Nappeun Yeoja
나쁜 여자
(part 5)
END
Angin malam yang dingin seperti sahabat lama yang
merangkul Hyun-Ra. Namun saat ini rasanya lebih menyenangkan. Karena Hyun-Ra
tidak lagi berlari dari ketakutannya. Saat ini ia benar-benar bisa menikmati
sensasi balapan yang sebenarnya.
Suara klakson membuat Hyun-Ra menoleh. Tampak
Dong-Sun sedang tersenyum simpul di balik helm gelapnya. Hyun-Ra balas
mengangkat jempolnya untuk Dong-Sun. laki-laki itu menjulurkan lidahnya dan
melesat melewati Hyun-Ra.
Sial! Hyun-Ra kecolongan.
Dong-Sun sampai semenit lebih awal dari Hyun-Ra.
Laki-laki itu berdiri dengan pongah di samping motor besarnya. Hyun-Ra berhenti
dan menatap Dong-Sun sambil merengut.
“Hei, yang tadi itu curang.” Gerutunya.
Dong-Sun tertawa keras. “Semua cara itu sah dalam
urusan cinta dan perang, nona muda.”
Hyun-Ra berdecak kesal.”Sudahlah. sekarang tinggal
kau ikuti aturan mainku. Ayo naik.” Ujar Dong-Sun seraya mengenakan helmnya
kembali.
Dengan enggan Hyun-Ra naik ke atas motor Dong-Sun.
“Siap? Aku akan membuatmu terpesona malam ini,
Park Hyun-Ra.”
Oh,
kata-kata itu…
***
Pertama-tama Dong-Sun membawa Hyun-Ra ke pinggiran
Han River. Mereka duduk santai di pinggiran sungai Han, mengamati kerlap-kerlip
lampu indah di atasnya. Hyun-Ra menghirup aroma basah sungai yang gelap itu. Ia
terkejut ketika mendapati dirinya lebih menyukai aroma laut.
Dong-Sun mengajaknya untuk makan malam di kapal
pesiar. Hyun-Ra sadar bahwa Dong-Sun sedang mencoba membuatnya terpesona. Namun
hatinya sudah diluar genggamannya sendiri. Dalam satu hari, Jung-Su sudah
membawa pergi hati Hyun-Ra. Pergi dan entah apakah ia akan kembali.
Hyun-Ra berusaha terlihat ceria sepanjang malam
itu. Ia tak boleh mengecewakan Dong-Sun. Laki-laki itu banyak tertawa dan
tersenyum malam ini. Dan Hyun-Ra senang melihatnya.
Ketika Hyun-Ra menguap lebar, Dong-Sun
bertanya,”Kau lelah?”
“Hmm…” gumam Hyun-Ra. Dia memang lelah. Dan
sekarang sudah hampir lewat tengah malam.
“Sebentar lagi ya. Aku akan membawamu ke suatu
tempat, habis itu kita pulang.”
“Kemana lagi?” tanya Hyun-Ra.
“Rahasia. Kau pasti suka.” Ujar Dong-Sun penuh
misteri.
Hyun-Ra menyipitkan mata kesal.
Ternyata Dong-Sun membawanya ke N Seoul Tower.
Hanya ada beberapa pasangan selain mereka yang juga sedang menikmati keindahan
malam kota Seoul. Hyun-Ra menatap Seol yang masih bermegah walaupun mungkin
sekarang sudah lewat tengah malam.
Di atas sini, terangkum seisi kota dengan segala
aktivitasnya. Andai dia bisa memasangkan zoom, mungkin Hyun-Ra bisa menemukan
Jung-Su. Ah, Jung-Su… Apakah
laki-laki itu berada di suatu tempat dibawah sana? Tapi dimana?
“Hei, selamat ulang tahun, Park Hyun-Ra.” Ucap
Dong-Sun.
Hyun-Ra menoleh dan melihat Dong-Sun sedang
memegang setangkai mawar putih. Dulu, Hyun-Ra pernah menyukai mawar putih.
Dulu. Sekarang ia lebih suka pada boneka sapi di dalam kamar tidurnya.
“Wah, kau memberiku kejutan ya?” gumam Hyun-Ra
sambil tersenyum.
Dong-Sun memasang senyum termanisnya. “Tunggu. Ada
lagi.”
Hyun-Ra menatapnya dengan pandangan bertanya.
Dong-Sun tampak mengeluarkan kotak beludru merah dar kantong jaketnya. Isi
kotak itu membuat Hyun-Ra kaget. Ada cincin di sana. Apa yang mau Dong-Sun
lakukan?
“Aku tahu…aku tahu. Tapi biarkan aku
menyelesaikannya dulu.” Sela Dong-Sun sebelum Hyun-Ra sempat protes dan mengajukan
sejuta pertanyaan.
“Aku tahu ini sudah terlalu lama. Aku terlalu lama
menunggumu memberi sinyal. Tapi aku takut aku terlalu lama menunggu sehingga
mungkin aku kebobolan. Aku tak mau. Jadi, maukah kau menjadi pacarku dan
membuatku berhenti menunggu?”
Hyun-Ra terdiam lama. Dulu ia akan sangat bahagia
dengan apa yang dilakukan Dong-Sun sekarang. Tapi saat ini… Ia bahkan tak
memiliki apapun untuk diberikan pada Dong-Sun. Hatinya sudah dibawa pergi oleh
Lee Jung-Su. Lagi-lagi Hyun-Ra mengalihkan pandang ke gemerlap kota Seoul di
bawah sana. Bertanya-tanya dimanakah Jung-Su berada.
“Hyun-Ra?” bisik Dong-Sun lembut, menyadarkan
dimana Hyun-Ra berada sekarang.
Hyun-Ra berdeham gugup, “Ehm, aku… Bagaimana
dengan Dae-Hya?”
Alasan lemah. Bodoh. Seolah Hyun-Ra langsung
mengakui kebohongannya. Dan tampaknya bukan hanya Hyun-Ra yang menyadarinya.
Dong-Sun menatapnya dengan pandangan terluka.
“Apakah aku terlambat?” bisiknya.
Hyun-Ra lagi-lagi mengalihkan pandang nun jauh di
bawah sana. Berharap Jung-Su bisa muncul dan membantu menjelaskan semua hal ini
kepada Dong-Sun.
“Maaf, Dong-Sun.” ucap Hyun-Ra pelan.
Dong-Sun terdiam beberapa saat. Namun menatap
Hyun-Ra yang menunduk sedih memaksanya untuk mampu mengendalikan dirinya.
Mungkin memang salahnya. Dong-Sun telah lama menunggu. Dan ia terlambat.
“Hei, kenapa sedih seperti itu. Sudahlah. Ini kan
hari ulang tahunmu. Kau harus bahagia. Aku tak mau merusaknya.” Ujar Dong-Sun
ceria. Hyun-Ra masih bisa melihat kepedihan itu di mata Dong-Sun. Ia menunduk
lagi. Tak menyukai apa yang dilihatnya.
“Sudahlah Park Hyun-Ra. Tidak apa-apa. Kita masih
bersahabat kan?”
Hyun-Ra memberanikan diri menatap Dong-Sun. Tatapan
Dong-Sun sangat tulus. Andai Hyun-Ra bisa mengembalikan perasaannya seperti dulu, mungkin akan jauh
lebih mudah. Tapi, dia tidak bisa. Pikriannya sekarang hanya dipenuhi oleh
sosok Jung-Su.
“Hmm… Jadi, siapa orangnya, Park Hyun-Ra?”
***
Telepon Hyeon-Reu pagi harinya membangunkan
Hyun-Ra.
“Hei, Park Hyun-Ra. Jangan lupa. Aku sudah
menyiapkan makan malam untuk merayakan hari ulang tahunmu. Datang ke
apartemenku jam tujuh nanti, oke?” Suara ceria Hyeon-Reu terdengar begitu
bersemangat.
“Tapi nanti malam aku ada balapan, onni.” Gumam Hyun-Ra.
“Pokoknya kau tak boleh mangkir. Ini kan pestamu.
Oh iya, aku nanti aku akan mengenalkanmu pada tunanganku. Jadi kau harus datang
malam ini, mengerti?” desak Hyeon-Reu.
Hmm… tunangan. Itu kabar baik.
“Kenapa kau baru memberitahuku, onni?” gumam Hyun-Ra kesal. Hyeon-Reu
hanya menanggapinya dengan tertawa.
“Jangan mengeluh padaku. Laki-laki itu pemalu
sekali. Tapi dia berhasil ku bujuk untuk datang ke pestamu. Jadi kau harus
datang.”
“Baiklah. Aku kan harus member suara untuk
laki-laki itu bukan?”
Kim Hyeon-Reu tertawa riang, “Terserahlah. Tapi
aku yakin suara yang kau berikan akan sangat positif. Dia mudah sekali membuat
dirinya disukai.”
Hyun-Ra tersenyum lebar. Ikut bahagia untuk
sepupunya itu.
***
Hyun-Ra tadinya berniat mengajak Dong-Sun, tapi
bingung bagaimana cara menghubunginya. Ia ngeri membayangkan harus makan malam
bersama dua orang yang sedang kasmaran. Bisa-bisa dia jadi nyamuk di tengah
pestanya sendiri.
Dengan ragu-ragu Hyun-Ra menghubungi Dong-Sun.
“Hei, Dong-Sun. Kau bisa-
ehm, apa? Baiklah.”
Hyun-Ra mendesah frustasi. Mungkinkah Dong-Sun
marah padanya?
Dengan berat hati Hyun-Ra besiap-siap untuk datang
ke apartemen Hyeon-Reu. Dia berusaha mengendalikan dirinya. Hyun-Ra harus
terlihat ceria. Itu kan yang dilakukan semua orang pada acara ulang tahun
mereka.
Hyun-Ra menekan bel apartemen Hyeon-Reu.
Pikirannya masih setengah tersangkut dengan Dong-Sun yang mengabaikannya.
Salahkah Hyun-Ra menolaknya? Menolak Dong-Sun untuk orang yang bahkan entah ada
dimana. Dan sekarang Dong-Sun menghindarinya. Bagaimana ini?
Pintu terbuka dan Hyun-Ra memasang senyum cerah
sebelum sepupunya bisa bertanya macam-macam. Hyun-Ra masih mau menyimpan
masalah itu untuk dirinya sendiri. Ia belum siap menceritakannya pada
Hyeon-Reu.
Tapi yang berdiri di sana bukan Hyeon-Reu. Bukan
Hyeon-Reu yang membukakan pintu.
Tapi Jung-Su. Ya, Lee Jung-Su.
***
Untuk sedetik itu Hyun-Ra tak tahu bagaimana ekpresinya.
Terkejut… jelas. Lalu beribu perasaan lain mulai mendesak masuk. Memenuhi
kepala dan turun ke hatinya. Hyun-Ra menyentuh dadanya. Menyadari jantungnya
berdegup keras. Sakit.
Lee Jung-Su tampak sama terkejutnya dengan
Hyun-Ra. Namun hanya sedetik sebelum laki-laki itu bisa menguasai dirinya lagi.
Suara ceria Hyeon-Reu terdengar sayup menuju ke pintu. Hyun-Ra tersadar dan
buru-buru membenahi ekpresinya.
“Nah, Park Hyun-Ra… tunggu apalagi. Ayo masuk.”
Ujar Hyeon-Reu sembari menyelipkan tangannya ke pinggang Lee Jung-Su. Ia
tampaknya tidak menyadari perubahan postur tunangan dan sepupunya yang mendadak
kaku.
Lee Jung-Su yang pertama berhasil menguasai
keadaan. “Benar. Ayo masuk.”
Jung-Su memutar badan sambil merangkul Hyeon-Reu.
Hyun-Ra tergagap mundur. Sakit sekali. Di sini, di dadanya. Apakah ia sanggup
berada disana? Sanggupkah? Hyun-Ra menguatkan diri. Ya, bertahanlah setidaknya
beberapa menit. Cepat habiskan makanmu dan pergi dari sana.
Hyeon-Reu menata tempat makan di balkon
apartemennya yang lumayan luas. Dengan begitu mereka bisa makan malam dengan
ditemani angin malam Seoul yang sejuk. Tapi tampaknya baik Hyun-Ra maupun
Jung-Su sudah kehilangan nafsu makan mereka. Namun dibalik itu, mereka mencoba
memainkan peran calon ipar dengan baik.
“Jadi Hyun-Ra, kenalkan ini tunanganku-
Lee Jung-Su. Jung-Su, ini adik sepupuku, Park Hyun-Ra.” Mereka berjabat tangan
dengan sopan. Hyun-Ra baru menyadari betapa tangannya begitu dingin ketika
merasakan hangatnnya tangan Jung-Su yang terasa menyengat sewaktu menjabatnya
dengan kaku.
“Aku kira kau mengajak Dong-Sun, Hyun-Ra?”
Pertanyaan Hyeon-Reu memecah lamunan Hyun-Ra.
“Hmm, apa?” tanya Hyun-Ra bingung.
“Dong-Sun… Kupikir kau mengajaknya.”
Hyun-Ra menggeleng, “Oh, tidak. Dia sedang sibuk.”
Hyeon-Reu mengernyit, “Ada apa Hyun-Ra? Aku tahu
pikiranmu sedang kacau sekarang.” Jantung Hyun-Ra serasa berhenti. Ia lupa
bahwa Hyeon-Reu sangat jeli tentang dirinya.
“Apa karena Dong-Sun?” Tebak Hyeon-Reu.
Hyun-Ra mendesah lega, “Hmm…” Untunglah…
Disamping itu Jung-Su mendengarkan tanpa
berkomentar. Dia tampak terfokus pada makanan di hadapannya. Hyeon-Reu yang
melihat hal itu berdecak sebal.
“Sudah kubilang, Jung-Su sangat pemalu. Tapi
tunggu sampai kau mengenalnya lebih lama, Hyun-Ra. Kau akan tahu dia sangat
menyenangkan.” Ujar Hyeon-Reu sembari menggenggam tangan Jung-Su mesra. Hyun-Ra
membuang muka. Ia tak tahan.
“Aduh…”
Hyun-Ra dan Jung-Su menoleh kaget.
“Kenapa?” Jung-Su yang pertama membuka suara.
Hyeon-Reu meringis kecil, “Sepertinya aku sakit
perut. Aku ke toilet dulu ya. Kalian berdua, cobalah mengobrol. Aku
memperkenalkan kalian untuk saling mengenal bukan saling berdiam diri. Astaga
perutku-”
Hyeon-Reu setengah berlari. Kini hanya tinggal
Hyun-Ra dan Jung-Su. Hyun-Ra tak pernah membayangkan ada situasi yang lebih
canggung daripada saat itu. Begitu menyesakkan hingga melompat dari sana
menjadi pilihan yang sangat menggoda.
“Park Hyun-Ra?” Ucap Jung-Su pelan.
Hyun-Ra menoleh,”Dira itu nama Indonesiaku. Aku
hanya memakainya di Indonesia.”
Jung-Su mengangguk pelan. Tampak bingung. Jarang
sekali Hyun-Ra menatap Jung-Su yang penuh keraguan seperti itu. Jung-Su yang
Hyun-Ra kenal adalah laki-laki sok tahu yang dengan penuh percaya diri memaksa
Hyun-Ra menganggapnya sebagai pahlawan.
Hyun-Ra mendesah. Betapa perasaannya sangat
berantakan malam ini.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Jung-Su lagi.
Bagaimana keadaannya? Hyun-Ra ingin berteriak, memaki, meninju laki-laki di
hadapannya sekarang. Bagaimana perasaannya? Ia lebih memilih mati rasa saat
ini.
Hyun-Ra mendengar dirinya tertawa sumbang
mengingat make a wish konyol yang sempat ia buat. Ia berharap bisa bertemu Lee
Jung-Su di hari ulang tahunnya. Dan harapan itu memang menjadi nyata. Namun
Hyun-Ra rela memberikan apa saja asal bisa menarik kembali permohonannya itu.
Dia tidak sanggup bertemu Jung-Su di tengah situasi seperti ini. Dia tak bisa…
“Hei, kenapa tegang sekali?”
Kedatangan Hyeon-Reu mengagetkan Hyun-Ra dan
Jung-Su. Saat mata Hyun-Ra bersibobrok dengan mata Hyeon-Reu, Hyun-Ra yakin
bahwa sepupunya tahu ia menyembunyikan sesuatu. Ketika Hyun-Ra sedang bersiap
menghadapi serangan pertanyaan Kim Hyeon-Reu, dering telepon menyelamatkannya.
Dengan penuh rasa syukur, Hyun-Ra menjawab
teleponnya.
“Hei, Park Hyun-Ra.” Oh tidak… Itu suara Choi
Dae-Hya.
“Hmm…” gumam Hyun-Ra.
“Kau menganggap remeh peringatanku tempo hari.”
kata Dae-Hya dingin.
Hyun-Ra mengernyit, “Apa?”
“Datang saja. Aku menantangmu balap motor. Bila
kau kalah, kau harus menerima akibatnya.” Ancam Dae-Hya. Dalam hati Hyun-Ra
tertawa. Apa bisa anak manja seperti itu naik motor. Namun apalah itu, Hyun-Ra
bersyukur sekali Choi Dae-Hya berhasil menyelamatkannya dari situasi ini.
“Baiklah aku datang.” Jawab Hyun-Ra lebih ceria
dari yang dimaksudkannya.
Hyeon-Reu menatap Hyun-Ra dengan pandangan
bertanya.
“Maaf, onni.
Balapannya sudah hampir dimulai. Aku pergi dulu.” Ujarnya buru-buru sambil
mengecup pipi Kim Hyeon-Reu.
Kemudian Hyun-Ra menjabat singkat jemari Jung-Su
yang tampak kaku. “Senang berkenalan denganmu, Lee Jung-Su ssi.”
***
Hyun-Ra mengendarai motornya dengan perasaan
berantakan. Ia masih ingat saat tatapan tajam Jung-Su serasa menembus belakang
punggungnya ketika Hyun-Ra meninggalkan apartemen Hyeon-Reu.
Hyun-Ra berusaha memfokuskan perhatiannya untuk
berjalan menuju arena lapangan balap.
Ketika tiba, area itu kosong. Hyun-Ra bergidik
merasakan firasat buruk. Sedetik kemudian, ponselnya bordering.
“Selamat datang, Park Hyun-Ra.” Suara dingin
Dae-Hya terdengar lebih menyeramkan. Gerungan motor lain membuat Hyun-Ra
menoleh kaget. Adrenalin menderas ke seluruh pembuluh darahnya. Semoga hanya
firasat buruk.
“Kenapa? Takut? Harusnya kau berpikir seribu kali
sebelum berani mengabaikan peringatan Choi Dae-Hya.” Bisik suara itu kejam.
“Sekarang berperanlah menjadi artis yang baik.
Bersikaplah manis, dan buat Dong-Sun menikmati pertunjukan terakhirmu.” Hyun-Ra
menelan ludah pahit. Ia benar-benar khawatir sekarang. Mungkinkah Choi Dae-Hya
hanya mengeluarkan ancaman kosong.
“Aku tak mengada-ada, Park Hyun-Ra. Aku tak pernah
dikecewakan sebelumnya. Dan kau sudah keterlaluan.” Dae-Hya tertawa sumbang.
“Tapi…mungkin aku masih berbaik hati. Kau boleh selamat kali ini.” Hening lama
sebelum suara tawa Dae-Hya yang kejam terdengar begitu puas.
“Yah, kau boleh selamat asal bisa memenangi semua
orang-orangku. Atau-”
“Atau apa?” bisik Hyun-Ra tegar. Kalau memang
sekarang saat kematiannya, ia harus tampil keren dan berani bukan.
“Atau mereka akan melindasmu sampai mati.”
***
Dong-Sun nyaris gila mendengar berita itu. Ketika
Hyeon-Reu meneleponnya dengan panik dan bilang bahwa Hyun-Ra pergi balapan. Tak
ada balapan malam hari itu. Selain itu suara Hyeon-Reu yang terdengar takut.
Dia bilang Hyun-Ra tampak banyak pikiran selama makan malam itu. Apa semua
gara-gara Dong-Sun?
Dong-Sun memacu motornya hingga batas kecepatan
maksimum. Bagaimana kalau anak itu melakukan hal bodoh?
Jantung Dong-Sun serasa berhenti ketika melihat
pemandangan di depannya.
Park Hyun-Ra.
Kondisinya mengenaskan. Dan tak jauh darinya
beberapa sepeda motor besar berdesing mengelilinginya. Satu sentakan terakhir,
salah satu sepeda motor itu melesat meremukkan kaki Hyun-Ra. Suara Hyun-Ra yang
berteriak nyaring sekali menyayat telinga Dong-Sun.
Dong-Sun menyadari dirinya berteriak keras, “Park
Hyun-Ra!!!!”
Dengan membabi buta Dong-Sun melesat maju,
menghantam pengendara sepeda motor yang berada paling dekat dengannya. Dengan
satu sentakan, Dong-Sun berbalik dan merobohkan tiga sepeda motor sekaligus.
Kemudian seperti dikomando, seluruh geng motor itu berbalik pergi meninggalkan
Dong-Sun yang setengah kalap.
Dengan langkah kaki terseret, Dong-Sun berjalan
mendekati Park Hyun-Ra yang sudah sekarat.
Dengan perlahan ia mengangkat kepala Hyun-Ra dan
meletakkannya dengan lembut di atas pangkuannya. Sekujur tubuh Hyun-Ra babak
belur. Dong-Sun merasakan hatinya ikut remuk melihat kondisi Hyun-Ra yang
seperti ini.
Hyun-Ra berusaha berbicara, namun ia tersedak dan
memuntahkan darah kental.
Detik itu juga Dong-Sun tahu bahwa semua sudah
terlambat. Ia tak mungkin bisa menyelamatkan Park Hyun-Ra.
Dong-Sun membungkuk rendah, berusaha mendengarkan
kata-kata terakhir Hyun-Ra.
“Sa… saranghae Jung-Su oppa.”
***
Ketika menatap punggung Park Hyun-Ra yang berjalan
pergi, Jung-Su merasa sebelah hatinya terenggut pergi. Betapa ia ingin
berteriak, bahkan memohon agar Hyun-Ra tetap tinggal. Jung-Su memang baru
mengenalnya, namun dalam sehari yang luar biasa itu, Park Hyun-Ra berhasil
mencuri hatinya.
Dari Kim Hyeon-Reu. Dari Lee Jung-Su sendiri.
Sejak kepulangannya yang mendadak ke Korea,
Jung-Su tak pernah tenang. Kenapa ia tak meminta nomor gadis itu. Setidaknya ia
bisa menemuinya lagi di Korea. Bodoh bodoh bodoh.
Lee Jung-Su sudah mau memutuskan pertunangannya
dengan Kim Hyeon-Reu. Hanya satu acara makan malam. Dan setelah itu ia akan
mengatakan yang sebenarnya. Bahwa ia telah kehilangan hatinya. Bahwa ia tak
mampu mencintai Hyeon-Reu lagi.
Dan tiba-tiba saja Park Hyun-Ra muncul di
hadapannya. Dengan ekspresi itu.
Terluka. Seperti pertama kali mereka bertemu.
Jung-Su merasa hidup mempermaikannya. Bagaimana
bisa Park Hyun-Ra itu adik sepupu Kim Hyeon-Reu? Bagaimana mungkin orang yang
paling diharapkan Jung-Su berubah menjadi orang yang sama sekali tak boleh
dimilikinya.
Tampaknya firasat itu tak hanya melintas dalam
pikiran Jung-Su. Beberapa menit setelah Hyun-Ra pergi, Kim Hyeon-Reu berusaha
menghubungi teman laki-lakinya- Seok Dong-Sun? Tapi gadis itu masih belum tenang. Akhirnya ia
meminta agar Jung-Su mengecek Hyun-Ra di apartemennya.
Jung-Su benar-benar melesat secepat yang ia bisa.
Jantungnya bertalu-talu gugup…takut.
Ia menggelengkan kepala keras-keras. Berusaha
melenyapkan semua pikiran negatif dari kepalanya. Park Hyun-Ra pasti baik-baik
saja. Kecemasan Hyeon-Reu yang berlebihan tak boleh mempengaruhi dirinya. Ini
bukan kali pertama Hyeon-Reu berlebihan soal adik sepupunya.
Namun hati Jung-Su berkata lain. Ia yakin, kali
ini Hyeon-Reu tidak berlebihan.
Ketakutannya terbukti ketika mendapati pintu
apartemen Park Hyun-Ra dalam keadaan terbuka. Seperti kesetanan, Jung-Su
berlari masuk dan mendapati sesuatu yang benar-benar membuatnya bisa terkena
serangan jantung.
Adegan penganiayaan Park Hyun-Ra sedang terputar
tenang di layar datar televisi. Jung-Su yang tak percaya menyeret kakinya untuk
mendekat. Dia melihat semuanya.
Saat Hyun-Ra terbanting dari motor untuk pertama
kalinya. Tubuh kecil itu terpental dan berguling-guling. Saat seorang pemuda
berhelm gelap tampak membabi buta menghalau semua penyerang Hyun-Ra. Saat semua
orang gila itu pergi meninggalkan Hyun-Ra dan pemuda itu berdua.
Ya, Jung-Su melihat semuanya.
Bahkan ia juga mendengar bisikan lirih Hyun-Ra,
“Saranghae, Jung-Su oppa.”
Layar itu menghitam. Sama seperti dunia Jung-Su
saat ini.
***
Lee Jung-Su terpekur menatap layar yang sudah lama
menghitam. Entah berapa lama ia bergeming.
Satu jam
Satu hari
Ia tak menghitung waktu. Itulah caranya lari dari
kenyataan. Mengubur dirinya dalam ketidaksadaran. Sesaat saja ia ingin
berbohong pada dirinya, bahwa semua baik-baik saja. Bahwa masih ada banyak
waktu. Semua tidak nyata dan segala kengerian ini hanyalah mimpi buruk yang
akan berlalu.
Namun ia tidak bermimpi. Tidak. Bahkan tak pernah
terbesit pikiran untuk menenggelamkan diri dalam mimpi. Karena ia tak bisa
berlari. Tidak ke dalam mimpi sekalipun. Rasa sakit ini akan terus menerornya.
Mencabiknya.
Bahwa ia terlambat. Bahwa waktunya sudah habis.
Kenyataan bahwa tak ada hal apapun yang bisa
diulang. Tak ada.
-untitled-
(Based
on True Story)
Philomena
Olaf
No comments:
Post a Comment