Sunday, November 20

My Ghost Friend


My Ghost Friend
Mereka tak akan menyakitimu. Tak ada yang memperhatikanmu. Semua akan baik-baik saja. Aku mengucapkan kalimat itu berulang-ulang seperti doa saja. Aku─ Yesslin Wilda─ tak pernah pandai berteman, bahkan aku tak cukup baik untuk menjadi teman bagi diriku sendiri. Dan sebuah proses adaptasi menjadi pukulan bagiku. Karena itu berarti aku harus memulai semuanya dari awal lagi. padahal hal itu jelas tidak mudah.
Sekarang aku berdiri sendiri di koridor sekolah yang masih kosong. Sepi karena masih pagi sekali. Pasti orang-orang berpikir aku bersemangat untuk memulai sekolah, jelas bukan. Aku datang pagi agar aku setidaknya memiliki waktu untuk bergelung sendiri, mempersiapkan diri untuk bagian terburuk.
          Aku sudah sampai di pintu kelas baruku, alih-alih masuk ke dalam, aku justru melangkah lurus. Aku berjalan tanpa tahu kemana aku berjalan. Aku terus berjalan sampai kegelisahanku membaik, sedikit. Di ujung koridor, ada sedikit celah yang tertutup pintu kayu usang. Tak sulit menyimpulkan bahwa sesuatu di balik sana pasti terabaikan, seperti aku.
Aku mendorong pintu itu membuka. Kayu lembap itu terasa dingin di balik telapak tanganku. Aku melangkah lebih jauh setelah menutup pintu itu. Angin dingin menusuk tulang, dan aku menggigil. Kurapatkan jaketku, namun tak banyak membantu.
Halaman kecil ini hampir berantakan sepenuhnya. Ilalang tumbuh setinggi lutut dan tak beraturan. Disudut tumbuh pohon Akasia besar. Batangnya telihat kokoh walau sudah lama terasing dari dunia luar. Dan disampingnya berdiri sebuah bangunan menyerupai gym. Atapnya miring dan cat dindingnya sudah mengelupas. Engsel pintunya sudah berkarat.
Tak ada orang normal yang akan membantah kalau kukatakan bahwa bangunan ini seram. Tapi, untuk apa aku mengatakannya? Lebih dari apapun, aku merasa nyaman dengan semua ini. Aku senang mendengar langkah kakiku yang berkeretak saat aku menginjak ranting kering. Aku suka mendengar kibasan sayap burung-burung yang berbaur dengan desau angin. Sunyi namun sempurna. Dan aku menyukainya. Dari semua tempat terindah, aku memilih meyukai tempat ini? Aku tak mau munafik dengan menyangkalnya. Aku suka kok.
Pintu berderit pelan saat aku membukanya. Di dalam hawanya agak pengap, namun tidak separah bayanganku. Keadaannya lumayan rapi, berbeda dengan tampilan luarnya. Kursi dan meja kayu tertumpuk di sudut ruangan. Matras-matras di sisi satunya. Keranjang besi berisi bola-bola rusak terletak di samping matras.
Aku duduk di lantai yang berdebu. Tempat ini tidak terlalu gelap karena cukup banyak cahaya yang masuk lewat lubang di atap dan jendela yang pecah. Kupejamkan mataku dan bernafas pelan, mencoba menenangkan diri. Semenit penuh aku bertahan dengan kedamaian ini. Akupun membuka mata dan memutuskan sudah saatnya menghadapi dunia luar.
Dan disana kulihat seseorang berdiri menghalangi cahaya dari pintu yang terbuka. Sosoknya terlihat berkilau sehingga aku harus menyipitkan mata. Orang itu berjalan ke arahku. Langkahnya mantap namun terkesan santai. Wajahnya tersenyum ke arahku.
Dan sekarang aku bisa melihatnya dengan jelas. Dia mengenakan seragam yang sama denganku. Rambutnya berantakan, namun membuatnya terlihat lebih manis. Tubuhnya tinggi dan kurus. Wajahnya pucat namun tetap menawan. Aku mendapati diriku terkesima sesaat. Aku menendang kakiku sendiri kuat-kuat untuk menyadarkan diri.
”Apa?” tanyaku. Suaraku terdengar gugup dan gemetar. Ia tertawa.
”Apa?” Ia bertanya balik, tawa nya belum hilang. Aku mendengus kesal.
”Bagaimana kau bisa disini. Aku tak melihatmu datang tadi.” tuntutku. Ia masih tersenyum cemerlang. Dan darahku berdesir saat melihatnya.
”Tempat ini terbuka untuk umum, nona.” ujarnya lalu duduk di sampingku. ”Dan soal kau tidak melihat kedatanganku─ bukankah kau sedang bermeditasi tadi? Kau seharusnya memang tidak melihat.” ujarnya. Meditasi? Alasan logis, namun tetap tidak memuaskan.
Aku memutar bola mata, kesal karena tak bisa mendebat argumennya. Kulirik arloji di tanganku. Sudah hampir masuk. Aku bangkit berdiri namun dia tetap bergeming.
”Aku harus pergi. Sudah hampir bel.” ucapku. Ia hanya mengangguk. Aku menunggu namun ia tetap bergeming. Ia menatapku heran.
”Kau menunggu apa lagi?” tanyanya.
”Kau mau masuk atau tetap nongkrong disini?” tanyaku sarkartis. Ia nyengir, lalu menggeleng.
”Sebaiknya kau bergegas kalau tidak ingin telambat di hari pertamamu.” ujarya sambil menatap mataku, dan aku tahu tak ada jawaban untukku. Aku mengangkat bahu dan berbalik pergi.
”Aku Regan. Kembalilah kalau kau mau menemuiku,” Ia berkata pelan, namun aku bisa mendengar senyum dalam suaranya. Aku terus berjalan pergi. Hah, untuk apa aku menemuinya? Jangan harap.
*
Aku melewati hari itu dengan banyak pertanyaan. Namun ada pertanyaan yang lebih penting. Siapa Regan? Stella pasti tahu jawabannya. Dia mengenal hampir selurh murid di sini. Tapi Stella tidak mengenal Regan, dan dia yakin bahwa mungkin tak ada murid yang bernama Regan. Pulang sekolah, alih-alih langsung pulang seperti rencana awalku, aku malah melangkah ke balik pintu kayu lapuk itu. Persoalan siapa Regan cukup menyebalkan, dan aku harus mendapat jawaban.
”Regan...” teriaku. Aku memandang berkeliling namun tak mendapati sosok Regan dimanapun. ”Regan...” teriaku lagi lebih kencang. Namun tetap sunyi. Aku duduk di bawah pohon Akasia yang rindang. Kesal dan kepanasan. Dan pohon ini cukup membantu. Selama semenit penuh aku menarik nafas, kemudian aku mendengar suara tawa yang pelan. Dan di atas sana Regan duduk. Matanya menatapku dalam seperti tadi, namun sorotnya di penuhi tawa.
Dia berayun mengagumkan, dan melompat turun. Dia duduk di sampingku. ”Kukira kau menolak menemuiku, nona Yesslin.” ucapnya sambil membungkuk penuh penghormatan. Nafasnya menyapu wajahku. Dan sesaat aku seperti melupakan segalanya. Aku mengerjapkan mata.
”Stella tak mengenalmu.” ucapku, bingung sendiri.
Dia mengangkat sebelah alis, ”Haruskah dia mengenalku?” tanyanya balik. Aku menggeleng, mencoba menjernihkan pikiran.
”Dia mengenal hampir semua anak di sekolah ini. Tapi dia tak mengenalmu.” aku berusaha mengungkapkannya sedatar mungkin. Tapi aku bisa mendengar nada ragu dalam suaraku.
”Apakah dia juga mengenal angkatan 2009?” tanyanya. Aku mengangkat alis. Angkatan 2009 baru lulus tahun lalu.
”Bagaimana kau masih disini kalau kau anak 2009? Harusnya kau sudah lulus dan kuliah.” ujarku.
”Seharusnya,” Dia menjawab datar, lalu mengangkat bahu dan menggeleng, ”Nyatanya aku tak bisa. Aku tetap tinggal, sedangkan teman-temanku melanjutkan hidup, seperti seharusnya.” ujarnya.
”Kau?”
”Aku bukan manusia, Yess.” nadanya biasa saja seperti sedang membahas mode baju. Aku mematung dan tanganku mengepal. ”Tenang saja, aku tidak sepenuhnya hantu kok. Ya, bisa di bilang transisi.”
Aku menatapnya bingung. Ia tersenyum datar. ”Aku dikeroyok disini. Tepat setelah kelulusan. Temanku, tak suka melihat keberhasilanku dan memutuskan memberiku pelajaran ekstra.” suaranya serak saat bercerita. ”Aku belum mati, belum. Sekarang aku koma. Berbaring tak berdaya sementara melihat orang itu berkeliaran bebas. Melanjutkan hidupnya sedangkan membuat hidupku berhenti.” suaranya sarat kemarahan, kebencian. Saat menatapku lagi, tatapannya melembut.
”Apa aku membuatmu takut?” tanyanya. Aku menggeleng kaku. Ia tersenyum menyesal, ”Maaf kalau aku membuatmu takut. Tak seharusnya aku lepas kendali seperti tadi.” Aku terdiam, bukan karena marah, tapi karena aku tak tahu harus bilang apa. Apa yang akan kau lakukan saat mendengar pengakuan konvesional dari makhluk semi hantu? Buntu. Itulah jawabannya.
Regan mengulurkan tangannya padaku, kemudian cepat-cepat menariknya. Aku mengernyit bingung. ”Kalau aku menyentuhmu, jiwaku bisa tersedot masuk ke dalam tubuhmu. Dan kalau itu terjadi, mau tak mau kau harus membagi tubuhmu. Dan orang-orang lemah biasanya akan langsung gila sesudahnya.” Regan menceritakan hal itu sambil menatapku serius. Aku mengangguk mengerti.
”Sekarang maukah kau pergi denganku? Sudah lama rasanya aku tidak berteman.” ujarnya. Aku tertawa sumbang sampai perutku sakit. Regan menatapku seperti ragu apa aku sudah jadi gila.
”Aku tak pernah benar-benar berteman sepanjang hidupku. Dan sekalinya memiliki teman, justru manusia semi hantu yang kudapat.” ujarku sambil tertawa. Regan mengangkat bahu dan ikut tertawa.
*
Kami bersenang-senang. Sepanjang hari kami tertawa. Aku bisa melupakan semua permasalahanku rasanya. Yang kutahu saat itu hanya tertawa dan tertawa. Dengan Regan bersamaku. Senyumnya membuat aku senang, kuakui. Kami menghabiskan sisa hari itu di Taman Bunga. Benar-benar indah. Regan juga mengajakku mendaki bukit kecil, yang ternyata letaknya tak jauh dari rumah ayahku.
Sore harinya, Regan membawaku ke Rumah Sakit tempatnya di rawat. Aku sempat memekik pelan. Kondisi Regan sangat parah. Dia hanya hidup dari tunjangan alat rumah sakit. Sekujur tubuhnya hampir terbalut semua seperti mumi. Nafasnya pendek-pendek. Wajahnya begitu pucat. Lebih pucat dari Regan di sampingku. Regan menatap tubuhnya sedih.
”Itu aku. Menyedihkan.” ujarnya pelan. Aku mengulurkan tangan, hendak menenangkannya. Aku tak tahan melihat kesedihan di matanya. Regan mengejang dan menghindar dengan cepat, hampir tak terlihat mataku. Tiba-tiba saja dia sudah ada kurang lebih 3 meter dari tempatku berdiri. Wajahnya keras.
”Jangan sentuh aku,” ujarnya dari sela-sela bibir yang terkatup rapat. Tanganku masih dalam posisi hendak menyentuhnya. Dia menatapku serius. Ketika aku tetap bergeming dia melanjutkan berbicara, tapi tetap tidak mendekat, ”Kau tahu sangat berbahaya kalau kau sampai menyentuhku?” tanyanya pelan. Aku mengangguk. ”Jangan pernah coba lakukan itu lagi.” perintahnya. Aku menelan ludah dengan susah payah, ingin sekali menghiburnya, tapi tak bisa menyentuhnya. Aku mengangguk pelan. Regan tersenyum miris, dan melangkah maju ke sampingku lagi. Dia memberi isyarat agar aku duduk di koridor rumah sakit.
”Betapa berbahayanya hal itu.” Regan berbicara, suaranya tersiksa. ”Dulu, aku menemukan orang yang mau menolongku membalaskan dendam. Aku sangat marah waktu hidupku terpaksa berhenti. Aku berusaha mencari cara untuk membalas orang itu, tapi tidak bisa. Akhirnya suatu saat aku tahu suatu rahasia. Aku bisa berbagi tubuh dengan manusia.” Regan menghela nafas sejenak. ”Saat aku menyentuh manusia, jiwaku tersedot masuk. Sedangkan jiwa manusia yang kutumpangi harus terdesak. Evelyn, sahabat yang kucintai, bisa melihatku seperti kau. Dia mengijinkan aku untuk masuk ke dalam tubuhnya dan bersedia membantuku menghukum Alex.
”Saat itu aku belum tahu banyak hal, begitu juga Eve. Aku terlalu diliputi kebencian dan dipenuhi pikiran balas dendam. Aku tak bisa memikirkan hal lain. Fakta bahwa Eve hanya gadis biasa yang lemah terabaikan. Aku masuk, dan Eve...” suaranya menggantung. Aku menatap wajah Regan namun tatapannya kosong.
”Dia meninggal.” ucapnya. Benci pada dirinya sendiri. ”Emosiku terlalu kuat. Dendam dan kebencian. Eve tak mampu menampungnya. Dia mati hampir seketika saat aku menyentuhnya.” Suara Regan menjadi semakin serak dan aku tak tahan melihatnya. ”Aku membenci hal itu lebih dari apapun. Aku benci mengambil hidup orang lain seperti hidupku di ambil. Dan orang itu Eve, bayangkan saja. Aku muak. Aku memutuskan...” suara Regan lagi-lagi menggantung.
”Bahwa balas dendam tidak penting lagi. Bahwa apapun akan kulakukan agar bisa mengembalikan Eve. Tapi nyatanya tidak bisa.” Dia menggeleng putus asa. Regan mengangkat wajahnya dan menatapku, ”Jadi sekarang kau tahu betapa berbahayanya melakukan hal tadi. Aku tak ingin kau berakhir sepertinya.”
*
Regan membawaku ke taman rumah sakit yang sudah sepi. Bangku taman terasa dingin. Kami duduk berdiam diri. Aku memikirkan banyak hal saat itu. Aku sangat ingin membantu Regar. Entah kenapa aku merasa harus membantunya, temanku. Aku mentertawakan gagasan itu. Aku bahkan tak memikirkan kemungkinan akan berakhir seperti Eve.
”Regan,” Aku memutar badan menghadapnya. Regan menatap mataku. ”Aku ingin kau mencobanya.” kataku. Regan mengangkat sebelah alis, tampak berpikir, lalu tatapannya mengeras.
”Tidak.” katanya datar.
”Aku ingin membantumu.” ujarku mantap. Regan menggeleng dan menatapku, marah?
”Tahu kah kau apa konsekuensinya?” teriaknya. Aku mengangguk yakin. ”Kau tidak tahu apa yang kau katakan Yes. Tega kah kau membiarkan aku merasa bersalah seumur hidup karena membunuhmu?”
”Tak akan terjadi.” balasku.
Regan tertawa miris, ”Oh, cerdasnya dirimu! Sebegitu yakinnya aku tak kan membunuhmu.” ujarnya sinis. ”Tak ada yang tahu, bahkan aku pun tidak.”
”Ijinkan aku,” aku melangkah mendekat namun Regan menghilang secepat tadi.
”Jangan coba-coba.” suaranya terdengar tapi aku tak tahu dia dimana. Dan dia ada di sana, di balik lampu taman. Matanya menatapku sedih.
”Aku hanya ingin membantumu. Aku menyayangimu. Aku bukan orang yang lemah. Aku berjanji akan bertahan. Kau hanya perlu mengontrol emosimu sendiri agar tidak terlalu menyakitiku.”
”Akan sangat sakit, walaupun aku bisa mengontrolnya.” ujar Regan. Aku menggeleng keras kepala.
”Aku bisa menahannya. Percayalah padaku, Reg.” Aku berbicara sambil melangkah mendekat. Regan mengejang namun tetap di tempatnya. ”Percayalah padaku.” Lalu aku menyentuh tangannya. Menggenggamnya dan merasakan Regan masuk ke dalam diriku. Dingin dan agak membuatku sesak.
Ada satu hal yang begitu kuat sekarang, pikirannya, ”Alexander Frisco”
Oh...oh... Mungkinkah dia orang yang sama dengan first loveku?
*

No comments:

Post a Comment