ENCHANTED FOREST
Matanya terpicing. Terpana. Selalu seperti itu. Tak pernah berubah. Kay menyadari dirinya terpana. Selalu. Berkali-kali pun sensasinya tetap sama. Namun kini rasanya lebih menyakitkan. Karena pesona itu kini memaksanya untuk berlutut. Menuntut pengakuan bahwa ia bukanlah siapa-siapa. Bahwa Kay jauh tak sepadan.
Ini tidak boleh. Sebagai laki-laki ia harus berdiri, bukan berlutut. Tapi apa? Orang lumpuh selalu terlihat berlutut. Lebih rendah. Matanya mengeras menatap sosok itu. Berpendar-pendar dalam kilauan terik yang membutakan. Sulur-sulur rapat menggantung dan menyatu dengan rambutnya yang berwarna perunggu yang kini tampak lebih metalik. Bunga-bunga musim semi bermekaran didekat kelopak matanya.
“Tidak perlu berlebihan, manusia.” Suaranya bagai genta angin. Merdu namun mengiris. Terlalu jauh untuk diraih.
Kay menulikan diri. Apalagi yang ia punya selain harga dirinya. Yang kini seolah teronggok tak menarik minat siapapun. Ia harus bisa.
Nyeri itu menyerang dengan telak. Kaki Kay sudah kebas. Butir-butir keringat bermunculan di keningnya. Sosok itu memancarkan kekhawatiran sekilas─ sebelum mengubah air mukanya menjadi datar lagi.
Setelah bisa menguasai diri, Kay menatap sosok di hadapannya itu─ masih berkilau mempesona.
“Aku ingin kau berjanji satu hal padaku, manusia.” Ujar sosok itu. Kay masih menatapnya tanpa berkedip. Pusaran emosi berputar-putar diantara mereka. Kerinduan, cinta, penantian, harapan─ namun semuanya disangkal.
“Apapun,” geram Kay dari sela-sela giginya yang terkatup rapat.
“Apapun?” tanya sosok itu pelan. Kay mengangguk kaku. Setidaknya hanya ini yang bisa dilakukannya. Setidaknya ada yang bisa dia lakukan.
“Jaga semua ini,” Sosok itu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Sulur tanaman melilit sepanjang lengan dan jemarinya yang berwarna coklat seperti kulit kayu. Matanya bergolak dalam menatap manusia di hadapannya. Tampak begitu putus asa dan hancur.
Sosok itu menepiskan segelintir perasaan yang sempat muncul. Andai bisa─ tapi nyatanya tidak. Dia harus segera mengakhirinya. Menyelesaikan tugasnya dan segera pergi dari kehidupan manusia itu.
“Hanya itu?”
Sosok itu menghela nafas, “Ya. Hanya itu. Namun aku ingin kau tahu itu berarti banyak.”
Hah. Memang.
*
Goresan pensil menari-nari memenuhi selembar kertas gambar yang kosong. Matanya menyipit penuh konsentrasi. Ia membuat sketsa, menebalkan garis disana-sini sebelum akhirnya mengarsir sebagian. Jemarinya menggosok arsiran pelan untuk menambah efek yang diinginkannya.“Sampai kapan lagi nasib pohon hanya hitam dan putih?” Kay menoleh ke suara berisik yang selalu didengarnya. Ia menggeleng dan melanjutkan sketsa gambarnya.
“Serius, Kay. Kau harus berhenti melihat dunia hanya hitam dan putih.” Oceh Alma, adik perempuan Kay.
“Hitam putih tidak terlalu buruk.” Gumam Kay.
“Yah…yah. Tapi sayang kan kanvas dan cat lukismu tak terpakai lagi?” ujar Alma keras kepala. Dulu, Kay lebih suka melukis di atas kanvas. Penuh warna. Kay suka segala hal yang penuh warna. Warna baginya memiliki arti─ dan rasa. Tapi itu dulu. Sekarang pemahamannya berubah.
“Biar saja.” Ujarnya. Alma menggelengkan kepala dan berkacak pinggang. Matanya melotot dan bibirnya merengut. Kay menggeram jengkel dan berpaling menatap wajah adiknya yang keras kepala.
“Ya…ya… Kau mau apa sekarang, Tuan Putri?” tanya Kay.
Alma berseri-seri, “Aku mau kau melukis lagi.”
Kay menggeleng, “Selain itu?”
“Ke hutan?” tanya Alma penuh harap. Walaupun ia sudah tahu jelas jawaban yang akan diterimanya sebelum bertanya. Namun ia masih berharap Kay bisa kembali seperti dulu.
Kay menggeleng. Sial, runtuk Alma dalam hati. Sampai kapan kakaknya terus begini. Ia ingin kakaknya yang dulu, yang menyukai warna, yang menghabiskan waktu seharian di hutan bersamanya. Bukan kakaknya yang sekarang. Yang memilih hitam dan putih, dan menolak semua kebahagiaan. Itukah caranya menghukum diri?
Kay mengehela nafas letih, “Aku ingin sendiri, Alma. Tolong.” Ujarnya pelan. Alma mengamatinya sesaat.
“Aku merindukanmu, Kay.” Bisik gadis itu. Kay menatapnya bingung. “Kau yang dulu.” Lalu sosoknya menghilang di balik pintu. Sesaat Kay merasa memang mendengar isakan kecil.
*
Daun-daun kering bergesek parau saat terlindas kursi roda Kay. Sudah sangat lama. Hampir 3 tahun Kay tidak menginjakan kakinya di hutan. Bau kayu dan lumut yang lembap masih sama seperti dulu. Cahaya matahari yang redup menembus melewati celah kanopi pohon rindang yang memenuhi tempat ini. Air sisa hujan kadang masih menetes dari sela-sela dahan dan daun pohon.
“Alma?” Kay memanggil adiknya. Ia tahu sikapnya selama ini menyakiti adiknya, dan ayahnya. Namun ia bisa berbuat apa? Perasaan ini masih belum berubah. Sakit yang ditinggalkan masih sama. Kilasan peristiwa itu bagai silet tajam yang menyayat hati dan pikirannya.
Kay terus mendorong kursi rodanya maju, semakin dalam memasuki hutan. Suasananya hutan sangat sepi. Hanya desah nafas Kay yang kewalahan dan derak ranting patah. Namun Kay yakin Alma ada disini. Di suatu tempat entah dimana─ sendirian dan menangis. Berkat dirinya. Ia harusnya tak sekasar itu. Kay diam-diam mengutuk dirinya sendiri.
Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Alma? Kay tak kan pernah bisa membenci apapun lagi sebesar membenci dirinya sendiri. Kay terus mendorong kursi rodanya lebih cepat. Otot-otot lengannya terasa terbakar karena terus merangsek maju. Keringat mulai membasahi dan membuat kaosnya menempel pada badannya, lengket.
“Alma…” teriak Kay lagi. Ayolah…kau ada dimana?
Dan disana Kay melihatnya. Tanpa sadar Kay sudah sampai di kebun Ibunya. Ibunya membuat sebuah kebun di tengah hutan dan dengan rutin merawatnya.
Dan kebun itu tampak berwarna-warni. Bunga-bunga bermekaran dan kupu-kupu yang merunduk mengisap nektar. Kay tak menyangka kebun itu masih sama. Persis seperti ingatannya. Malah lebih baik dari ingatannya yang terakhir. Begitu suram.
Namun kebun itu tampak sama semasa bahagia yang diingatnya. Semasa ia selalu menghabiskan waktu bersama Alma dan ibunya disana. Bahkan ayahnya terkadang ikut.
Siapa yang merawatnya? Mustahil kebun itu belum porak poranda. Dan tidak mungkin Alma bisa merawatnya sendiri. Di satu sisi, ayahnya hampir sama seperti Kay─ menolak mendekati hutan. Apalagi merawat kebun.
Dan disanalah tatapan Kay terpaku. Di bawah salah satu pohon rindang di sudut kebun, tampak sosok itu. Begitu berkilau. Rambutnya berwarna tembaga dan terlihat agak metalik seperti besi sungguhan. Namun apakah itu sulur? Sulur tanaman sungguhan yang membelit seluruh tubuhnya.
Sosok itu berbalik dan menatap Kay kaget. Saat itulah Kay juga melihat bahwa rambut dan wajahnya dihiasi kelopak bunga yang bermekaran. Kay mendapati diri tak bisa mengalihkan pandangan. Terpesona.
“Kay!” teriak Alma mengejutkannya. Alma menatapnya bingung. “Sedang apa kau disini?” tanyanya.
Kay tergagap, “Sedang mencarimu tentu saja. Maaf soal yang tadi.” Ucap Kay. Dia segera mengalihkan pandang sejenak ke sosok yang mempesona itu, namun hanya mendapati pohon yang kosong. Ia mengamati sekelilingnya lebih teliti, namun nihil. Sosok itu sudah menghilang.
“Hey…Hey Kay!!” Gerutu Alma kesal sembari melambai-lambaikan tangan di hadapan kakaknya yang sedang asik dengan pikiran sendiri.
“Apa?” tanya Kay, tak bisa menutupi kekecewaannya.
“Kau mencari apa?” tanya Alma.
“Kau melihat ada orang lain disini?” tanya Kay penuh harap. Alma terdiam sejenak dan menggeleng.
“Tak pernah ada orang lain, Kay.” Kay menunduk kecewa.
“Memangnya siapa yang kau maksud? Kau mengundang temanmu ke sini?” tanya Alma lagi.
Kay menggeleng pelan, “Tidak. Sudahlah, lebih baik kita pulang sekarang.”
*
“APA???”
Pekik nyaring Alma memenuhi ruangan sempit itu- ruang kerja ayahnya. Ayahnya, seorang laki-laki dengan wajah keras serta rambut yang sudah memutih disana-sini duduk menghempaskan diri ke kursi kerjanya. Jemarinya memijit pelipisnya yang berdenyut-denyut. Di sudut lain, Kay duduk diam di kursi rodanya- tidak berkomentar. Hanya Alma yang berjalan mondar-mandir kalang kabut mendengar berita dari ayahnya.
“Ayah tak bisa melakukannya-” Alma memulai lagi namun ayahnya mengangkat tangan menyuruhnya diam.
“Tolong jangan berlebihan, Alma. Aku tahu apa yang aku lakukan.” Ujarnya terdengar letih.
“Aku tidak bisa diam kalau ayah melakukan hal yang tidak benar. Ayah tak boleh membabat hutan itu.”
“Ayah menyesal harus mengatakannya, tapi kau- kalian harus tahu. Usaha ayah sama sekali tidak lancar. Dan kita semakin terpuruk setiap harinya. Hanya tanah itu yang kita punya. Dengan menjualnya, kita bisa pindah dan memulai hidup baru.”
“Benarkah hanya karena uang?” Tanya Alma skeptis. Ayahnya mengernyit menatap Alma.
Alma sudah berhenti mondar-mandir. Sekarang ia berdiri tegak menatap ayahnya dalam-dalam, “Benarkah hanya karena uang, ayah mau melenyapkan semuanya? Bukan karena ayah mau lari dari kenangan? Dari rasa sakit?”
Oke. Alma sudah keterlaluan kali ini. Dia mengungkit topik paling gelap dalam rumah ini. Wajah ayahnya berubah merah padam. Nafasnya terdengar keras karena menahan luapan emosi negatif. Kay juga menyadarinya. Pria itu merangsek lebih maju ke dekat adiknya. Mencegah hal terburuk yang bisa terjadi.
“Diam!” Hanya itu yang dikatakan ayahnya lamat-lamat. Setiap suku kata diberi penekanan yang merupakan peringatan nyata. Mulut Alma terkunci dan wajahnya merah padam. Namun ia tidak menangis seperti biasanya. Kay memegang pergelangan tangan adiknya dan menariknya pelan.
“Maafkan sikap Alma dan aku, Yah. Selamat malam.” Ujar Kay lalu beranjak pergi sambil menyeret adiknya turut serta.
*
Emosi Alma meluap lagi. Ia berjalan mondar-mandir dalam kamar Kay sambil menggerutu keras-keras betapa tidak bijaksananya pilihan yang diambil ayah mereka. Kay hanya diam. Kepalanya tertunduk pada sketsa di pangkuannya. Kalau Alma sudah begini, lebih baik didiamkan sampai dia tenang sendiri.
Alma akhirnya terdiam dan menghenyakan diri ke kasur kakaknya. Matanya menatap atap kayu coklat di atasnya. Dia mencoba bernafas pelan untuk menenangkan diri.
Kay mengangkat wajahnya dari kertas di pangkuannya. “Kau tahu, kau agak keterlaluan tadi.” Ucap Kay. Alma mendengus.
“Aku tahu.” Alma terdiam sejenak. “Aku hanya…aku tidak mau ayah melakukan hal itu.”
“Sudah saatnya memulai hidup baru.” Ujar Kay kalem.
“Dan kau pikir kita tak bisa melakukannya disini? Aku sudah mencoba. Kalian yang tidak mau, mencoba.” Ujarnya kesal. Memang benar, semenjak kejadian 3 tahun lalu kehidupan keluarga ini tidak pernah sama lagi.
“Dan ini bukan hanya tentang memulai hidup baru. Ini tentang tempat ini. Apa jadinya tempat ini kalau hutan itu dibabat? Bagaimana nasib hewan-hewan disana? Pohon-pohon? Apa dunia ini belum cukup rusak?” tuntut Alma. Sikapnya kembali skeptis.
Kay menghela nafas, “Kau berbicara seolah-olah kau yang bertanggung jawab pada hutan itu.”
“Memang.” Balas Alma defensif. “Kalau bukan aku, siapa lagi yang peduli? Kau? Ayah? Apa kalian peduli pada ratusan, bahkan jutaan kehidupan di dalam sana? Apa kalian peduli pada kebun Ibu? Apa kalian peduli akan kerusakan yang akan kalian sebabkan nanti.” Alma memutar bola mata kesal. “Ya. Jelas nanti. Karena bukan kalian yang akan merasakannya. Generasi berikutnya yang akan mendapat imbas. Karena ketidakpedulian kalian!”
Nah, sekarang adiknya bersikap seolah-olah dia adalah duta lingkungan hidup. Semua itu lebih dari itu. Kay hanya ingin melakukan cara apapun. Apapun agar dia bisa terbebas dari mimpi buruknya selama ini.
“Kau harus membantuku, Kay.” Alma memohon padanya. Kay menatap adiknya serius.
“Entahlah. Aku hanya ingin pergi dari sini.”
“Tapi tidak perlu menjualnya pada pembabat hutan kan?”
“Kita tidak punya pilihan lain, kau tahu itu Alma.”
“Kalau begitu jangan ambil pilihan itu.”
Kay menggeleng lagi. Menolak memandang adiknya. Dia tidak terbiasa mengacuhkan adiknya. Namun ia sering melakukannya belakangan ini. Tiga tahun terakhir ini.
“Kau sebaiknya pergi tidur.” Kay mengatakannya sambil menunduk ke arah sketsanya. Tak mampu menatap sorot kecewa dari adiknya. Berapa kali lagi ia harus membuat adiknya kecewa. Ia membenci dirinya sendiri untuk itu.
Alma keluar tanpa mengatakan apa-apa lagi.
*
Kay datang ke tempat itu. Sendiri. Bukan untuk mencari Alma. Dia datang karena alasan lain. Ia harus menemukan gadis itu. Ia menarik Kay. Membuat pria itu tidak bisa tidur semalaman. Kay harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak berhalusinasi lagi. Tidak. Ia sudah mendapat pelajaran penting bahwa berhalusinasi itu tidak baik, bahkan buruk.
Matanya jalang menatap sekelilingnya. Berusaha fokus untuk menemukan gerakan sekecil apapun. Mungkin sulur yang bergerak samar. Atau mungkin kelopak bunga yang istimewa itu.
Kay menunggu di bawah pohon besar itu. Berharap ia menemukan kepastian. Nyata atau tidak. Hanya itu pilihannya. Kay harus mencari cara untuk membuat dirinya sendiri tenang.
10 menit
30 menit
1 jam
Tidak ada apa-apa. Gadis itu tidak muncul. Dengan berat hati Kay mengakui pada dirinya sendiri bahwa itu semua hanya halusinasinya. Dan itu tak pernah menjadi baik. Selama menunggu itu, Kay menatap kebun Ibunya. Masih indah seperti yang diingatnya. Bunga-bunga bermekaran di sepetak lingkaran itu.
Kay memejamkan mata. Ia rindu ibunya. Andai ia bisa memutar waktu. Betapa ia sangat menyesal. Andai dia bisa menahan diri. Mungkin dia memang tidak sedang berhalusinasi saat itu. Namun harusnya dia sadar. Harusnya dia lebih cerdas. Karena kalau memang ia yakin bahwa itu benar, tidak seharusnya ia mengajak ibunya ke sana. Harusnya ia tahu, bahwa ibunya benar-benar peduli padanya sehingga pasti menuruti rengekannya walau terdengar tak masuk akal.
Harusnya Kay tidak memaksa Ibunya menemui ajal lebih cepat.
*
Kay menggenggam tangan Ibunya keras. Tubuhnya gemetaran. Sang Ibu mengelus punggungnya untuk menenangkan sedangkan tangan lainnya memegang lentera untuk menerangi jalan menuju hutan yang sangat gelap.
“Sssttt… tenanglah, jagoan. Ibu akan menunjukan padamu bahwa semuanya baik-baik saja. Bahwa kau hanya berhalusinasi.” Bisik wanita itu lembut. Kay mengangguk. Getaran tubuhnya mulai berkurang.
“Apa lebih baik kita pulang saja, Bu? Aku…aku yakin hanya berhalusinasi.” Gumam Kay. Ia ingin segera meninggalkan tempat itu. Hutan itu begitu dingin dan menyeramkan.
Ibunya menggeleng, “Kalau Ibu membawamu pulang sekarang, kau akan terus di hantui mimpi buruk. Kau akan terus berpikir bahwa serigala itu ada di sana dan kau tak akan berani lagi masuk ke hutan. Kau tidak mau menjadi penakut kan, sayang?” ujar Ibunya. Wajahnya begitu cantik dengan sinar lentera kecil itu. Kay kecil mengangguk lagi.
Mereka terus berjalan. Sepatu bot mereka berdecit menyeramkan di tanah yang lembab. Namun Kay tidak takut lagi. Apa yang harus ditakuti kalau ada Ibunya. Ibunya mau Kay menjadi pemberani. Dan Kay harus membuktikan bahwa dia memang…pemberani.
“KAY AWAS!!!!” Pekik Ibunya histeris. Tangan ibunya menghantam dada Kay keras hingga anak itu terpental keras sekali. Key menjerit saat terus berguling-guling jatuh menuju dasar lubang. Ia berteriak saat ranting kayu yang tajam menggores kakinya. Dan benar-benar memekik saat ia merasa ada sebuah batu besar yang menimpa kakinya. Meremukannya.
Kay menjerit kesakitan. Ia berada jauh di dasar lubang. Kenapa ibunya tega mendorongnya jatuh?
Dan saat itulah Kay mendengar geraman buas sang serigala. Geramannya membuat hutan bergetar. Namun suara itu terasa jauh, jauh di atas. Di tempat ibunya berada.
Kay memejamkan mata. Ia tahu ia aman disini. Namun Ibunya berbeda.
Kehidupan tak pernah sama lagi sejak itu.
*
Alma menggeliat saat hari sudah pagi. Sekujur tubunya pegal-pegal. Dia masih sangat kesal karena ayahnya. Ditambah sikap Kay yang sama sekali tak membantu. Dia harus bagaimana? Ia sangat menyayangi tempat ini. Jarang-jarang kan kau memiliki hutan pribadi. Dan ia akui ia juga tidak sanggup meninggalkan tempat ini untuk alasan apapun.
Tempat ini menyimpan banyak hal- semuanya. Namun terlebih ia memang ingin menjaga tempat ini. Kata gurunya, bumi sudah sangat rusak. Setiap hari jutaan pohon di tebang secara liar, hutan dibabat dan dibakar, hewan-hewan mengamuk dan menyerang penduduk- itu karena mereka tidak memiliki tempat berlindung lagi.
Bencana dimana-mana. Tapi manusia tidak pernah sadar. Bukan berarti Alma suci- dia memang sering membuang sampah sembarangan dan turut serta sebagai penyumbang polusi- tapi semenjak cerita dari gurunya itu, Alma tak pernah buang sampah sembarangan lagi. Ia juga menolak sepeda motor. Ia mengeluarkan sepeda lamanya dari garasi rumah.
Dan apa yang akan dilakukan ayahnya sekarang? Membabat hutan. Memang secara teknis bukan ayahnya yang melakukan hal itu. Ayahnya hanya menjual tanah mereka kepada pembabat hutan. Hutan akan diubah menjadi resort atau mungkin gedung pencakar langit. Dan itu sangat berkebalikan dengan misi Alma saat ini.
Alma tahu sebenarnya ayahnya memang tak punya pilihan lagi. Ayahnya sudah terlalu lama mendertita karena masih belum bisa melepas ibunya. Dan ketika ada kesempatan untuk pergi- apa salah kalau ayahnya mengambilnya? Ayah sama saja seperti Kay.
Ini berarti Alma harus berjuang sendiri.
Tidak harus sendiri
Alma bergidik saat mendengar suara bisikan. Ia menoleh namun tak ada orang lain. Hanya ada dia di kamarnya. Dan Alma sadar bahwa suara itu datang dari dalam kepalanya. Siapa?
Oke. Alma sudah mulai gila. Namun begitu ia berkonsentrasi memikirkan pertanyaaan itu, ia mendapat jawab.
Pergilah ke hutan. Ada bantuan disana.
Alma tersenyum puas. Dia tidak berkhayal. Mungkin itu suara ibunya. Dengan bersemangat ia berkonsentrasi lagi. Dimana tepatnya?
Namun sunyi. Tak ada suara lagi. Alma menunggu dalam diam. Namun nihil. Suara siapapun itu sudah menghilang. Alma mengerang dan menendang selimutnya jatuh. Hanya ada satu jawaban saat ini.
Hutan.
*
Kay tidak tahu apa yang mendorongnya datang lagi. Padahal selama 3 tahun ini dia bisa mengacuhkan keberadaan hutan itu. Tapi mengingat hanya sedikit waktu yang tersisa- tak bisa disangkal bahwa Kay takut juga membayangkan meninggalkan tempat ini selamanya. Dan kalau memang harus, ia ingin memanfaatkan waktu sebaik mungkin.
Kay turun dengan hati-hati dari kursi rodanya. Ia berguling ke tengah kebun Ibunya. Sinar matahari pagi menghangatkan wajahnya yang pucat karena sudah lama tidak terkena sinar matahari. Ia merenggangkan tubuhnya. Rumput terasa lembut dan nyaman di atas badannya.
Kay memejamkan mata menyerap sinar matahari sebanyak mungkin. Kay menunggu serbuan kenangan pahit menyerangnya. Namun nihil. Ia tidak mengingat apapun yang menyakitinya. Ia hanya bisa merasakan kedamaian disini.
Kay membuka mata ketika ia merasa sinar matahari menghilang. Kay mendapati dirinya terpaku. Terpesona lagi. Selalu begitu. Gadis yang sama. Gadis itu menatap Kay dalam dengan matanya yang berwarna hijau. Hijau zamrud.
Gadis itu tersenyum. Namun Kay sadar ada yang berbeda. Tak ada sulur. Tak ada bunga. Gadis itu tampak seperti gadis biasa yang normal. Kay mengerjapkan mata sekali, dua kali, dan bergegas bangun untuk mengatasi kegugupan.
Gadis itu tersenyum dan menunggu. “Hai. Maaf mengganggumu. Aku Elvira.” Ujarnya. Suaranya terdengar bagai genta angin.
Kay berdeham sebelum menjawab singkat, “Kay.”
“Jadi, sedang apa kau disini?” Tanya gadis itu riang. Matanya bersinar indah. Kay hanya terbengong-bengong bodoh. Entah kenapa setiap menatap mata hijau itu, ia bisa merasakan gemerisik daun dan teduhnya pohon.
“Ehm…” Kay berdeham lagi dan tampak sangat bodoh.
“Rileks?” ujar gadis itu. “Aku teman baru Alma. Dan kuduga kau pasti kakaknya.”
Kay memutar bola mata. Teman Alma?
“Kay…” Panggil Alma keras. Alma berlari-lari kecil dan tersenyum saat mendapati Elvira ada disana.
“Well, kau sudah bertemu Elvira kalau begitu?” ujarnya riang. Elvira tersenyum sedangkan Kay hanya mengangguk. Alma merengut kesal. “Ya ampun, Kay. Bersikap manislah sedikit. Kau tidak ingin aku kehilangan teman baruku kan?” ujarnya kesal
Elvira tertawa nyaring. “Kakakmu sangat baik, Alma. Tak perlu khawatir. Lagipula aku mau pergi kemana? Rumahku tak jauh dari sini.”
Wajah Kay merah padam. “Rumahmu dimana?” tanyanya berusaha mengalihkan perhatian dari dirinya.
“Tepat dibalik hutan ini.”
“Sekarang ayo main ke rumah kami. Ada cocktail.” Ujar Alma sambil membantu Kay naik ke kursi rodanya. Elvira tersenyum dan ikut membantu.
Mereka berjalan menuju rumah. Entah hanya Alma atau Kay, yang jelas mereka merasa hidup mereka akan berbeda.
*
“Jadi?” Tanya Alma. Elvira termenung sejenak. Kepalanya menunduk.
“Kau harus mencegahnya.” Gumamnya setelah beberapa saat.
“Aku juga sudah memikirkannya. Tapi asal kau tahu saja, Ayahku sangat keras kepala. Persis Kay.”
Kay mengangkat wajah dari sketsanya. “Hei…jangan bawa-bawa namaku.” Gerutunya kesal.
“Tapi serius, kalau kau bersedia membantuku, akan lebih mudah untuk-”
“Ayah tak akan berubah pikiran.” Sela Kay.
Alma melotot kesal pada kakaknya. “Tentu akan berguna.” Gumam Elvira pelan. Alma dan Kay memamdangnya heran.
Elvira berdeham sejenak, “Kalau kalian berdua berusaha meyakinkan ayah kalian, besar kemungkinan ayah kalian akan mendengarkan. Beritahu dia betapa pentingnya tanah itu untuk keseimbangan. Beritahu dia bahwa jika hutan itu dirusak, bisa timbul bencana buruk-” Suara Elvira dalam dan berkharisma. Sekejap saja, keraguan Kay dan Alma menguap.
Alma berdeham pelan, “Akan kami coba.”
*
Hari-hari tak terasa kaku. Setidaknya itu yang dirasakan Kay. Wajahnya mulai berseri lagi- dan ia mulai menyukai warna. Pernah suatu pagi Kay membuat Alma terperangah saat ia sedang duduk dan melukis di atas kanvasnya lagi. Ia melukis gadis itu. Gadis yang sangat mirip Elvira. Hanya saja Elvira tidak memiliki sulur di tubuhnya.
“Astaga, Kay…” ujar Alma. Kay meringis malu.
“Aneh ya?” tanyanya.
Alma memutar bola mata, “Aneh. Kau bercanda ya? Ini indah sekali.” Pujinya. “Ngomong-ngomong kau mendapat ide itu dari mana?” Tanya Alma. Ia menarik kursi dan duduk di samping Kay. Ditanya begitu, Kay tergagap.
“Astaga. Kay, apa aku yang salah, atau- itu memang mirip Elvira?”
Wajah Kay merah padam, “Hmm…bukan kok. Jangan mengada-ada deh.” Bantahnya. Alma mengangkat bahu tanda tak mau ambil pusing.
“Aku sudah bicara pada ayah.” Ujarnya pelan. Namun suaranya terdengar putus asa. Kay mengalihkan pandang ke Alma.
“Lalu?”
“Tetap keras kepala. Ayah ngotot akan menjualnya.” Bisik Alma. Tangannya membolak-balik jam pasir dengan gusar.
Anehnya, Kay juga tidak senang mendengar berita ini. Awalnya Kay memang tidak terlalu memusingkan akan diapakan hutan milik keluarganya itu. Yang dipikirkannya hanya bagaimana ia bisa keluar dari tempat ini dan terbebas dari mimpi buruk
Tapi sekarang berbeda. Semenjak ia menginjakan kaki di hutan lagi- Kay mendapati ternyata ia sudah mampu mengalahkan ketakutannya sendiri. Kemurungannya selama ini hanyalah ilusi. Ia selalu merasa menjadi orang yang bertanggung jawab atas kepergian ibunya. Ia bahkan merasa Ibunya membencinya sehingga ia terus dihantui mimpi buruk 3 tahun terakhir ini.
Namun semenjak ia datang ke hutan- ke kebun Ibunya, Kay menyadari bahwa ia hanya takut menghadapi kenyataan. Dan kehadirannya ke tempat itu hanya menunjukan kenangan saat ia kehilangan semuanya- Ibu dan kakinya.
Namun sekarang Kay bisa menerima segalanya. Ia telah berdamai dengan dirinya sendiri. Dan itu lebih baik- jauh lebih baik.
“Mereka akan datang besok.” Kata Alma. Kay tertegun. Hutan itu akan mulai dihancurkan besok. Itu artinya mereka akan benar-benar meninggalkan tempat itu. Meninggalkan rumah, hutan, kebun Ibu, dan- Elvira?
Yah, Elvira bisa dikatakan sebagai salah satu alasan Kay bisa bangkit. Ia sangat perhatian dan tidak mempermasalahkan kelumpuhannya. Dan ia tidak menatap Kay dengan sorot kasihan seperti yang diperlihatkan orang-orang. Elvira membantu Kay dan Alma merawat kebun Ibu. Dan ia benar-benar terlihat seperti seorang duta lingkungan hidup.
Matanya selalu terlihat teduh- dan selalu bisa membuat Kay terpesona. Elvira mencintai pohon dan hutan. Orang tuanya ternyata memang duta lingkungan hidup. Mereka hidup berpindah-pindah tempat untuk memberikan penyuluhan kepada masyrakat mengenai pentingnya pelestarian hutan dan dampak kerusakan hutan.
“Bagaimana ini, Kay?” Tanya Alma gusar. Namun ia benar-benar terlihat putus ada dan frustasi.
“Aku tak tahu.” Gumam Kay sedih. Sekejap saja, ia tak berniat meneruskan lukisannya yang separuh jadi.
*
Senja sudah menjelang. Matahari mulai menghilang dan hanya menyisakan segaris tipis cahaya kuning keemasan. Burung-burung mulai kembali ke sarangnya. Dan hutan tampak sunyi.
Namun entah apa yang mendorong Kay sehingga ia justru mengendap keluar rumah dan pergi ke arah hutan. Ia tidak membawa senter karena langit masih cukup terang.
Hutan sangat sunyi. Begitu juga kebun Ibunya. Namun Kay mendapat dorongan untuk pergi ke tempat ini. Bahwa ia akan menemui suatu hal yang besar. Kay merangsek maju dan memetik sekuntum bunga lili merah. Kelopaknya sangat merah dan tampak lengket. Itu bunga kesukaan Ibunya.
Ia memejamkan mata sambil mendekap lili itu di dadanya. Ia membayangkan Ibunya ada disana, tersenyum padanya.
Ibu tahu, aku kangen banget sama Ibu. Aku ingin kita kumpul seperti dulu, di kebun Ibu. Sebentar lagi, Kay, Alma dan ayah mau pergi, Bu. Maaf Kay ga bisa jaga kebun Ibu. Padahal Ibu sayang banget sama kebun ini. Tapi Kay ga bisa mengubah pikiran ayah.
“Kay…”
Kay tersenyum. Ibunya menyapanya. Kay tidak salah dengar kan? Ia memberanikan diri membuka mata.
“Elvira?” pekik Kay kaget. Kenapa Elvira bisa ada disini? Namun Kay mendapati tatapan Elvira mengeras dan gerak-geriknya yang kaku. Dan kalau tidak salah Kay bisa mendapati kesan badai dalam tatapan matanya yang hijau zamrud.
“Kenapa?” Tanya Kay bingung. Elvira berusaha tersenyum, namun Kay mendapati kesan yang berbeda.
“Kau telah gagal, Kay.”
Kay mengernyit bingung. Apa maksud Elvira? Apanya yang gagal?
“Kau gagal meyakinkan ayahmu. Dan besok, tempat ini akan dihancurkan.” Tatapan Elvira tajam. Kay bisa merasakan gemuruh dalam matanya menarik Kay masuk dan menenggelamkannya. Membuat laki-laki itu hanyut.
“Tidakkah kau tahu, apa konsekuensinya? Bumi sudah cukup rusak, Kay.” Nada Elvira terdengar menuduh dan dingin.
“Aku mencoba-”
“Kau tidak sungguh-sungguh mencoba. Kau tidak tahu apa konsekuensi-”
“Aku tahu. Kau sudah menceritakan program hijaumu ratusan kali.” Kay mulai kesal. Mengapa Elvira tiba-tiba berubah? Dia kira mengubah pikiran ayah Kay mudah. Dan nadanya benar-benar terdengar menghakimi.
“Jelas kau tidak cukup tahu.” Gumam Elvira. Matanya menatap Kay dalam. Membawa laki-laki itu masuk ke dalam pusaran lebih dan lebih.
“Akan kutunjukan.” Kata Elvira.
Dan mata itu menarik Kay semakin jauh. Membuatnya terikat sangat kuat dalam pusaran gelombang yang terus berputar dan berputar hingga membuat pikiran Kay kosong. Kay hanya mampu memikirkan betapa hijau dan dalamnya mata Elvira. Gambaran itu semakin jelas hingga akhirnya Kay terjatuh pada hijaunya hutan- sehijau mata Elvira.
*
Kay mendapati dirinya berada di tengah hutan. Namun hutan tak sesunyi biasanya. Dan sangat panas. Kay mendapat dirinya merasa sesak dan terbatuk karena asap. Asap?
Kay menatap sekelilingnya dan bergidik ngeri. Api berwarna jingga kemerahan berkobar di sekelilingnya. Melahap semua hal yang ada di hadapannya. Ranting kayu berkeretak dan menimbulkan bunga api yang memercik kecil-kecil. Daun-daun hijau mengkerut dan nampak gosong. Di sisi lain, Kay menyaksikan anak burung- sangat kecil- sedang meregang nyawa diatas sarangnya yang hampir terbakar seluruhnya
Kay terbatuk keras- dia tidak bisa bernafas. Tidak ketika hanya tersisa karbon dalam komposisi udara tanpa oksigen. Suaranya parau meneriakan nama Elvira. Cukup. Ia tidak mau melihat lagi. Ia tidak mau melihat kobaran api menghancurkan semuanya. Menghanguskan ranting, daun, dan jutaan kehidupan lain. Termasuk kebun Ibunya. Ia bisa menyaksikan dengan jelas saat lili-lili merah itu berkerut dan menghitam.
“Elvi..ra…” Pekik Kay benar-benar kehabisan nafas. Paru-parunya sesak dan terasa perih. Kay merasa seperti ada yang memasukan logam panas dan menggesekannya dengan kejam.
Elvira muncul dari balik batang pohon besar yang hangus. Matanya masih gelap dan dingin. Ia melangkah maju mendekati Kay tanpa senyum sedikitpun. Ia mengulurkan tangan dan Kay segera menyambutnya.
Tangan Elvira terasa sejuk ditengah kobaran api. Namun tatapannya memikat Kay lagi. Menariknya lagi jauh ke dalam pusaran. Lebih keras dari yang tadi. Kay menahan nafas saking mualnya.
Dengan bunyi debum keras, Kay mendarat dalam suatu bayangan lain yang ada dalam pikiran Elvira.
*
Ia berada di sebuah lapangan yang luas dengan ilalang panjang yang kering menyerupai jerami tua. Tanah dibawahnya terbelah-belah tandus. Angin berdesau panas. Tidak sepanas api tadi, namun tetap saja rasanya kering dan tandus. Matahari seolah tampak beberapa kali lebih besar dari biasanya- dan lebih dekat.
Dalam sekejap, kaos Kay basah oleh keringat. Kay mencoba berjalan. Ya, ia berjalan. Kursi rodanya lenyap dalam kebakaran hutan. Dan ia mendapati ia bisa menggunakan kakinya lagi. Kay berjalan sendirian tanpa tahu arah mana yang dituju. Ia sendirian. Elvira lenyap entah kemana.
Kay terus berjalan berputar-putar sampai ia menyadari bahwa ia mengenal tempat menyedihkan ini. Ini hutan miliknya. Ia menyadari hal itu saat ia sampai di tepi lubang tempatnya jatuh. Lubang itu justru tampak lebih miris dengan tumpukan sampah yang menggunung sehingga membuat lubang itu tampak sangat dangkal.
Namun Kay masih bisa mengenalinya.
Kay menunduk ke dasar lubang yang sekarang menaburkan bau busuk yang menyengat. Tanah disekitarnya bergetar pelan- semakin lama semakin kencang. Kay bisa merasakan pasir-pasir kering mulai bergulir jatuh ke dalam lubang. Menempel pada sampah yang lembap.
Lalu sebagian langsung masuk begitu saja. Longsor. Kay menyadari bahwa tempat itu longsor. Ia mencoba mundur namun ia tidak mundur cukup jauh. Ia ikut terbawa tanah yang jatuh jauh ke dalam lubang yang penuh sampah.
Kay masih bisa merasakan hawa sampah yang busuk. Kasar dan panasnya tanah yang menimbunnya. Kay masih bisa menghirup bau tajam yang membuat perutnya mual. Sekali, dua kali, Kay kehabisan nafas. Kali ini tak ada Elvira yang membawanya pergi. Tak ada. Kay pasrah dan matanya terpejam.
*
Angin berdesau lembut dan lembap. Udara tampak berair dan sejuk. Matahari sudah hampir terbenam sepenuhnya dan hutan semakin gelap. Jangkrik mulai berbunyi mengisi kesunyian hutan.
Kay terbatuk beberapa kali dan menghirup nafas berkali-kali. Lega karena akhirnya ia bisa bernafas normal. Ia terenyak ke dalam kursi rodanya. Jantungnya masih berpacu cepat karena ngeri dengan hal-hal yang baru dialaminya. Bajunya basah oleh keringat dingin.
Ia mengangkat wajah dan mendapati Elvira masih berdiri di tempatnya yang tadi. Namun ada yang berbeda- dan itu benar-benar mengubah segalanya.
Matanya terpicing. Terpana. Selalu seperti itu. Tak pernah berubah. Kay menyadari dirinya terpana. Selalu. Berkali-kali pun sensasinya tetap sama. Namun kini rasanya lebih menyakitkan. Karena pesona itu kini memaksanya untuk berlutut. Menuntut pengakuan bahwa ia bukanlah siapa-siapa. Bahwa Kay jauh tak sepadan.
Ini tidak boleh. Sebagai laki-laki ia harus berdiri, bukan berlutut. Tapi apa? Orang lumpuh selalu terlihat berlutut. Lebih rendah. Matanya mengeras menatap sosok itu- menatap Elvira. Berpendar-pendar dalam kilauan terik yang membutakan. Sulur-sulur rapat menggantung dan menyatu dengan rambutnya yang berwarna perunggu yang kini tampak lebih metalik. Bunga-bunga musim semi bermekaran didekat kelopak matanya.
Kaki Kay bergetar hebat ketika ia memaksa untuk berdiri. Harus.
“Tidak perlu berlebihan, manusia.” Suaranya bagai genta angin. Merdu namun mengiris. Terlalu jauh untuk diraih.
Kay menulikan diri. Apalagi yang ia punya selain harga dirinya. Yang kini seolah teronggok tak menarik minat siapapun. Ia harus bisa.
Nyeri itu menyerang dengan telak. Kaki Kay sudah kebas. Butir-butir keringat bermunculan di keningnya. Elvira memancarkan kekhawatiran sekilas─ sebelum mengubah air mukanya menjadi datar lagi.
Setelah bisa menguasai diri, Kay menatap sosok di hadapannya itu─ masih berkilau mempesona.
“Aku ingin kau berjanji satu hal padaku, manusia.” Ujar Elvira. Kay masih menatapnya tanpa berkedip. Pusaran emosi berputar-putar diantara mereka. Kerinduan, cinta, penantian, harapan─ namun semuanya disangkal.
“Apapun,” geram Kay dari sela-sela giginya yang terkatup rapat.
“Apapun?” tanya Elvira pelan. Kay mengangguk kaku. Setidaknya hanya ini yang bisa dilakukannya. Setidaknya ada yang bisa dia lakukan.
“Jaga semua ini,” Elvira merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Sulur tanaman melilit sepanjang lengan dan jemarinya yang berwarna coklat seperti kulit kayu. Matanya bergolak dalam menatap manusia di hadapannya. Tampak begitu putus asa dan hancur.
Elvira menepiskan segelintir perasaan yang sempat muncul. Andai bisa─ tapi nyatanya tidak. Dia harus segera mengakhirinya. Menyelesaikan tugasnya dan segera pergi dari kehidupan manusia itu- Kay.
“Hanya itu?”
Elvira menghela nafas, “Ya. Hanya itu. Namun aku ingin kau tahu itu berarti banyak.”
Hah. Memang.
Kay hendak berbalik pergi, “Tunggu!” ujar Elvira. Kay menahan kursi rodanya dan memutar balik. Tatapn Kay mengeras saat menatap sosok dihadapannya itu.
“Apa? Bukankah aku harus segera menemui ayahku agar dia menghentikan tindakannya yang konyol itu? Aku juga tak mau semua itu menjadi nyata!” geram Kay galak. Namun Elvira bergeming seolah tak terganggu dengan nada kasar Kay. Ia hanya terdiam dan menunggu.
Kay menarik nafas lagi sebelum berkata, “Apa yang kau mau?” tanyanya- sudah lebih tenang.
“Tinggalah disini dulu. Sudah banyak hal yang kau alami. Beristirahatlah.” Bisik Elvira.
Elvira berjalan mendekat. Pesonanya berkilau menyakitkan- setidaknya itulah yang dirasakan Kay. Elvira mengehembuskan nafasnya yang beraroma rumput basah- dan seketika itu juga mata Kay terpejam kelelahan.
*
Alma terbangun karena mendengar suara berisik dari ruang tamunya. Ia menggeliat dan turun dari tempat tidurnya, beranjak ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Setelah itu Alma mengendap-endap turun dan mengintip dari puncak tangga.
Ruang tamu penuh terisi oleh kira-kira 7 pria dewasa. Ayahnya duduk di salah satu sofa berlengan yang sudah usang. Didepannya duduk seorang laki-laki yang mengenakan jas hitam yang tampak mengilat dan baru. Di meja tergelatak beberapa map dan lembaran kertas.
Alma menahan nafas- hutan itu akan benar-benar dihancurkan sekarang. Ia mengendap turun menuju kamar Kay. Di bukanya kamar Kay namun kosong. Tempat tidurnya masih rapi seolah tidak ditiduri semalaman. Kursi roda Kay juga tidak ada.
Apa Kay pergi? Hari masih pagi dan tidak biasanya Kay pergi tanpa bilang padanya. Pikiran buruk memenuhi kepala Alma. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Kay? Bagaimana kalau Kay terjatuh di pinggir jalan dan tak bisa bangkit karena tak ada yang menolong? Atau tenggelam di kolam belakang rumah- kolamnya cukup dalam. Atau tersesat di tengah hutan?
Alma menggelengkan kepalanya berusaha menepiskan pikiran buruk. Semakin dipikirkan, Alma semakin takut dan tertekan. Ia bergegas keluar dari pintu belakang dan berlari menuju kolam. Entah ia harus merasa lega atau tetap khawatir mendapati kolam kosong. Ia berlari lagi dan memutari seluruh area rumah yang luas. Namun tetap tak ada tanda-tanda keberadaan Kay.
Alma sudah bisa mendengar suara mesin gerjaji samar-samar. Mereka sudah mulai. Alma mulai panik. Ia masih belum bisa menemukan Kay sedangkan orang-orang itu sudah mulai menghancurkan hutan mereka. Ayolah Kay, kau dimana? batin Alma panik.
Alma membungkuk sambil terengah-engah setelah hampir 1 jam berputar-putar mencari Kay. Namun tak ada sedikitpun tanda keberadaan Kay. Alma memutar jalan menuju hutan. Tampak beberapa bonggol kayu ditumpuk tinggi untuk menghalangi jalan masuk. Semuanya ditumpuk mengelilingi hutan. Mereka akan membakarnya, pikir Alma ngeri.
Alma mendekat dan menyentuh sedih batang pohon yang kasar- yang kini ditumpuk asal seperti tanggul. Ia menangis karena harus kehilangan hutannya. Kehilangan tempat bermainnya selama ini.
Saat sesegukan, mata Alma tak sengaja menatap jejak-jejak kasar ban yang mengarah ke hutan. Jejak kursi roda Kay. Jejak itu hanya tampak samar dan hampir menghilang karena sering diinjak. Namun Alma yakin kakaknya ada di dalam sana.
Alma terperanjat saat mencium bau hangus. Hutan mulai dibakar. Alma berada jauh di sudut hutan yang lain- bersebrangan dengan ayahnya. Bagaimana ia bisa memberitahu ayahnya bahwa Kay ada di dalam sana? Jarak menuju ayahnya hampir 1 km karena memutar.
Alma mulai berlari. Wajahnya kotor karena air mata dan tanah. Api di sekelilingnya semakin membesar. Alma menyingkir karena panas yang amat sangat. Padahal itu masih diluar. Bagaimana nasib Kay yang ada di dalam sana. Alma tak mau memikirkan hal itu. Ia tak mau kehilangan kakaknya. Tak lagi.
Alma terus memacu kakinya berlari. Paru-parunya terasa panas dan nyaris meledak. Otot dan urat kakinya berkontraksi habis-habisan. Kakinya terasa nyeri dan tenggorokannya kering. Namun Alma terus berlari dan berlari. Jarak pun tak terasa mendekat sedikitpun, sedang api tak bertoleransi- tetap merambat dengan cepat mengalahkan Alma.
*
“BERHENTI!!!”
Ayah menoleh kaget melihat penampilan Alma yang berantakan. Mata gadis itu bengkak dan wajahnya coreng moreng. Alas kakinya hilang entah kemana hingga kaki gadis itu lecet dan berdarah. Nafasnya tersengal-sengal.
“Ada apa, Alma?” Tanya ayahnya khawatir. Api yang berkobar-kobar menjadi latar belakang yang mengerikan.
“Berhenti!!” Alma menarik nafas sejenak. Tenggorokannya sangat sakit. “Kay…kay di dalam…sana.” Akhirnya Alma bisa mengucapkan kalimat itu. Wajah Ayahnya terbelalak ngeri. Postur tubuhnya sepenuhnya kaku. Ia telah membakar anaknya hidup-hidup.
“Padamkan sekarang.” Ujarnya lemas. Bahkan Ayah tampak tak mampu menopang tubuhnya sendiri. Alma menangkap ayah yang hampir ambruk.
“Tapi perjanjiannya, Pak?” Salah satu orang asing itu mengingatkan. Alma baru hendak marah namun ayahnya sudah bertindak lebih dulu.
“AKU BILANG PADAMKAN SEKARANG!!!!! Omong kosong dengan perjanjian! Anakku ada di dalam sana!!” Alma bahkan sampai tidak mengenali suara ayahnya yang menggelegar.
Laki-laki gendut berjas tadi yang sepertinya merupakan mandor atau pemimpin orang-orang aneh itu mengangkat suara dan berteriak dengan menggunakan pengeras suara menyuruh mereka berhenti.
Selang air mulai dinyalakan dari segala arah. api itu pertama-tama justru tampak membesar hingga membubungkan asap hitam pekat ke langit putih. Namun perlahan api mulai mengecil- namun sangat lama.
Alma hanya berharap Kay bertahan cukup lama. Ia tak akan sanggup kehilangan seorang kakak.
*
Setelah api padam, semua orang masuk ke dalam dan meneriakan nama Kay. Alma berlari bersama ayahnya menuju tepat ke tengah hutan- ke kebun Ibu.
Keadaan sangat miris. Baru beberapa menit api itu membakar, tapi kerusakan sudah terlihat dimana-mana. Pohon-pohon yang gosong dan tanah panas hampir seperti mendidih. Alma bahkan berteriak saat tersandung bangkai musang yang gosong.
Mereka sudah sampai di kebun Ibu. Kerusakannya tidak separah hutan bagian luar. Mata Alma jalang mencari-cari Kay. Disekeliling mereka hanya ada pohon gosong. Udara pun terasa mencekik dan masih penuh asap. Alma membuka mata lebar-lebar walaupun matanya terasa amat perih.
Dan disana ia melihat Kay. Alma hampir menangis saking leganya. Kay tertunduk di atas kursi rodanya- tampak sangat tenang. Abu hitam seperti mengelilinginya dan membentuk sebuah lingkaran jelaga kecil. Kay aman di dalamnya. Seolah-olah api besar tadi sama sekali tak bisa menyentuhnya.
Alma berlari diikuti ayah di belakangnya.
“Kay…Kay…” Alma mengguncangkan tubuh Kay keras-keras. Setelah beberapa lama, akhirnya Kay membuka mata. Mata Kay memerah seperti habis bangun tidur.
Alma dan ayahnya langsung berhambur memeluk Kay. Kay terheran-heran namun tetap membalas pelukan keluarganya. Ia akhirnya menarik diri dan menatap adik dan ayahnya. Penampilan mereka tampak kacau.
“Ada yang bisa menjelaskan padaku, sebenarnya apa yang terjadi?”
*
Kay termenung menatap pohon besar itu. Pohon itu luput dari api- sama seperti adiknya. Kenangan itu sepintas tampak samar-samar. Kay menghabiskan sehari penuh pertanyaan. Bagaimana ia bisa selamat? Sedang apa dia di hutan? Dan dimana Elvira?
Kay butuh waktu lama untuk menjawab pertanyaan yang satu itu. Dimana Elvira? Ia tak mungkin menjelaskan pada Alma- ia tidak bisa. Tetap tidak walaupun ia sudah tahu sekarang apa yang sebenarnya.
Elvira seorang elf- peri hutan. Ia mendekati Kay dan Alma memang untuk mencegah hutan itu dihancurkan. Kay agak sakit hati juga ketika mengetahui bahwa dirinya dijadikan semacam sandera. Namun Elvira tidak benar-benar meninggalkannya tanpa perlindungan. Ia memasang lingkaran pelindung untuk Kay. Itulah yang menjadi alasan Kay bisa selamat.
Sudah 10 tahun berlalu semenjak kejadian itu. Tak pernah sekalipun ia melihat Elvira lagi. Ia tak dapat melihat pesona itu lagi. Namun perasaannya masih sama. Pesona itu tak kan pernah surut. Pesona itu sekarang berbaur dengan rindangnya hutan. Teduhnya seperti menatap langsung mata Elvira yang hijau zamrud.
Kay tahu ia tak mungkin bisa bersama Elvira. Mereka berbeda. Ia mengakui cintanya terhadap gadis elf itu sungguh-sungguh. Namun ia tahu bagaimana mengatasinya.
Ia akan mempersembahkan hidupnya untuk lingkungan. Itulah yang paling tepat. Berada di tengah alam seolah membawanya lebih dekat pada Elvira. Dan itu membuatnya senang- sudah cukup.
SELESAI
Author : Priscilla Cinchia

No comments:
Post a Comment