Thursday, June 6

Science Battle

SCIENCE BATTLE
Chapter 2
Sweilyn…” gumam Brandon pelan.
“Apa?” Tanya Elmer tak mengerti. Elmer mengisi lagi gelas minumannya dan menyesapnya perlahan.
“Nama keluarga gadis itu, Sweilyn.” Lagi-lagi Brandon terlihat seperti berbicara pada diri sendiri. Elmer mengeluarkan sebatang rokok dan menyulutnya.
“Lantas?” ujar Elmer skeptis. Brandon akhirnya tersadar dari lamunannya dan mengernyit menatap Elmer.
“Kau selama ini mengenal dengan sempurna semua lawan mainmu- seberapapun tidak pentingnya mereka. Tapi kau justru jarang bergaul dengan bangsawan kelas atas lainnya. Sampai nama keluarga Sweilyn pun kau tidak tahu.” Brandon berdecak dan geleng-geleng kepala. Anak muda di hadapannya ini- yang ia kenal sejak kecil- benar-benar hanya memusatkan perhatian pada judi.
Dia sangat lihai dan beruntung. Selain itu dia juga ahli matematika. Bukan ahli lagi- bisa dibilang  dia itu berbakat alam, jenius, master, dewa. Dan semua bakat itu sangat membantu di dunia yang dicintainya ini. Dia sangat bersemangat karena dia tahu kelak dia akan mewarisi Dark’z Rain Kasino- kasino termegah dan terelit yang pernah ada.
Namun buruknya, Elmer terlalu terfokus. Dia tidak akan memperhatikan hal lain selain kartu, lawan main dan uang. Dia tak pernah berminat menjalin koneksi dengan kaum kelas atas lain. Baginya lebih baik bermain judi di bawah tanah daripada berpesta di ballroom hotel.
“Sweilyn,” gumam Brandon lagi. “Adalah keluarga terkaya di Velasquez. Mereka benar-benar yang nomor satu dalam menemukan dan menciptakan teknologi terbaru. Mereka jenius dan berbakat alam. Kecerdasan yang hampir terasa irasional. Cerdas- tapi kelicikannya tidak diragukan. Semua hasil penemuan mereka jenius, menakjubkan, namun terkadang mengerikan.”
Elmer menghembuskan asap putih dan membuat Brandon meringis? Brandon memang tak pernah tahan dengan asap rokok. “Menarik,” gumam Elmer. “Dan perkiraanmu, kemana gadis itu akan disekolahkan?” Tanya Elmer pelan. Fakta tentang keluarga Sweilyn tidak mengusiknya sama sekali.
Brandon menghela nafas, “Akademi Vosloo- memangnya kau pikir dimana lagi?”
 ***
Gracia Rosette duduk di pinggir sungai. Kakinya terbenam separuh di air sungai yang dingin. Di tangannya tergenggam toples berisi ikan salmon yang baru ia tangkap tadi. Baju Grace hampir basah secara menyeluruh. Tak apalah. Yang terpenting ia berhasil mengambil objek untuk penelitiannya.
Ia masih penasaran akan kebiasaan ikan salmon yang selalu bermigrasi ketika musim kawin tiba. Berbeda dengan family sejenisnya- ikan trout yang hidupnya menetap- ikan salmon suka bermigrasi.
Pada awalnya salmon kecil hidup di air tawar selama 3 tahun lalu bermigrasi ke laut. Setelah cukup dewasa dan tiba masa reproduksi, ia kembali ke air tawar, tepat ke tempatnya dilahirkan.
Keanehan tingkah makhluk ini menarik perhatian Grace. Walaupun tidak bisa berenang, dengan bermodalkan pelampung, Grace memberanikan diri menangkap salmon itu. Dan ia berhasil.
Salmon ini berukuran sedang berwarna agak keperakan. Masih usia muda. Sudah jelas salmon ini belum pernah bermigrasi. Di laboratoriumnya, Grace sudah mendapat contoh salmon yang sudah bermigrasi ke laut.
Grace mendesah puas dan tak berhenti memandangi salmon yang kini menatapnya dari balik toples. Ia tersenyum. Tapi hanya sesaat. Tubuh Grace mengejang saat pendengarannya menangkap suara desisan itu. Awalnya samar, namun semakin jelas.
Grace menelan ludah gugup dan melirik takut-takut ke belakangnya. Jantungnya berhenti berdetak sesaat. Tubuhnya mematung saat mendapati kobra itu sudah berdiri setinggi 1 meter tepat di belakangnya. Tanpa berpikir Grace meloncat ke arah sungai. Melupakan fakta bahwa ia memiliki kemampuan tenggelam dengan cepat. Lebih baik mati tenggelam daripada dimangsa kobra.
Grace bisa merasakan air danau yang tawar dan dingin itu memenuhi rongga mulut dan turun ke tenggorokannya- membuat perutnya penuh terisi air hingga terasa membuncit. Air itu juga menyumbat saluran pernafasannya. Yang bisa ia rasakan hanya air itu, dan betapa sakit paru-parunya.
Rasanya sesak, amat sesak. Perasaan itu terus menyiksa Grace hingga gelembung-gelembung udara yang terasa kasar berusaha mendesak masuk, memaksa air itu keluar. Rasanya perih saat air itu merambat naik melewati kerongkongan Grace dan akhirnya bisa keluar.
Grace terbatuk-batuk hebat. Ia bisa merasakan air yang ia muntahkan. Sangat banyak. Matanya berkunang-kunang dan tidak terfokus. Setelah air itu sudah keluar sepenuhnya, barulah pandangan Grace bisa terfokus. Ia mendapati sebuah wajah dengan rambut ikal yang menempel karena basah. Sorot matanya panik. Dan baru Grace perhatikan matanya berwarna biru- sangat biru.
“Bagaimana keadaanmu?”
Grace terperangah dan mendapati sosok lain yang berdiri tak jauh dari sosok ikal itu. Orang itu lebih tinggi dari si cowok ikal dengan rambut model spike teratur. Rambutnya berwarna coklat lumpur namun sangat bergaya. Penampilannya seperti model.
Grace terbatuk sebentar kemudian menjawab, “Thanks,”
“Apa yang kau lakukan? Menerjunkan diri ke sungai berarus deras seperti ini tanpa bakat berenang? Itu namanya bunuh diri.” Sergah cowok tinggi itu kesal.
Grace memutar bola mata, “Bukan begitu,” ujarnya pelan. “Aku sedang mencari ikan salmon. Sudah dapat. Tapi tiba-tiba ada kobra besar. Aku panik dan langsung terjun tanpa berpikir.”
“Kobra di tempat ini?” gumam cowok ikal itu. Ia mengenakan kembali kaca mata perseginya.
Cowok tinggi itu mengernyit, “Rasanya mustahil. Aku sudah tinggal lama di daerah ini, dan tak pernah sekalipun mendapati ular. Apalagi kobra ganas.” Gumamnya.
Grace mengangkat bahu- mungkin ini memang hari sialnya.
“Aku Lionell. Lionell Oswald.”
“Apa kau anak Profesor Oswald?” Tanya Grace penasaran. Lionell tersenyum dan mengangguk.
“Aku kenal ayahmu. Aku Grace. Gracia Rosette.”
“Ah, Profesor Erland?” sahut Lionell.
Grace separuh merengut, “Aku lebih suka kau tidak membawa nama keluargaku.” Ujarnya.
“Kenapa?”
“Aku ingin di kenal dengan namaku sendiri- bukan nama besar ayahku.”
Lionell tertawa, “Oke oke, aku mengerti. Oiya, ini temanku-
“Zack. Zack Lexus.” Ucap si cowok ikal singkat tanpa merasa perlu membahas status keluarganya juga.
Grace tersenyum dan menyibak rambut panjangnya yang masih basah, “Biar bagaimanapun juga, terima kasih Zack.”
***

# to be continued in chapter 3 :)

662013
(teringat kisah lama)
Philomena Olaf

No comments:

Post a Comment