SCIENCE BATTLE
Chapter 2
“Sweilyn…”
gumam Brandon pelan.
“Apa?” Tanya Elmer tak
mengerti. Elmer mengisi lagi gelas minumannya dan menyesapnya perlahan.
“Nama keluarga gadis itu,
Sweilyn.” Lagi-lagi Brandon terlihat seperti berbicara pada diri sendiri. Elmer
mengeluarkan sebatang rokok dan menyulutnya.
“Lantas?” ujar Elmer skeptis.
Brandon akhirnya tersadar dari lamunannya dan mengernyit menatap Elmer.
“Kau selama ini mengenal dengan
sempurna semua lawan mainmu- seberapapun
tidak pentingnya mereka. Tapi kau justru jarang bergaul dengan bangsawan kelas
atas lainnya. Sampai nama keluarga Sweilyn pun kau tidak tahu.” Brandon
berdecak dan geleng-geleng kepala. Anak muda di hadapannya ini- yang ia kenal sejak kecil- benar-benar hanya memusatkan perhatian
pada judi.
Dia sangat lihai dan beruntung.
Selain itu dia juga ahli matematika. Bukan ahli lagi- bisa dibilang dia itu berbakat alam, jenius, master, dewa.
Dan semua bakat itu sangat membantu di dunia yang dicintainya ini. Dia sangat
bersemangat karena dia tahu kelak dia akan mewarisi Dark’z Rain Kasino- kasino termegah dan terelit yang pernah
ada.
Namun buruknya, Elmer terlalu
terfokus. Dia tidak akan memperhatikan hal lain selain kartu, lawan main dan
uang. Dia tak pernah berminat menjalin koneksi dengan kaum kelas atas lain.
Baginya lebih baik bermain judi di bawah tanah daripada berpesta di ballroom hotel.
“Sweilyn,” gumam Brandon lagi.
“Adalah keluarga terkaya di Velasquez. Mereka benar-benar yang nomor satu dalam
menemukan dan menciptakan teknologi terbaru. Mereka jenius dan berbakat alam.
Kecerdasan yang hampir terasa irasional. Cerdas- tapi kelicikannya tidak diragukan. Semua hasil penemuan
mereka jenius, menakjubkan, namun terkadang mengerikan.”
Elmer menghembuskan asap putih
dan membuat Brandon meringis? Brandon memang tak pernah tahan dengan asap
rokok. “Menarik,” gumam Elmer. “Dan perkiraanmu, kemana gadis itu akan
disekolahkan?” Tanya Elmer pelan. Fakta tentang keluarga Sweilyn tidak
mengusiknya sama sekali.
Brandon menghela
nafas, “Akademi Vosloo- memangnya kau
pikir dimana lagi?”
***
Gracia Rosette duduk di pinggir
sungai. Kakinya terbenam separuh di air sungai yang dingin. Di tangannya
tergenggam toples berisi ikan salmon yang baru ia tangkap tadi. Baju Grace
hampir basah secara menyeluruh. Tak apalah. Yang terpenting ia berhasil
mengambil objek untuk penelitiannya.
Ia masih penasaran akan
kebiasaan ikan salmon yang selalu bermigrasi ketika musim kawin tiba. Berbeda
dengan family sejenisnya- ikan trout
yang hidupnya menetap- ikan salmon
suka bermigrasi.
Pada awalnya salmon kecil hidup
di air tawar selama 3 tahun lalu bermigrasi ke laut. Setelah cukup dewasa dan
tiba masa reproduksi, ia kembali ke air tawar, tepat ke tempatnya dilahirkan.
Keanehan tingkah makhluk ini
menarik perhatian Grace. Walaupun tidak bisa berenang, dengan bermodalkan
pelampung, Grace memberanikan diri menangkap salmon itu. Dan ia berhasil.
Salmon ini berukuran sedang
berwarna agak keperakan. Masih usia muda. Sudah jelas salmon ini belum pernah
bermigrasi. Di laboratoriumnya, Grace sudah mendapat contoh salmon yang sudah
bermigrasi ke laut.
Grace mendesah puas dan tak
berhenti memandangi salmon yang kini menatapnya dari balik toples. Ia
tersenyum. Tapi hanya sesaat. Tubuh Grace mengejang saat pendengarannya
menangkap suara desisan itu. Awalnya samar, namun semakin jelas.
Grace menelan ludah gugup dan
melirik takut-takut ke belakangnya. Jantungnya berhenti berdetak sesaat.
Tubuhnya mematung saat mendapati kobra itu sudah berdiri setinggi 1 meter tepat
di belakangnya. Tanpa berpikir Grace meloncat ke arah sungai. Melupakan fakta
bahwa ia memiliki kemampuan tenggelam dengan cepat. Lebih baik mati tenggelam
daripada dimangsa kobra.
Grace bisa merasakan air danau
yang tawar dan dingin itu memenuhi rongga mulut dan turun ke tenggorokannya- membuat perutnya penuh terisi air hingga
terasa membuncit. Air itu juga menyumbat saluran pernafasannya. Yang bisa ia
rasakan hanya air itu, dan betapa sakit paru-parunya.
Rasanya sesak, amat sesak. Perasaan
itu terus menyiksa Grace hingga gelembung-gelembung udara yang terasa kasar
berusaha mendesak masuk, memaksa air itu keluar. Rasanya perih saat air itu
merambat naik melewati kerongkongan Grace dan akhirnya bisa keluar.
Grace terbatuk-batuk hebat. Ia
bisa merasakan air yang ia muntahkan. Sangat banyak. Matanya berkunang-kunang
dan tidak terfokus. Setelah air itu sudah keluar sepenuhnya, barulah pandangan
Grace bisa terfokus. Ia mendapati sebuah wajah dengan rambut ikal yang menempel
karena basah. Sorot matanya panik. Dan baru Grace perhatikan matanya berwarna
biru- sangat biru.
“Bagaimana keadaanmu?”
Grace terperangah dan mendapati
sosok lain yang berdiri tak jauh dari sosok ikal itu. Orang itu lebih tinggi
dari si cowok ikal dengan rambut model spike teratur. Rambutnya berwarna coklat
lumpur namun sangat bergaya. Penampilannya seperti model.
Grace terbatuk sebentar kemudian
menjawab, “Thanks,”
“Apa yang kau lakukan?
Menerjunkan diri ke sungai berarus deras seperti ini tanpa bakat berenang? Itu
namanya bunuh diri.” Sergah cowok tinggi itu kesal.
Grace memutar bola mata, “Bukan
begitu,” ujarnya pelan. “Aku sedang mencari ikan salmon. Sudah dapat. Tapi
tiba-tiba ada kobra besar. Aku panik dan langsung terjun tanpa berpikir.”
“Kobra di tempat ini?” gumam
cowok ikal itu. Ia mengenakan kembali kaca mata perseginya.
Cowok tinggi itu mengernyit,
“Rasanya mustahil. Aku sudah tinggal lama di daerah ini, dan tak pernah
sekalipun mendapati ular. Apalagi kobra ganas.” Gumamnya.
Grace mengangkat bahu- mungkin ini memang hari sialnya.
“Aku Lionell. Lionell Oswald.”
“Apa kau anak Profesor Oswald?”
Tanya Grace penasaran. Lionell tersenyum dan mengangguk.
“Aku kenal ayahmu. Aku Grace.
Gracia Rosette.”
“Ah, Profesor Erland?” sahut
Lionell.
Grace separuh merengut, “Aku
lebih suka kau tidak membawa nama keluargaku.” Ujarnya.
“Kenapa?”
“Aku ingin di kenal dengan
namaku sendiri- bukan nama
besar ayahku.”
Lionell tertawa, “Oke oke, aku
mengerti. Oiya, ini temanku-”
“Zack. Zack Lexus.” Ucap si
cowok ikal singkat tanpa merasa perlu membahas status keluarganya juga.
Grace tersenyum dan menyibak
rambut panjangnya yang masih basah, “Biar bagaimanapun juga, terima kasih
Zack.”
***
# to be continued in chapter 3 :)
662013
(teringat kisah lama)
Philomena Olaf

No comments:
Post a Comment