Gonggongan Duka Padfoot
![]() |
| www.hp-lexicon.org |
Sirius
Black berapparate tepat di depan
pintu rumah Lupin. Ujung jubahnya yang panjang menyapu sekilas permukaan lantai
kayu yang berderit. Lupin membuka pintu bahkan sebelum Sirius mengetuknya.
Wajah Lupin tampak pucat. Bulan purnama belum lama lewat. Dan kali ini Lupin
harus menghadapinya sendirian. Dengan James yang terkurung di Godric Hallow dan
Sirius yang harus pergi jauh untuk urusan Orde. Peter yang terpaksa harus
bersembunyi juga setelah menggantikan posisi Sirius sebagai penjaga rahasia
keluarga Potter.
“Kau
tidak tampak baik, Remus.” Ujar Sirius sebagai sapaan.
Lupin
tersenyum kecut. “Kau tidak lebih baik daripada aku.” Balasnya.
Sirius
nyengir lebar. “Sepertinya James yang paling buruk. Terkurung di rumah
sepanjang hari.”
Dan
kedua laki-laki itu tertawa. “Kita harus mengunjunginya kapan-kapan.” Ujar
Lupin.
Sirius
mengangguk dan mereka melangkah masuk ke rumah Lupin. Ruang tamu tampak
berantakan. Di atas meja kayu berserak berlembar-lembar perkamen dengan bau
tinta yang masih menyengat. Sirius mengambil tempat di sofa berlengan
favoritnya. Lupin melambaikan tongkat dan sebotol whiski api melayang anggun
dan mendarat di atas bagian meja- yang
tidak tertutup perkamen.
“Proyek
baru lagi?” tanya Sirius sambil menyeruput whiski apinya. Ia selalu suka sensasi
ini- ketika
cairan itu terasa membakar ketika melewati kerongkongan, lalu turun dan member
efek kehangatan bahkan sampai ke ujung jemarinya.
“Kau
tahu, masih seminggu sebelum Dumbledore mengutusku ke tempat lain.” Jawab
Lupin.
Saat
itu terdengar bunyi paruh mengetuk lembut, namun terkesan tidak sabaran di
jendela kayu Lupin. Lupin sigap mengarahkan tongkatnya, tapi Sirius jauh lebih
cepat.
Sirius
bergumam, “Alohomora,”
Daun
jendela membuka dengan derit ringan. Burung hantu hitam legam terbang masuk dengan
anggun dan hinggap di bahu Sirius. Kedua mata yang sama hitamnya dengan mata
Sirius memandang tongkat Lupin dengan angkuh.
“Kau
mulai paranoid, Remus.” Sahut Sirius santai.
Lupin
hanya mengangkat bahu. “Kau akan jadi lebih paranoid, ketika separuh dari
komunitas yang kau lindungi, justru malah menyerang balik dan berusaha
mengguna-gunaimu ketika kau lengah.” Dengus Lupin. “Muggle jadi tampak lebih
manis dari bangsa kita.” lanjut Lupin getir.
Di
masa gelap seperti sekarang, makhluk-makhluk kegelapan sudah terang-terangan
menampakkan dirinya. Komunitas sihir pun jauh lebih waspada. Di mana-mana orang
tidak bisa saling percaya. Kekhawatiran, kecurigaan, desas-desus. Begitulah
cara Kau-Tahu-Siapa menyebar teror. Teman bisa menjadi lawan. Bagaimana bisa
kau mengharapkan posisi yang lebih baik, untuk manusia serigala berhati
baik sekalipun?
“Kau
membawa sesuatu untukku, Godwin?” tanya Sirius, dan si burung hantu hitam itu
ber-uhu pelan. Ia menyodorkan kedua
kakinya, di mana segulung perkamen yang lumayan tebal terikat rapi di sana.
Lupin
sudah kembali ke sisi lain meja dan tenggelam dalam perkamennya sendiri. Sirius
menyelonjorkan kakinya yang lelah dan mulai membuka gulungan itu.
Dear
Padfoot,
Terima
kasih banyak untuk hadiah ulang tahun Harry! Itu adalah hadiah favoritnya.
Masih berusia satu tahun tapi sudah terbang ke mana-mana dengan sapu terbang
mainanannya. Dia begitu senang memainkannya. Aku sertakan foto agar kau bisa
melihatnya sendiri.
Senyum
Sirus melebar dan membelai pelan kepala Godwin. “Kau baru berkunjung ke
keluarga Potter, eh?” gumamnya.
Lupin
menengok memandang Sirius. Tapi Sirius sedang sibuk memandangi foto bocah kecil
dengan rambut hitam berantakan menaiki sapu terbang dengan mata berbinar-binar.
Sepasang kaki yang pastinya milik James terlihat sangat sibuk menjaga jagoan
kecilnya. Tak pernah sekalipun terpikirkan olehnya, bahwa sahabat gilanya yang
satu itu bisa menjadi seperti sekarang. Pengasuh
bayi! Dan tampaknya James menikmati perannya itu.
Setelah
puas memandangi foto anak baptisnya, Sirius melemparkan foto itu kea rah Lupin
dan melanjutkan membaca surat Lily.
Kau tahu
kalau sapu itu hanya melayang satu meter di atas tanah, tapi Harry hampir
membunuh kucing kami, dan memecahkan vas mengerikan yang Petunia berikan
sebagai kado natal (tidak ada yang mengeluh). Tentu saja James menganggapnya
lucu. Selalu berkata bahwa Harry akan menjadi pemain Quidditch hebat. Tapi kami
harus menyimpan semua pajangan dan tidak boleh lengah saat mengawasi Harry di
atas sapu.
Sirius
memutar bola matanya. Yeah, Harry bisa menjadi pemain Quidditch hebat- asal tidak berkepala besar seperti
ayahnya dulu. Surat itu membawa kegembiraan tersendiri untuk Sirius. Sedikit
mengobati kerinduan akan sahabat-sahabatnya.
Kami
mengadakan pesta ulang tahun kecil. Hanya kami, dan Bathilda yang selalu baik
pada kami dan begitu menyayangi Harry. Sayang sekali kau tidak bisa datang,
tapi Orde lebih penting. Lagipula, Harry masih terlalu kecil untuk tahu ulang
tahunnya.
James
merasa sedikit tertekan harus bersembunyi di sini, walau dia berusaha
menyembunyikan perasaannya tapi aku tahu- apalagi Dumbledore masih
meminjam jubah gaibnya. Tak ada kesempatan untuknya berjalan-jalan. Jika kau
bisa mengunjungi kami, James pasti akan senang.
Wormy
datang minggu lalu. Dia kelihatan sedih. Mungkin karena berita McKinnon. Aku
sendiri menangis semalam begitu mendengar beritanya.
Sirius
menghela nafas. Ia merasa bersalah pada Peter karena meletakkan beban berbahaya
ini ke pundaknya. Meminta Peter menjadi penjaga rahasia keluarga Potter
merupakan harga yang sangat mahal. Dengan selusin pelahap maut yang
mencari-cari, bahkan dengan Kau-Tahu-Siapa sendiri yang sudah bertekad untuk
menemukan mereka- nyawa
Peter sama saja diletakkan di atas rahasia itu. Tapi Sirius tahu pasti, Peter
akan lebih tidak menimbulkan kecurigaan dan resiko dibanding dirinya. James dan
Lily pun sudah mempercayai Peter.
Bathilda
sering mengunjungi kami. Dia seorang wanita tua yang mengagumkan, yang selalu
bercerita betapa luar biasanya Dumbledore. Aku penasaran, apakah Dumbledore akan
senang kalau tahu. Jujur, aku tidak tahu harus percaya atau tidak. Karena
rasanya tidak dapat dipercaya kalau Dumbledore-
Sirius
meraih perkamen ke dua, dan meneruskan membaca surat Lily lagi.
berteman dengan Gellert Grindelwald. Kukira
dia sudah gila!
Penuh cinta,
Lily
Sirius
menghela nafas panjang. Lagi, Lupin memandang ke arahnya menuntuk informasi.
Sirius melemparkan surat tadi kepada Lupin. Lupin terdiam sesaat saat membaca
surat Lily. Sudut-sudut bibirnya menahan tawa- membayangkan James harus menjadi
pengasuh bayi. Setelah selesai Lupin meletakkan surat itu di atas meja lagi.
“Aku
harus mengunjungi Wormtail sepertinya.” Gumam Sirius.
Lupin
mengangguk. “Berita soal McKinnon benar-benar membuatnya terpukul. Kita semua
juga begitu.” Ucap Lupin sedih.
Hanya
sedikit orang yang tahu, bahwa penjaga rahasia keluarga Potter bukan lagi
Sirius, melainkan Peter Pettigrew. Hanya Sirius, James, Lily, dan Dumbledore.
Lupin memang lebih cakap dari Peter, tapi menurut Dumbledore, akan sangat
riskan jika menjadikan Lupin sebagai penjaga rahasia.
“Kau
masih punya sisa perkamen, Remus?” tanya Sirius.
Lupin
mengangguk dan mencari-cari perkamen kosong di atas meja. Lupin menyerahkan
perkamen itu. Sirius merosot ke lantai dan mulai menulis.
Dear Deer,
Sirius
mulai menulis surat balasan untuk Lily. Hampir dua puluh menit penuh ia
tertunduk di atas perkamen itu. Memenuhinya dengan berbagai cerita soal tugas
yang diberikan Dumbledore kemarin, menggoda James soal penjaga bayi,
memberitahukan rencananya mengunjugi Peter dan Godric Hallow untuk bertugas
menjadi penghibur sementara bagi James. Ia menitipkan salam sayang untuk Harry
dan harapan agar ia tidak menjadi pemain Quidditch dengan kepala besar seperti
ayahnya dulu. Sirius menggulung surat itu dan menyegelnya. Dengan lembut dia
ikatkan surat itu ke kaki Godwin.
“Antarkan
ke rumah keluarga Potter ya.” Bisik Sirius.
Godwin
ber-uhu lagi dan mematuk jari Sirius
dengan sayang. Sirius bangkit dan melepaskan Godwin terbang ke langit malam
yang hitam pekat. Sirius meraih mantel perjalanannya dan mengenakannya kembali.
“Kau
pergi sekarang?” tanya Lupin kaget.
“Setidaknya
aku harus memastikan Peter tidak mati ketakutan.” Canda Sirius.
Lupin
bangkit berdiri. “Aku setuju denganmu. Akhir-akhir ini keadaan tidak bertambah
baik.”
Sirius
tersenyum dan memberi Lupin pelukan singkat. “Aku akan mampir ke rumah James
juga. Mencegahnya berubah gila karena terkurung terus.”
Lupin
merengut. “Kau pikir aku tidak terkurung juga?” ujarnya datar.
Sirius
tertawa renyah. “Tapi kau memang selalu menjadi yang paling sabar dan waras di
antara kami semua. Dan Wormtail jelas lebih suka terkurung dalam tempat aman
daripada berkeliaran dengan resiko Cruciatus. James dan aku bisa jadi gila
kalau terkurung. Well, kukira dia benar-benar akan jadi gila kalau aku tidak
berkunjung.” Ujar Sirius dengan wajah sumringah.
Lupin
hanya geleng-geleng kepala. Selama ini, kewarasannya lah yang sedikit
mengontrol kegilaan James dan Sirius, dan menjadi pelindung bagi si murung
Wormtail. Walaupun James dan Sirius tak mungkin menyakiti sahabatnya, tetap
saja mereka suka menggoda Wormtail sesekali.
“Hati-hati
kalau begitu. Sampaikan salamku pada mereka semua.”
Sirius
mengangguk dan melambaikan tangannya. Angin malam terasa lebih dingin dari
biasanya. Sirius Black berapparate
dengan bunyi pop pelan tanpa tahu apa
yang menunggunya di tempat tujuan.
***
Sirius
Black tiba tepat saat salah satu sosok bertudung berapparate pergi. Walau
sekilas, Sirius benar-benar yakin bahwa salah satu pelahap maut baru saja
meninggalkan tempat ini. Rumah Peter! Sirius berlari cepat masuk ke rumah.
“PETER!”
Raung Sirius.
Rumah
terlihat begitu kosong dan rapi seolah tak pernah tersentuh. Tiba-tiba saja
semburan ketakutan baru memenuhi Sirius. Hal itu membenarkan perasaan cemas
yang terasa samar dalam 24 jam terakhir. Seolah-olah Sirius memang tahu
sahabatnya berada dalam bahaya.
“PETER!
WORMY! Jawab aku!” Sirius berteriak lagi. Hatinya dipenuhi ketakutan dan
penyesalan. Salahnya lah kalau sampai terjadi apa-apa dengan Peter. Sirius
memeriksa semua pintu dan mendapati semua ruangan sama kosongnya seperti ruang
depan.
Apa
mungkin Wormtail tidak ada di rumah? Atau pelahap maut itu sudah membawanya?
Sirius
tidak bisa memastikannya.
“Homenum
revelio!” serunya dengan suara gemetar.
Mantra
itu meluncur dari ujung tongkat Sirius dalam wujud transparan. Sirius menunggu
dalam ketegangan. Ketika akhirnya terdengar suara letupan yang berasal dari
dapur. Sirius melangkah dengan tergesa dan mendapati dapur nyaris sama
kosongnya dengan ruangan lain.
Namun
mantera itu tak mungkin salah. Homenum revelio menunjukkan keberadaan manusia
lain selain dirinya di rumah ini.
Suara
cicit ketakutan itu nyaris membuat Sirius jatuh karena lega. Jauh di sudut
dapur, tersembunyi di balik meja makan, Peter Pettigrew duduk bergelung seperti
bayi kecil yang ketakutan. Sirius mendekati Peter dan berlutut di dekat Peter.
Tubuh
Peter masih berguncang hebat. Ia memeluk tangan kanannya sendiri, menyembunyikannya
di balik jubah. Hati Sirius mencelos melihat sahabatnya dalam kondisi seperti
itu. Peter pasti sangat terpukul.
“Peter.
Sshh… Kau baik-baik saja, Peter. Mereka sudah pergi.”
Ujar Sirius menenangkan.
Tapi
Peter menolak untuk balik menatap Sirius. Kepalanya masih menunduk, tubuhnya
masih gemetar, dan tangannya masih terbungkus rapat dalam jubahnya.
“Peter…”
Sirius mencoba lagi.
Wormtail
menatapnya kelu dengan matanya yang berair. Gemetar tubuhnya sama sekali tidak
berkurang.
“Sirius…”
isaknya.
Sirius
memeluk tubuh Wormtail yang gemetaran. “Tenanglah Wormtail. Mereka sudah
pergi.”
Wormtail
terisak lebih keras. Masih menggenggam tangannya erat-erat di dalam jubahnya.
Sirius melepaskan pelukannya.
“Ada
apa dengan tanganmu, Wormtail?” tanya Sirius.
Wormtail
menatap Sirius dengan pandangan ngeri. Bagaimana kalau Sirius sampai
melihatnya? Tongkat di tangan Wormtail terasa licin karena keringat dingin.
Tidak boleh. Sirius tidak boleh melihatnya! Atau Wormtail bisa mati saat itu
juga.
Wormtail
bangkit berdiri. Sirius masih mengikutinya dengan pandangan bingung. Wormtail
berjalan kaku, berusaha tidak menarik perhatian tapi gagal. Sebisa mungkin ia
menyembunyikan tangan kanannya dalam jubah. Sirius tidak boleh melihatnya!
Sirius tidak akan melihatnya! Tidak, sampai Wormtail berhasil berapparate ke
tempat yang aman.
“Ada
apa dengan tanganmu, Wormtail?” Sirius bertanya lagi.
Wormtail
sama sekali tidak menengok. Ia melangkah pelan menuju jendela yang berbingkai
kusam. Kaca tipis yang melapisinya tampak sama kusamnya dengan seisi rumah itu.
Sirius bergeming di tempatnya, dan Wormtail bersyukur untuk itu.
Hanya
satu lambaian tongkat, dan Wormtail akan selamat. Selamat untuk menerima
penghargaan besar dari Pangeran Kegelapan. Tanda kegelapan di tangan kanannya
masih terasa sakit dan menusuk. Yaxley baru saja mengukirnya pada kulit
Wormtail yang pucat.
Sirius
bergeming, namun mata gelapnya masih mengikuti gerakan Wormtail yang kikuk.
Wormtail
menggenggam tongkatnya dari balik jubah dengan mantap. Ia kini memutar tubuhnya
menghadap sahabat yang sebentar lagi akan menjadi musuhnya. Semua itu
sebanding. Kehilangan James dan Sirius sebanding dengan penghargaan dan
kehormatan yang akan diterimanya dari Pangeran Kegelapan. Dan Lupin? Wormtail
sama sekali tidak membutuhkan manusia serigala tak berguna seperti dia.
Matanya
yang kecil berair membalas tatapan tajam Sirius Black.
Dan
detik itu juga, Black tahu ada sesuatu yang sangat salah. Tepat ketika Wormtail
membuka mulutnya untuk berbicara.
“Maafkan
aku, Sirius. Sampaikan salamku untuk James, dan Lily. Dan…
Harry.”
Saat
Peter Pettigrew akhirnya menghilang denga bunyi “tar” keras seperti peri rumah- Sirius tahu bahwa ia sudah
terlambat.
***
Anjing
hitam besar itu berlari. Berlari dan hanya berlari.
Sirius
Black memilih mengubah wujudnya menjadi anjing. Dan ia berlari. Berlari dan
berlari. Mengabaikan keempat kakinya yang menjerit protes karena jarak yang tak
kunjung mendekat. Semua itu tidak sebanding dengan hatinya yang menjerit.
Jeritan yang lebih keras daripada keempat kaki yang sakit dan paru-paru yang
terbakar karena cepatnya gerakan Sirius.
James sudah tak ada…
James sudah tak ada…
James sudah tak ada…
Kenyataan
yang berusaha ditolak Sirius. Kenyataan yang berusaha dikuburnya dalam-dalam
dibalik kesakitan fisiknya saat ini. Sirius juga menolak cara bepergian yang
biasa. Yang tidak perlu membuat tubuhnya tersiksa. Hanya butuh lima detik, dan
ia akan tiba dengan selamat di Godric Hallow.
Tapi
ia sama sekali tidak tertarik untuk sampai dengan selamat.
Tidak!
Karena ia tahu, bahwa sahabatnya sama sekali tidak selamat. Bahwa mereka telah
mempercayai orang yang salah. Bahwa Wormtail mengkhianati mereka. Bahwa James
sudah pergi. Bahwa Lily sudah pergi. Bahwa kepergian mereka menjadi hampir
pasti untuk melindungi putra mereka, Harry- yang Sirius yakin sudah pergi
juga. Bahwa keluarga Potter sudah pergi.
Jantung
Sirius berdetak dengan menyakitkan. Tiap detaknya mengisyaratkan pengkhianatan.
Dan penyesalan yang tak bisa dibayar dengan apapun juga. Tiap tarikan nafasnya
merupakan kebodohan. Dan kecurangan karena terus hidup sedangkan keluarga
Potter tidak.
Cakar-cakar
besar itu terbenam dalam ke tanah yang dingin. Meninggalkan jejak panjang
menuju Godric Hallow. Jejak kematian. Duka yang begitu dalam, hingga Sirius
merasa bisa mati karenanya. Lebih menyakitkan daripada mantera Cruciatus.
Walaupun
rasanya Sirius berlari tanpa akhir, pedesaan itu mulai menampakkan siluetnya.
Sirius memelankan lajunya. Hatinya terus berdenyut menyakitkan. Dan kesakitan
yang lebih parah seakan menantinya hanya dalam jarak berapa mil.
Godric
Hallow masih tertidur nyenyak. Tertidur dengan tenang tanpa tahu bahwa satu
lagi keluarga penyihir telah tamat riwayatnya.
Walaupun
sudah menduganya, tetap saja Sirius mengeluarkan gonggongan duka ketika
mendapati rumah yang hancur itu. Ia mengendus pagar yang berdiri kokoh. Yang
kini bahkan kasat bagi siapapun. Mantera Fidelius telah rusak.
Walau
menyakitkan, rasanya Sirius tidak bisa menunda lebih lama untuk melihat
sahabatnya yang telah mati. Langkah kaki besarnya nyaris tak terdengar.
Ditenggelamkan oleh gemuruh hatinya yang menjerit.
Lagi,
Sirius mengeluarkan gonggogan duka itu. Kini satu desa mungkin mendengarnya.
Sirius
bergelung pelan di samping James yang terbujur kaku di ruang tamu yang sudah
hancur. Matanya membelalak kosong. Ia bahkan tak menggenggam tongkatnya.
Dasar bodoh!
Gonggong Sirius pelan.
Ia
menyelinap pelan dan menggigit ujung tongkat James yang terkubur di balik
reruntuhan. Dengan hati-hati, diposisikannya tongkat itu di atas tangan James
yang dingin. Dengan moncongnya ia berusaha memperbaiki posisi James menjadi
lebih layak. Lidah panasnya menjilat kelopak mata James agar tertutup.
Sekarang
James bisa beristirahat dengan layak.
Sirius
kembali bergelung di sisi sahabatnya yang sudah mati. Ekornya mengibas-ngibas
lantai kayu yang bolong. Kelopak matanya terpejam berat. Entah di mana, Lily
dan Harry pasti tertidur dalam kondisi yang sama seperti James. Namun Sirius
sudah tak mampu melihat kematian lagi. Ia tak mampu melihat kedua mata hijau
zamrud itu menatap kosong ke arahnya.
Meneriakkan
gaungan kematian.
Bola-bola
air mata mengalir membasahi wajah Sirius, mengalir turun ke moncongnya. Mengapa
perasaannya masih sesakit ini dalam wujud anjingnya? Wujud anjing itu selama
ini selalu menyimpan kegembiraan. Kebahagiaan ketika empat sahabat itu
berkeliling desa setiap bulan purnama. Sirius tak pernah merasakan kesedihan,
bahkan kesakitan seperti ini selama ia menjadi anjing sebelumnya. Tapi saat
ini, wujud anjing pun tak bisa melindunginya dari kesakitan.
Entah
berapa lama Sirius berbaring dan meratap di sisi James sampai suara debuman
membuatnya terlonjak bangun. Sosok setengah raksasa Hagrid melangkah masuk
melewati pintu depan yang menganga lebar.
Sirius
menggonggong keras.
Hagrid
mengangkat kedua tangan besarnya. “Tahan, ini aku, Rubeus Hagrid.”
Sirius
menggonggong lagi dan dalam sedetik ia kembali ke wujud manusianya.
“Jenggot
Merlin!” raung Hagrid. “Bagaimana kau-”
“Mau
apa kau datang, Hagrid?” tanya Sirius. Ia tak bisa mengenali suara dingin yang
adalah suaranya itu. Wajah Sirius kini tampak seperti topeng kelam.
“Dumbledore.
Diutus untuk mengambil Harry.” Jawab Hagrid.
Mata
Sirius melebar. “Mengambil Harry?” tanyanya kaget.
“Benar.
Harry Potter. Ia selamat. Pangeran Kegelapan menghilang ketika berusaha
membunuhnya. Sama sekali tak bisa menyentuhnya, eh.”
Kini
Sirius benar-benar terperangah. Harry Potter selamat?
“Tapi
James-” Ia
memandang tubuh sahabatnya dengan kelu. “Dan Lily-”
“Mereka
berdua mati, yeah.” Kini Hagrid mulai menangis. Raungannya terdengar pilu dan
kasar, menggoncangkan seisi rumah yang sudah hancur.
“Yah,
tapi anak mereka selamat. Dumbledore memintaku mengambilnya.”
Sirius
tak bisa mencegah sedikit perasaan gembira karena Harry selamat. Namun kegembiraan
itu langsung tenggelam secepat kedatangannya. Biarpun Harry selamat, Sirius
sama sekali tak pantas menemuinya. Dialah orang yang sudah membuat bocah kecil
itu kehilangan kedua orang tuanya.
Hagrid
menyedot hidungnya dengan berisik di balik sapu tangan sebesar taplak. Dengan limbung
ia melangkah melewati Sirius, menuju tangga ke atas. Hagrid berhenti di anak
tangga kedua dan menatap Sirius.
“Kau
tidak ikut ke atas, Sirius?” tanya Hagrid.
Sirius
menggeleng.
Hagrid
meraung sedih lagi. “Tentu saja…tentu. Bodohnya aku…” Ia
mengeluarkan suara seperti terompet lagi di balik sapu tangannya. “Tentu berat
bagimu melihat James-”
Sirius
tetap bergeming. Posturnya menjadi lebih kaku.
“Dan
Lily di atas. Aku heran Harry tidak menangis. Anak malang-”
“Hagrid?”
panggil Sirius.
“Ya?”
“Kau
bisa memakai motorku untuk membawa Harry ke Dumbledore. Ada di halaman
belakang. Aku harus… pergi.”
Hagrid
mengangguk dan mengusap air matanya.
“Selamat
tinggal, Hagrid.”
Selamat tinggal, James…
Selamat tinggal, Lily…
Semoga kita bertemu lagi, Harry…
Setelah
sampai di halaman, Sirius merubah dirinya menjadi anjing lagi. Ia menarik nafas
dalam-dalam sebelum mengeluarkan gonggongan duka terakhirnya di hari ini. Dengan
satu gonggongan panjang, ia meluapkan semua dukanya untuk keluarga Potter. Saat
ini bisa dipastika isi desa sudah terbangun karenanya.
Kini
moncong Sirius tertarik dan membentuk seringai kejam dan dingin.
Kau yang mati berikutnya, Wormtail!
Dan
Sirius Black mulai berlari membelah pagi dingin yang berkabut.
***
1062013
(Tenggelam
dalam asiknya fanfiction)
Philomena
Olaf

Mantap Si~ Hahahaha
ReplyDeleteAlways first comment :)
DeleteWaaa sukakkkk
ReplyDelete