentakan keras, Mr Dursley berhasil berdiri dengan surat terangkat tinggi-tinggi di atas kepalanya. Tingkahnya mirip sekali dengan Dudley.
“Kembali ke lemarimu- maksudku, kamarmu.” Kata Mr Dursley kepada Harry.
“Dudley pergi pergi.” Ayahnya berbalik menatap Dudley. Wajahnya memerah karena marah dan pukulan tongkat. Tanpa membantah, Dudley dan Harry beranjak pergi.
Harry kembali naik ke kamar barunya- yang juga kamar kedua Dudley. Kamar itu direbut darinya karena surat sialan itu. Karena teringat surat itu, Dudley tiba-tiba mengubah arahnya kembali ke pintu depan, tempat ayahnya masih berdiri dengan wajah merah padam.
“Dudley Sudah kubilang pergi!” Raung ayahnya.
Dudley merengut sambil mengayun-ayunkan tongkat Smeltingsnya dengan mengancam.
“Aku mau pergi, Dad!” Ujarnya sambil menunjuk pintu depan.
Ayahnya ganti menatap Dudley dan pintu depan seolah terkejut anaknya salah mengartikan perintahnya.
“Tidak..tidak Dudley. Aku tidak bermaksud mengusirmu-” kata Paman Vernon bodoh.
Dudley mengernyit. “Dad sakit ya?”
Dudley mendekati ayahnya dengan ngeri. Apakah ia memukul ayahnya terlalu keras tadi?
“Jangan pergi, Pompkin. Kumohon-” isak ayahnya. Matanya sudah dibanjiri air mata.
“Aku hanya ingin main ke taman, Dad.” Balas Dudley bingung.
Mr Dursley berhenti menangis. Senyum merekah membelah kumis lebatnya. Ia mengangguk antusias sambil menepuk punggung Dudley.
“Pintar, Dudley! Tak usah terburu-buru pulang. Bermainlah sepuasmu.”
Dengan tawa menggelegar, Mr Dursley kembali ke ruang keluarga- meninggalkan Dudley sendiri dengan amplop berat dalam celananya.
***
Matahari baru saja beranjak ke atas. Dudley berjalan langsung menuju taman bermain yang terletak di Magnolia Road, agak jauh dari Privet Drive. Tapi itulah yang dibutuhkan Dudley, tempat yang jauh dimana ia bisa sendirian membaca isi surat aneh itu.
Taman bermain dipenuhi anak-anak yang jauh lebih kecil dari Dudley. Dengan mata menyipit, Dudley mencari tempat kosong yang teduh supaya ia bisa membaca surat itu dengan nyaman. Akhirnya Dudley bergelung di balik drum bekas yang diletakkan di bawah pohon yang Dudley tidak tahu namanya.
Dudley merobek amplop itu dan matanya langsung mengernyit menatap tulisan anggun yang sangat susah dibaca olehnya.
SEKOLAH SIHIR HOGWARTS
Kepala Sekolah : Albus Percival Wulfric Brian Dumbledore
(Order of Merlin, Kelas Pertama, Penyihir Hebat, Kepala Penyihir Konfederasi Sihir Internasional)

Mr Potter yang baik,
Dengan gembira kami mengabarkan bahwa kami menyediakan tempat untuk Anda di Sekolah Sihir Hogwarts. Terlampir daftar semua buku dan peralatan yang dibutuhkan.
Tahun ajaran baru mulai 1 September. Kami menunggu burung hantu anda paling lambat 31 Juli.

Hormat saya,
Minerva McGonagall
Wakil Kepala Sekolah
Butuh setengah jam penuh bagi Dudley untuk menyelesaikan membaca surat itu. Dudley tidak terbiasa berpikir, dan berpikir membuatnya tampak bodoh. Dudley menghabiskan setengah jam lagi untuk memikirkan kata-kata sekolah sihir. Apa ini lelucon?
“Mr H. Potter?”
Suara itu membuat Dudley melonjak kaget dan membuat drum kosong itu terguling. Seorang gadis kecil- sangat kecil sehingga terlihat seperti Harry- duduk di tempat yang diduduki Dudley tadi. Rambutnya lurus dan hitam dengan poni rata. Wajahnya tampak pucat dan tak berwarna. Namun ketika menatap Dudley, senyumnya manis.
“Kau Harry Potter?” tanya gadis kecil itu.
Dudley hanya melongo bodoh. Dia tidak pernah berbicara dengan perempuan, kecuali ibunya. Tidak juga dengan teman-teman perempuannya di sekolah.
Gadis itu melambaikan surat di hadapan Dudley. Wajahnya masih menampakkan senyum.
“Apa kau Harry Potter? Kau sudah menerima suratnya?” tanya gadis itu lagi.
Dudley menggeleng samar. “Bukan Aku bukan Harry Potter.” Jawabnya.
Tampak kerutan di dahi gadis itu. “Lalu kenapa kau membuka suratnya?” Suara gadis itu terdengar tidak senang sekarang.
“Dan kenapa kau berdiri saja?” Tuntut gadis itu.
Walau marah, entah kenapa gadis itu masih terlihat manis sekali.
Dudley mengangguk patuh seperti robot. Ia duduk di atas drum yang sudah terguling itu, tepat di samping si gadis. 
“Kau siapa?” Akhirnya ia bisa bersuara.
“Aku Eleanor Snape.” Jawabnya. “Dan kau?”
“Dudley Dursley.” Jawab Dudley gugup.
“Oh Aku mengerti sekarang. Kenapa keluargamu tidak memberikan surat itu pada Harry Potter?” tanya Eleanor.
“Dari mana kau tahu Harry?”
Gadis itu tertawa dan bunyinya seperti lonceng natal, dingin namun indah. Dudley tak pernah berbicara dengan perempuan, dan ia masih berumur 11 tahun, namun ia curiga bahwa ia sudah mulai menyukai Eleanor Snape untuk pertama kalinya.
“Siapa yang tak mengenal Harry Potter?” balasnya.
Dudley mengernyit tidak suka. “Semua teman sekolahku tak ada yang mengenal Harry Potter. Dia hanya anak aneh dan tak punya orang tua. Seharusnya kau tak usah dekat-dekat dengannya.” Sembur Dudley.
Eleanor mengangkat sebelah alisnya. “Benarkah?” tanyanya skeptis.
Namun sebelum Dudley membuka mulut, Eleanor sudah menyelanya.
“Menurutku justru semua orang pasti mengenal Harry Potter. Hanya orang-orang aneh yang tidak. Apakah kau tidak pernah mendengar kisah Harry Potter?” ujar Eleanor. Kemudian ia langsung menepuk jidatnya sendiri. “Astaga. Kau kan muggle.” Lanjutnya.
“Muggle?”
“Orang yang bukan penyihir.”
Mulut Dudley melongo semakin lebar. Wajahnya berkerut karena berpikir lagi. Penyihir? Semua ini nyata atau omong kosong?
“Kau bohong.” Kata Dudley. Orang bodoh manapun pasti tahu bahwa tak ada yang namanya sihir. Dan Dudley adalah orang bodoh. Jadi, sudah jelas ia tahu kalau sihir itu tidak ada. Hati Dudley melengos membayangkan gadis di depannya ini sama anehnya dengan sepupunya itu. Bagaimana bisa?
“Tidak. Aku tidak bohong.” Jawab Eleanor ringan.
“Aku datang ke sini, ke Privet Drive, bersama pamanku untuk mencari tahu kenapa Harry Potter tidak juga menerima suratnya. Kupikir aku tahu sekarang.”
“Itu semua omong kosong. Surat itu bohong. Dan sepupuku itu orang yang sangat aneh.” Ujar Dudley membela diri. “Mom dan Dad bilang ini semua omong kosong!” teriak Dudley.
Eleanor sama sekali tidak gentar melihat Dudley mengamuk. Karena kali ini tongkat Smeltings Dudley tergeletak di tanah- terabaikan. Mengingat Dudley tak pernah meninggalkan tongkat Smelthingsnya kapanpun ia kesal, well ini terlihat sangat aneh. Eleanor tersenyum.
“Itu semua benar. Orang tuamu yang berbohong. Harry Potter adalah penyihir, dan kau adalah muggle.” Kata Eleanor.
Dudley merengut hingga wajahnya berubah menjadi merah. “Dan kau penyihir juga?”
Kini Dudley benar-benar kesal. Bagaimana mungkin sepupunya itu bisa satu sekolah dengan Eleanor? Tidak bisa. Dudley adalah orang pertama yang menemukan Eleanor. Eleanor miliknya.
“Ya. Tentu saja. Begitu juga paman dan bibimu- orang tua Harry Potter.”
“Kau aneh.” Sahut Dudley tanpa berpikir.
Kali ini wajah Eleanor berubah keruh. Dudley jarang sekali merasa bersalah, tapi kali ini ia tahu ia telah melakukan kesalahan dengan berkata kasar pada Eleanor. Gadis itu sama sekali tidak menangis. Hanya menunduk dengan wajah sedih.
“Maaf” Bahkan kata-kata itu terasa aneh di mulut Dudley.
“Tidak masalah.” Jawab Eleanor setelah terdiam cukup lama. “Memang sangat aneh kan kalau penyihir tidak bisa melakukan sihir.”
“Apa?”
“Aku penyihir, tapi aku tidak bisa melakukan sihir. Aku squib, Dudley.”
Dudley tidak mau repot-repot memikirkan apa itu “squib”. Dengan bersemangat, ia bertanya. “Sekolah Sihir Hogwarts” ujarnya.
“Ya?”
“Kalau kau tidak bisa melakukan sihir, berarti kau tidak pergi ke sekolah itu juga kan?”
Eleanor mengangguk lesu. “Tidak. Aku tidak bisa pergi ke sana.”
Rasanya Dudley ingin meloncat karena senang. Namun melihat kesedihan di wajah Eleanor, Dudley mengurungkan niatnya. Ia berusaha berbicara dengan nada semenenangkan mungkin.
“Tidak masalah. Kau bisa masuk ke Smelthings seperti aku. Aku akan menjadi temanmu.” Kata Dudley ceria.
Eleanor menatapnya bingung. “Sekolah muggle?”
Dan Dudley yang sudah lupa sama sekali apa itu muggle, kembali menatap Eleanor bingung.
“Elie” Suara itu terdengar dingin di tengah musim panas. Dan tak jauh dari sana berdirilah sosok pria dewasa dengan pasangan baju paling tidak sepadan yang pernah dilihat Dudley. Celana panjangnya sudah begitu lusuh dan ia mengenakan sweater rajut di tengah musim panas- yang benar saja! Sementara itu, rambutnya yang sehitam Eleanor, hanya saja tampak berminyak dan lengket, terbelah membuka seperti tirai di wajahnya yang datar. Dudley bergidik.
“Aku harus pergi, Dudley. Pamanku sudah menjemput.”
“Apa?” tanya Dudley bodoh.
Namun Eleanor sudah melangkah cepat ke arah pamannya yang sudah menunggu. Dudley hanya bisa terpana menatapnya. Dan tepat setelah itu, Eleanor beserta pamannya menghilang disertai bunyi “pop” pelan.
***
Sudah lima hari semenjak Dudley bertemu dengan Eleanor. Dan selama itu pula Dudley mengunci mulutnya rapat-rapat. Ia tidak menceritakan pada siapapun tentang Eleanor dan sepupunya, Harry, yang ternyata adalah penyihir. Surat dari sekolah sihir itu sudah terkubur dalam-dalam di dalam tanah taman bermain.
Sebisa mungkin Dudley mengabaikan keanehan yang terus muncul setelah itu. Surat yang terus menerus datang dan memenuhi rumahnya selama lima hari berturut-turut. Hingga pada hari Minggu pagi ayahnya memutuskan untuk meninggalkan rumah mereka yang nyaman di Privet Drive.
Dudley menangis meraung-raung. Ia berdalih bahwa ia harus menonton acara TV kesukaannya dan memainkan game komputernya. Namun yang Dudley inginkan sebenarnya adalah bertemu Eleanor lagi. Dan kalau mereka meninggalkan Privet Drive, bagaimana kalau Eleanor datang nanti?
Dudley terpaksa masuk ke mobil setelah dipukul kepalanya oleh Mr Dursley. Sepanjang jalan ia terus menangis. Ia tidak ingin meninggalkan Privet Drive. Dan ia lapar, sangat lapar. Tidak pernah ia selapar ini seumur hidupnya.
Mereka menginap di sebuah hotel jelek dan hanya makan cornflake melempem sebagai sarapan. Dudley menangis lagi. Siang harinya mereka terpaksa pergi, karena surat aneh itu berhasil menemukan mereka!
Mereka terus bermobil berputar-putar hingga akhirnya Mr Dursley memarkirkan mobilnya di tepi pantai. Mr Dursley kemudian keluar dan mengunci yang lainnya di dalam mobil.
Hujan mulai turun dan dengan cepat menjadi deras. Tak lama setelah itu Mr Dursley kembali sambil membawa bungkusan panjang dan sebuah bungkusan yang lebih kecil. Mr Dursley membawa mereka ke tepi laut di mana seorang nelayan tua dan perahu yang sama tuanya sudah menunggu mereka.
“Mom, kita mau ke mana?” rengek Dudley.
Dudley sama sekali tidak bisa berenang. Dan mengingat bobot tubuhnya, Dudley selalu sukses tenggelam dengan cepat. Mrs Dursley membelai anaknya untuk menenangkan. Sementara itu Harry Potter hanya bergeming terus. Pikirannya tampak berkelana ke tempat lain. Semua ini gara-gara dia, batin Dudley kesal.
Angin laut yang amat dingin terasa menampar wajah Dudley. Ia menutup mata selama yang dibutuhkan. Setelah entah berapa jam, akhirnya perahu itu menepi ke sebuah batu karang besar yang diatasnya terdapat bangunan reyot yang sangat jelek. Dudley merengek lagi dan minta pulang.
“Ayo..ayo cepat!” Seru Mr Dursley.
Dengan bersusah payah, ketiga Dursley dan Harry Potter berjalan mendaki menuju gubuk reyot. Di dalam sana, Mr Dursley mengeluarkan perbekalan yang ia beli tadi. Sebungkus kripik dan empat pisang untuk masing-masing dari mereka. Dudley meraung lagi. Ia pasti mati sekarang.
Malam hari turun dengan cepat. Badai yang sudah diramalkan kedatangannya mulai menampakkan wujudnya. Rumah itu hanya memiliki satu kamar di lantai atas untuk Mr dan Mrs Dursley tidur. Dudley dan Harry berbagi ruang di lantai bawah. Dudley tidur di atas sofa reyot yang sama sekali tidak nyaman. Dan karena tidak ada tempat, sepupunya berbaring meringkuk di bawah dengan selapis selimut gombal.
Karena kelelahan, Dudley tertidur dengan cepat. Malam itu, mimpi membawanya bertemu dengan Eleanor lagi. Dalam mimpinya Eleanor masih terlihat cantik. Dan betapa bahagianya Dudley ketika Eleanor memberitahunya bahwa ia juga akan masuk ke Smeltings. Dan tak lama setelah itu, paman Eleanor muncul. Wajahnya tak tampak menyeramkan lagi. Pamannya tersenyum manis dan melambai juga pada Dudley. Kemudian mereka menghilang dengan bunyi “BUM” keras.
Tunggu dulu! Di tengah mimpi, Dudley berusaha berpikir dan mengingat kembali pertemuannya dengan Eleanor di dunia nyata. Eleanor tidak tertarik masuk ke Smeltings. Pamannya terlihat menyeramkan dan galak. Dan mereka menghilang dengan bunyi “pop” pelan seperti pop corn yang sedang meletup.
Dan bunyi itu datang lagi. BUM! BUM! BUM!
Dengan terlonjak, Dudley terbangun kaget. Mereka diserang! Sudah pasti sekarang mereka dikepung. Dan meriam besar sudah diarahkan ke pintu gubuk itu untuk menghancurkan mereka semua. Mereka akan mati.
Mr dan Mrs Dursley turun tergopoh-gopoh ke lantai bawah. Di tangan Mr Dursley tergenggam senapan panjang. Mr Dursley berteriak. “Siapa itu? Kuperingatkan kau, aku bersenjata!” raungnya.
Seisi ruangan itu tampak sunyi sesaat. Hanya terdengar gemuruh ombak dan suara badai yang menggetarkan seisi gubuk. Lalu gebrakan keras membuat mereka semua terlonjak. Pintu depan telah dihantam dan jatuh tanpa daya ke lantai.
Dan di sana berdiri seorang raksasa- raksasa sungguhan- dengan rambut dan berewok yang menyeramkan. Wajahnya tersembunyi di balik rambut-rambut itu. Hanya sepasang mata kecil yang hitam muncul di sana.
Ketiga Dursley menjerit keras.
Raksasa itu menjejalkan diri ke dalam gubuk. Setelah itu, dia memungut pintu yang tergelatak di lantai dan memasangkannya kembali pada engselnya. Mata hitam itu menatap mereka semua.
“Bisa bikinkan teh, kan? Tidak gampang datang ke sini
Raksasa itu kini melangkah lurus ke arah Dudley. Dudley melongo bodoh karena ngeri.
“Minggir kau, karung besar!” Perintah raksasa itu.
Dudley meloncat berdiri dan bersembunyi di balik Mrs Dursley. Tiba-tiba ia ingin sekali pipis. Bisa dirasakan, tubuh ibunya juga gemetar. Begitu juga ayahnya. Namun dengan gagah, ayahnya masih bertahan di depan dengan senjata teracung.
Kini raksasa itu menatap langsung Harry Potter. Dudley setengah berharap semoga daging Harry cukup untuk membuat raksasa itu kenyang. Namun anehnya, tatapan raksasa itu malah terlihat lembut, bahkan raksasa itu tampak bahagia melihat Harry.
“Terakhir kali aku melihatmu, kau masih bayi.” Ujar raksasa itu. Lalu dengan bisikan yang sarat kekaguman raksasa itu berkata, “Kau mirip sekali ayahmu. Namun matamu, mata ibumu.”
Sekarang Mr Dursley berusaha berbicara, suaranya terdengar sangat aneh.
“Saya minta anda segera pergi, Sir! Anda menjebol pintu dan masuk tanpa izin.” Kata Mr Dursley.
Raksasa itu mendelik kesal, dan sekujur tubuh Dudley tambah gemetaran.
“Ah, tutup mulut, Dursley, jangan sok!” raung si raksasa. Dengan tangan besarnya, raksasa itu merebut senapan Mr Dursley dan membengkokkannya dengan mudah. Dudley melengos menatap senapan yang tampak menyedihkan yang kini sudah dilemparkan si raksasa ke sudut ruangan.
Raksasa itu berpaling lagi pada Harry dan mengucapkan sesuatu yang kedengarannya seperti selamat ulang tahun. Dudley bahkan tak ingat bahwa sekarang adalah ulang tahun sepupunya. Ia sekarang sudah benar-benar sibuk memperhatikan kotak besar yang tampak harum. Sepertinya berisi kue. Cacing-cacing di perut Dudley berdemo meminta asupan layak itu. Dudley menelan ludah.
“Siapa kau?” Akhirnya Harry berbicara.
Raksasa itu tertawa keras sekali, namun yang diperhatikan Dudley hanya kotak yang sudah dibuka oleh sepupunya itu. Harum kue memenuhi gubuk kecil. Membuat air liur Dudley menetes.
“Betul, aku belum perkenalkan diri. Rubeus Hagrid, pemegang kunci dan pengawas binatang liar di Hogwarts.”
Ah, kata-kata itu memaksa Dudley mengalihkan pandang dari kue lezat itu. Ia ingat bahwa Hogwarts adalah nama sekolah sihir yang diceritakan Eleanor. Sekolah sihir tempat sepupunya akan bersekolah nanti.
Kini raksasa itu bangkit dan menjabat tangan Harry keras-keras. Ia kembali mengingatkan keluarga Dursley soal permintaan teh hangatnya. Namun, karena ketiga Dursley hanya bergeming, raksasa itu memutar bola matanya dan membungkuk ke arah perapian. Dan saat itu, Dudley tahu ia baru saja melihat sihir.
Sihir itu nyata!
Perapian yang sebelumnya tampak hangus menyedihkan, kini dipenuhi nyala api yang berderak-derak. Kehangatannya memenuhi seisi gubuk sempit itu. Tidak hanya itu. Setelah kembali duduk, si raksasa mengeluarkan ceret tembaga, satu pak sosis, tusukan panjang, cangkir-cangkir yang sudah bopak, serta cairan kuning kecoklatan yang Dudley tidak tahu namanya.
Si raksasa menenggaknya banyak sekali, sebelum akhirnya menunduk dan mulai menyiapkan makanan. Seisi pondok kini dipenuhi aroma sosis panggang yang lezat. Dudley tidak bisa menahan air liurnya yang semakin menderas. Ia sudah selangkah untuk meminta sosis itu sebelum ayahnya berkata, “Jangan sentuh apapun yang diberikannya padamu, Dudley!”
Dudley menatap ayahnya dengan marah. Apakah ayahnya benar-benar ingin membunuhnya?
Raksasa itu tertawa, “Anakmu yang sudah sebulat bola tak perlu dibulatkan lagi, Dursley.”
Raksasa itu menyerahkan sosis panggang pada Harry. Dan sementara Harry makan, mereka berdua- Harry dan si raksasa- tampak terlibat pembicaraan serius. Namun Dudley sama sekali tak berminat memperhatikan. Matanya terus terpaku pada kue ulang tahun cokelat besar itu, dan sosis di piring Harry.
Pembicaraan terus berlanjut dan semakin lama semakin menegangkan. Sesekali Mr atau Mrs Dursley menyela dan menjawab pertanyaan si raksasa. Namun Dudley tak pernah berniat mengikuti perbincangan mereka yang membosankan. Yang ia pedulikan hanya makanan yang tak bisa ia makan. Menyedihkan.
Raungan itu yang berhasil menarik Dudley kembali pada perdebatan yang semakin memanas.
“JANGAN BERANI-BERANI” gelegar raksasa itu. “HINA ALBUS DUMBELDORE DI DEPANKU!”
Dudley menatap ngeri payung merah jambu yang selalu dibawa raksasa itu. Dengan satu lambaian, muncul sinar ungu yang mengarah langsung ke Dudley. Saat itu juga Dudley merasakan sensasi yang amat panas di pantatnya. Sensasi itu bergulung-gulung hampir lima detik penuh. Lalu rasa panas itu digantikan perasaan geli yang amat sangat, seakan sebagian daging Dudley ditarik-tarik keluar. Dudley melompat-lompat di tempat sambil memegang pantat besarnya.
Lalu setelah semua sensasi itu lenyap, seisi gubuk dipenuhi jeritan ketiga Dursley. Ekor babi yang melingkar telah memanjang keluar menembus celana tidur Dudley. Dudley meraung lagi. Bagaimana bisa ada ekor babi di pantatnya?
Dan detik itu juga Dudley yakin seyakin-yakinnya.
Sihir itu nyata.
***


Cover Chapter 2 by Theresia Lydiana :)

No comments:

Post a Comment