Monday, June 10

Novelet Part V

Nappeun Yeoja
나쁜 
(part 5)
Angin malam yang dingin seperti sahabat lama yang merangkul Hyun-Ra. Namun saat ini rasanya lebih menyenangkan. Karena Hyun-Ra tidak lagi berlari dari ketakutannya. Saat ini ia benar-benar bisa menikmati sensasi balapan yang sebenarnya.
Suara klakson membuat Hyun-Ra menoleh. Tampak Dong-Sun sedang tersenyum simpul di balik helm gelapnya. Hyun-Ra balas mengangkat jempolnya untuk Dong-Sun. laki-laki itu menjulurkan lidahnya dan melesat melewati Hyun-Ra.
Sial! Hyun-Ra kecolongan.
Dong-Sun sampai semenit lebih awal dari Hyun-Ra. Laki-laki itu berdiri dengan pongah di samping motor besarnya. Hyun-Ra berhenti dan menatap Dong-Sun sambil merengut.
“Hei, yang tadi itu curang.” Gerutunya.

Dong-Sun tertawa keras. “Semua cara itu sah dalam urusan cinta dan perang, nona muda.”

Hyun-Ra berdecak kesal.”Sudahlah. sekarang tinggal kau ikuti aturan mainku. Ayo naik.” Ujar Dong-Sun seraya mengenakan helmnya kembali.
Dengan enggan Hyun-Ra naik ke atas motor Dong-Sun.
“Siap? Aku akan membuatmu terpesona malam ini, Park Hyun-Ra.”
Oh, kata-kata itu
***
Pertama-tama Dong-Sun membawa Hyun-Ra ke pinggiran Han River. Mereka duduk santai di pinggiran sungai Han, mengamati kerlap-kerlip lampu indah di atasnya. Hyun-Ra menghirup aroma basah sungai yang gelap itu. Ia terkejut ketika mendapati dirinya lebih menyukai aroma laut.
Dong-Sun mengajaknya untuk makan malam di kapal pesiar. Hyun-Ra sadar bahwa Dong-Sun sedang mencoba membuatnya terpesona. Namun hatinya sudah diluar genggamannya sendiri. Dalam satu hari, Jung-Su sudah membawa pergi hati Hyun-Ra. Pergi dan entah apakah ia akan kembali.
Hyun-Ra berusaha terlihat ceria sepanjang malam itu. Ia tak boleh mengecewakan Dong-Sun. Laki-laki itu banyak tertawa dan tersenyum malam ini. Dan Hyun-Ra senang melihatnya.
Ketika Hyun-Ra menguap lebar, Dong-Sun bertanya,”Kau lelah?”
“Hmm…” gumam Hyun-Ra. Dia memang lelah. Dan sekarang sudah hampir lewat tengah malam.
“Sebentar lagi ya. Aku akan membawamu ke suatu tempat, habis itu kita pulang.”
“Kemana lagi?” tanya Hyun-Ra.
“Rahasia. Kau pasti suka.” Ujar Dong-Sun penuh misteri.
Hyun-Ra menyipitkan mata kesal.
Ternyata Dong-Sun membawanya ke N Seoul Tower. Hanya ada beberapa pasangan selain mereka yang juga sedang menikmati keindahan malam kota Seoul. Hyun-Ra menatap Seol yang masih bermegah walaupun mungkin sekarang sudah lewat tengah malam.
Di atas sini, terangkum seisi kota dengan segala aktivitasnya. Andai dia bisa memasangkan zoom, mungkin Hyun-Ra bisa menemukan Jung-Su. Ah, Jung-Su… Apakah laki-laki itu berada di suatu tempat dibawah sana? Tapi dimana?
“Hei, selamat ulang tahun, Park Hyun-Ra.” Ucap Dong-Sun.
Hyun-Ra menoleh dan melihat Dong-Sun sedang memegang setangkai mawar putih. Dulu, Hyun-Ra pernah menyukai mawar putih. Dulu. Sekarang ia lebih suka pada boneka sapi di dalam kamar tidurnya.
“Wah, kau memberiku kejutan ya?” gumam Hyun-Ra sambil tersenyum.
Dong-Sun memasang senyum termanisnya. “Tunggu. Ada lagi.”
Hyun-Ra menatapnya dengan pandangan bertanya. Dong-Sun tampak mengeluarkan kotak beludru merah dar kantong jaketnya. Isi kotak itu membuat Hyun-Ra kaget. Ada cincin di sana. Apa yang mau Dong-Sun lakukan?
“Aku tahu…aku tahu. Tapi biarkan aku menyelesaikannya dulu.” Sela Dong-Sun sebelum Hyun-Ra sempat protes dan mengajukan sejuta pertanyaan.
“Aku tahu ini sudah terlalu lama. Aku terlalu lama menunggumu memberi sinyal. Tapi aku takut aku terlalu lama menunggu sehingga mungkin aku kebobolan. Aku tak mau. Jadi, maukah kau menjadi pacarku dan membuatku berhenti menunggu?”
Hyun-Ra terdiam lama. Dulu ia akan sangat bahagia dengan apa yang dilakukan Dong-Sun sekarang. Tapi saat ini… Ia bahkan tak memiliki apapun untuk diberikan pada Dong-Sun. Hatinya sudah dibawa pergi oleh Lee Jung-Su. Lagi-lagi Hyun-Ra mengalihkan pandang ke gemerlap kota Seoul di bawah sana. Bertanya-tanya dimanakah Jung-Su berada.
“Hyun-Ra?” bisik Dong-Sun lembut, menyadarkan dimana Hyun-Ra berada sekarang.
Hyun-Ra berdeham gugup, “Ehm, aku… Bagaimana dengan Dae-Hya?”
Alasan lemah. Bodoh. Seolah Hyun-Ra langsung mengakui kebohongannya. Dan tampaknya bukan hanya Hyun-Ra yang menyadarinya. Dong-Sun menatapnya dengan pandangan terluka.
“Apakah aku terlambat?” bisiknya.
Hyun-Ra lagi-lagi mengalihkan pandang nun jauh di bawah sana. Berharap Jung-Su bisa muncul dan membantu menjelaskan semua hal ini kepada Dong-Sun.
“Maaf, Dong-Sun.” ucap Hyun-Ra pelan.
Dong-Sun terdiam beberapa saat. Namun menatap Hyun-Ra yang menunduk sedih memaksanya untuk mampu mengendalikan dirinya. Mungkin memang salahnya. Dong-Sun telah lama menunggu. Dan ia terlambat.
“Hei, kenapa sedih seperti itu. Sudahlah. Ini kan hari ulang tahunmu. Kau harus bahagia. Aku tak mau merusaknya.” Ujar Dong-Sun ceria. Hyun-Ra masih bisa melihat kepedihan itu di mata Dong-Sun. Ia menunduk lagi. Tak menyukai apa yang dilihatnya.
“Sudahlah Park Hyun-Ra. Tidak apa-apa. Kita masih bersahabat kan?”
Hyun-Ra memberanikan diri menatap Dong-Sun. Tatapan Dong-Sun sangat tulus. Andai Hyun-Ra bisa mengembalikan  perasaannya seperti dulu, mungkin akan jauh lebih mudah. Tapi, dia tidak bisa. Pikriannya sekarang hanya dipenuhi oleh sosok Jung-Su.
“Hmm… Jadi, siapa orangnya, Park Hyun-Ra?”
***
Telepon Hyeon-Reu pagi harinya membangunkan Hyun-Ra.
“Hei, Park Hyun-Ra. Jangan lupa. Aku sudah menyiapkan makan malam untuk merayakan hari ulang tahunmu. Datang ke apartemenku jam tujuh nanti, oke?” Suara ceria Hyeon-Reu terdengar begitu bersemangat.
“Tapi nanti malam aku ada balapan, onni.” Gumam Hyun-Ra.
“Pokoknya kau tak boleh mangkir. Ini kan pestamu. Oh iya, aku nanti aku akan mengenalkanmu pada tunanganku. Jadi kau harus datang malam ini, mengerti?” desak Hyeon-Reu.
Hmm… tunangan. Itu kabar baik.
“Kenapa kau baru memberitahuku, onni?” gumam Hyun-Ra kesal. Hyeon-Reu hanya menanggapinya dengan tertawa.
“Jangan mengeluh padaku. Laki-laki itu pemalu sekali. Tapi dia berhasil ku bujuk untuk datang ke pestamu. Jadi kau harus datang.”
“Baiklah. Aku kan harus member suara untuk laki-laki itu bukan?”
Kim Hyeon-Reu tertawa riang, “Terserahlah. Tapi aku yakin suara yang kau berikan akan sangat positif. Dia mudah sekali membuat dirinya disukai.”
Hyun-Ra tersenyum lebar. Ikut bahagia untuk sepupunya itu.
***
Hyun-Ra tadinya berniat mengajak Dong-Sun, tapi bingung bagaimana cara menghubunginya. Ia ngeri membayangkan harus makan malam bersama dua orang yang sedang kasmaran. Bisa-bisa dia jadi nyamuk di tengah pestanya sendiri.
Dengan ragu-ragu Hyun-Ra menghubungi Dong-Sun.
“Hei, Dong-Sun. Kau bisa- ehm, apa? Baiklah.”
Hyun-Ra mendesah frustasi. Mungkinkah Dong-Sun marah padanya?
Dengan berat hati Hyun-Ra besiap-siap untuk datang ke apartemen Hyeon-Reu. Dia berusaha mengendalikan dirinya. Hyun-Ra harus terlihat ceria. Itu kan yang dilakukan semua orang pada acara ulang tahun mereka.
Hyun-Ra menekan bel apartemen Hyeon-Reu. Pikirannya masih setengah tersangkut dengan Dong-Sun yang mengabaikannya. Salahkah Hyun-Ra menolaknya? Menolak Dong-Sun untuk orang yang bahkan entah ada dimana. Dan sekarang Dong-Sun menghindarinya. Bagaimana ini?
Pintu terbuka dan Hyun-Ra memasang senyum cerah sebelum sepupunya bisa bertanya macam-macam. Hyun-Ra masih mau menyimpan masalah itu untuk dirinya sendiri. Ia belum siap menceritakannya pada Hyeon-Reu.
Tapi yang berdiri di sana bukan Hyeon-Reu. Bukan Hyeon-Reu yang membukakan pintu.
Tapi Jung-Su. Ya, Lee Jung-Su.
***
Untuk sedetik itu Hyun-Ra tak tahu bagaimana ekpresinya. Terkejut… jelas. Lalu beribu perasaan lain mulai mendesak masuk. Memenuhi kepala dan turun ke hatinya. Hyun-Ra menyentuh dadanya. Menyadari jantungnya berdegup keras. Sakit.
Lee Jung-Su tampak sama terkejutnya dengan Hyun-Ra. Namun hanya sedetik sebelum laki-laki itu bisa menguasai dirinya lagi. Suara ceria Hyeon-Reu terdengar sayup menuju ke pintu. Hyun-Ra tersadar dan buru-buru membenahi ekpresinya.
“Nah, Park Hyun-Ra… tunggu apalagi. Ayo masuk.” Ujar Hyeon-Reu sembari menyelipkan tangannya ke pinggang Lee Jung-Su. Ia tampaknya tidak menyadari perubahan postur tunangan dan sepupunya yang mendadak kaku.
Lee Jung-Su yang pertama berhasil menguasai keadaan. “Benar. Ayo masuk.”
Jung-Su memutar badan sambil merangkul Hyeon-Reu. Hyun-Ra tergagap mundur. Sakit sekali. Di sini, di dadanya. Apakah ia sanggup berada disana? Sanggupkah? Hyun-Ra menguatkan diri. Ya, bertahanlah setidaknya beberapa menit. Cepat habiskan makanmu dan pergi dari sana.
Hyeon-Reu menata tempat makan di balkon apartemennya yang lumayan luas. Dengan begitu mereka bisa makan malam dengan ditemani angin malam Seoul yang sejuk. Tapi tampaknya baik Hyun-Ra maupun Jung-Su sudah kehilangan nafsu makan mereka. Namun dibalik itu, mereka mencoba memainkan peran calon ipar dengan baik.
“Jadi Hyun-Ra, kenalkan ini tunanganku- Lee Jung-Su. Jung-Su, ini adik sepupuku, Park Hyun-Ra.” Mereka berjabat tangan dengan sopan. Hyun-Ra baru menyadari betapa tangannya begitu dingin ketika merasakan hangatnnya tangan Jung-Su yang terasa menyengat sewaktu menjabatnya dengan kaku.
“Aku kira kau mengajak Dong-Sun, Hyun-Ra?” Pertanyaan Hyeon-Reu memecah lamunan Hyun-Ra.
“Hmm, apa?” tanya Hyun-Ra bingung.
“Dong-Sun… Kupikir kau mengajaknya.”
Hyun-Ra menggeleng, “Oh, tidak. Dia sedang sibuk.”
Hyeon-Reu mengernyit, “Ada apa Hyun-Ra? Aku tahu pikiranmu sedang kacau sekarang.” Jantung Hyun-Ra serasa berhenti. Ia lupa bahwa Hyeon-Reu sangat jeli tentang dirinya.
“Apa karena Dong-Sun?” Tebak Hyeon-Reu.
Hyun-Ra mendesah lega, “Hmm…” Untunglah…
Disamping itu Jung-Su mendengarkan tanpa berkomentar. Dia tampak terfokus pada makanan di hadapannya. Hyeon-Reu yang melihat hal itu berdecak sebal.
“Sudah kubilang, Jung-Su sangat pemalu. Tapi tunggu sampai kau mengenalnya lebih lama, Hyun-Ra. Kau akan tahu dia sangat menyenangkan.” Ujar Hyeon-Reu sembari menggenggam tangan Jung-Su mesra. Hyun-Ra membuang muka. Ia tak tahan.
“Aduh…”
Hyun-Ra dan Jung-Su menoleh kaget.
“Kenapa?” Jung-Su yang pertama membuka suara.
Hyeon-Reu meringis kecil, “Sepertinya aku sakit perut. Aku ke toilet dulu ya. Kalian berdua, cobalah mengobrol. Aku memperkenalkan kalian untuk saling mengenal bukan saling berdiam diri. Astaga perutku-
Hyeon-Reu setengah berlari. Kini hanya tinggal Hyun-Ra dan Jung-Su. Hyun-Ra tak pernah membayangkan ada situasi yang lebih canggung daripada saat itu. Begitu menyesakkan hingga melompat dari sana menjadi pilihan yang sangat menggoda.
“Park Hyun-Ra?” Ucap Jung-Su pelan.
Hyun-Ra menoleh,”Dira itu nama Indonesiaku. Aku hanya memakainya di Indonesia.”
Jung-Su mengangguk pelan. Tampak bingung. Jarang sekali Hyun-Ra menatap Jung-Su yang penuh keraguan seperti itu. Jung-Su yang Hyun-Ra kenal adalah laki-laki sok tahu yang dengan penuh percaya diri memaksa Hyun-Ra menganggapnya sebagai pahlawan.
Hyun-Ra mendesah. Betapa perasaannya sangat berantakan malam ini.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Jung-Su lagi.
Bagaimana keadaannya? Hyun-Ra ingin berteriak, memaki, meninju laki-laki di hadapannya sekarang. Bagaimana perasaannya? Ia lebih memilih mati rasa saat ini.
Hyun-Ra mendengar dirinya tertawa sumbang mengingat make a wish konyol yang sempat ia buat. Ia berharap bisa bertemu Lee Jung-Su di hari ulang tahunnya. Dan harapan itu memang menjadi nyata. Namun Hyun-Ra rela memberikan apa saja asal bisa menarik kembali permohonannya itu. Dia tidak sanggup bertemu Jung-Su di tengah situasi seperti ini. Dia tak bisa…
“Hei, kenapa tegang sekali?”
Kedatangan Hyeon-Reu mengagetkan Hyun-Ra dan Jung-Su. Saat mata Hyun-Ra bersibobrok dengan mata Hyeon-Reu, Hyun-Ra yakin bahwa sepupunya tahu ia menyembunyikan sesuatu. Ketika Hyun-Ra sedang bersiap menghadapi serangan pertanyaan Kim Hyeon-Reu, dering telepon menyelamatkannya.
Dengan penuh rasa syukur, Hyun-Ra menjawab teleponnya.
“Hei, Park Hyun-Ra.” Oh tidak… Itu suara Choi Dae-Hya.
“Hmm…” gumam Hyun-Ra.
“Kau menganggap remeh peringatanku tempo hari.” kata Dae-Hya dingin.
Hyun-Ra mengernyit, “Apa?”
“Datang saja. Aku menantangmu balap motor. Bila kau kalah, kau harus menerima akibatnya.” Ancam Dae-Hya. Dalam hati Hyun-Ra tertawa. Apa bisa anak manja seperti itu naik motor. Namun apalah itu, Hyun-Ra bersyukur sekali Choi Dae-Hya berhasil menyelamatkannya dari situasi ini.
“Baiklah aku datang.” Jawab Hyun-Ra lebih ceria dari yang dimaksudkannya.
Hyeon-Reu menatap Hyun-Ra dengan pandangan bertanya.
“Maaf, onni. Balapannya sudah hampir dimulai. Aku pergi dulu.” Ujarnya buru-buru sambil mengecup pipi Kim Hyeon-Reu.
Kemudian Hyun-Ra menjabat singkat jemari Jung-Su yang tampak kaku. “Senang berkenalan denganmu, Lee Jung-Su ssi.”
***
Hyun-Ra mengendarai motornya dengan perasaan berantakan. Ia masih ingat saat tatapan tajam Jung-Su serasa menembus belakang punggungnya ketika Hyun-Ra meninggalkan apartemen Hyeon-Reu.
Hyun-Ra berusaha memfokuskan perhatiannya untuk berjalan menuju arena lapangan balap.
Ketika tiba, area itu kosong. Hyun-Ra bergidik merasakan firasat buruk. Sedetik kemudian, ponselnya bordering.
“Selamat datang, Park Hyun-Ra.” Suara dingin Dae-Hya terdengar lebih menyeramkan. Gerungan motor lain membuat Hyun-Ra menoleh kaget. Adrenalin menderas ke seluruh pembuluh darahnya. Semoga hanya firasat buruk.
“Kenapa? Takut? Harusnya kau berpikir seribu kali sebelum berani mengabaikan peringatan Choi Dae-Hya.” Bisik suara itu kejam.
“Sekarang berperanlah menjadi artis yang baik. Bersikaplah manis, dan buat Dong-Sun menikmati pertunjukan terakhirmu.” Hyun-Ra menelan ludah pahit. Ia benar-benar khawatir sekarang. Mungkinkah Choi Dae-Hya hanya mengeluarkan ancaman kosong.
“Aku tak mengada-ada, Park Hyun-Ra. Aku tak pernah dikecewakan sebelumnya. Dan kau sudah keterlaluan.” Dae-Hya tertawa sumbang. “Tapi…mungkin aku masih berbaik hati. Kau boleh selamat kali ini.” Hening lama sebelum suara tawa Dae-Hya yang kejam terdengar begitu puas.
“Yah, kau boleh selamat asal bisa memenangi semua orang-orangku. Atau-
“Atau apa?” bisik Hyun-Ra tegar. Kalau memang sekarang saat kematiannya, ia harus tampil keren dan berani bukan.
“Atau mereka akan melindasmu sampai mati.”
***
Dong-Sun nyaris gila mendengar berita itu. Ketika Hyeon-Reu meneleponnya dengan panik dan bilang bahwa Hyun-Ra pergi balapan. Tak ada balapan malam hari itu. Selain itu suara Hyeon-Reu yang terdengar takut. Dia bilang Hyun-Ra tampak banyak pikiran selama makan malam itu. Apa semua gara-gara Dong-Sun?
Dong-Sun memacu motornya hingga batas kecepatan maksimum. Bagaimana kalau anak itu melakukan hal bodoh?
Jantung Dong-Sun serasa berhenti ketika melihat pemandangan di depannya.
Park Hyun-Ra.
Kondisinya mengenaskan. Dan tak jauh darinya beberapa sepeda motor besar berdesing mengelilinginya. Satu sentakan terakhir, salah satu sepeda motor itu melesat meremukkan kaki Hyun-Ra. Suara Hyun-Ra yang berteriak nyaring sekali menyayat telinga Dong-Sun.
Dong-Sun menyadari dirinya berteriak keras, “Park Hyun-Ra!!!!”
Dengan membabi buta Dong-Sun melesat maju, menghantam pengendara sepeda motor yang berada paling dekat dengannya. Dengan satu sentakan, Dong-Sun berbalik dan merobohkan tiga sepeda motor sekaligus. Kemudian seperti dikomando, seluruh geng motor itu berbalik pergi meninggalkan Dong-Sun yang setengah kalap.
Dengan langkah kaki terseret, Dong-Sun berjalan mendekati Park Hyun-Ra yang sudah sekarat.
Dengan perlahan ia mengangkat kepala Hyun-Ra dan meletakkannya dengan lembut di atas pangkuannya. Sekujur tubuh Hyun-Ra babak belur. Dong-Sun merasakan hatinya ikut remuk melihat kondisi Hyun-Ra yang seperti ini.
Hyun-Ra berusaha berbicara, namun ia tersedak dan memuntahkan darah kental.
Detik itu juga Dong-Sun tahu bahwa semua sudah terlambat. Ia tak mungkin bisa menyelamatkan Park Hyun-Ra.
Dong-Sun membungkuk rendah, berusaha mendengarkan kata-kata terakhir Hyun-Ra.
“Sa… saranghae Jung-Su oppa.”
***
Ketika menatap punggung Park Hyun-Ra yang berjalan pergi, Jung-Su merasa sebelah hatinya terenggut pergi. Betapa ia ingin berteriak, bahkan memohon agar Hyun-Ra tetap tinggal. Jung-Su memang baru mengenalnya, namun dalam sehari yang luar biasa itu, Park Hyun-Ra berhasil mencuri hatinya.
Dari Kim Hyeon-Reu. Dari Lee Jung-Su sendiri.
Sejak kepulangannya yang mendadak ke Korea, Jung-Su tak pernah tenang. Kenapa ia tak meminta nomor gadis itu. Setidaknya ia bisa menemuinya lagi di Korea. Bodoh bodoh bodoh.
Lee Jung-Su sudah mau memutuskan pertunangannya dengan Kim Hyeon-Reu. Hanya satu acara makan malam. Dan setelah itu ia akan mengatakan yang sebenarnya. Bahwa ia telah kehilangan hatinya. Bahwa ia tak mampu mencintai Hyeon-Reu lagi.
Dan tiba-tiba saja Park Hyun-Ra muncul di hadapannya. Dengan ekspresi itu.
Terluka. Seperti pertama kali mereka bertemu.
Jung-Su merasa hidup mempermaikannya. Bagaimana bisa Park Hyun-Ra itu adik sepupu Kim Hyeon-Reu? Bagaimana mungkin orang yang paling diharapkan Jung-Su berubah menjadi orang yang sama sekali tak boleh dimilikinya.
Tampaknya firasat itu tak hanya melintas dalam pikiran Jung-Su. Beberapa menit setelah Hyun-Ra pergi, Kim Hyeon-Reu berusaha menghubungi teman laki-lakinya- Seok Dong-Sun? Tapi gadis itu masih belum tenang. Akhirnya ia meminta agar Jung-Su mengecek Hyun-Ra di apartemennya.
Jung-Su benar-benar melesat secepat yang ia bisa. Jantungnya bertalu-talu gugup…takut.
Ia menggelengkan kepala keras-keras. Berusaha melenyapkan semua pikiran negatif dari kepalanya. Park Hyun-Ra pasti baik-baik saja. Kecemasan Hyeon-Reu yang berlebihan tak boleh mempengaruhi dirinya. Ini bukan kali pertama Hyeon-Reu berlebihan soal adik sepupunya.
Namun hati Jung-Su berkata lain. Ia yakin, kali ini Hyeon-Reu tidak berlebihan.
Ketakutannya terbukti ketika mendapati pintu apartemen Park Hyun-Ra dalam keadaan terbuka. Seperti kesetanan, Jung-Su berlari masuk dan mendapati sesuatu yang benar-benar membuatnya bisa terkena serangan jantung.
Adegan penganiayaan Park Hyun-Ra sedang terputar tenang di layar datar televisi. Jung-Su yang tak percaya menyeret kakinya untuk mendekat. Dia melihat semuanya.
Saat Hyun-Ra terbanting dari motor untuk pertama kalinya. Tubuh kecil itu terpental dan berguling-guling. Saat seorang pemuda berhelm gelap tampak membabi buta menghalau semua penyerang Hyun-Ra. Saat semua orang gila itu pergi meninggalkan Hyun-Ra dan pemuda itu berdua.
Ya, Jung-Su melihat semuanya.
Bahkan ia juga mendengar bisikan lirih Hyun-Ra, “Saranghae, Jung-Su oppa.”
Layar itu menghitam. Sama seperti dunia Jung-Su saat ini.
***
Lee Jung-Su terpekur menatap layar yang sudah lama menghitam. Entah berapa lama ia bergeming.
Satu jam
Satu hari
Ia tak menghitung waktu. Itulah caranya lari dari kenyataan. Mengubur dirinya dalam ketidaksadaran. Sesaat saja ia ingin berbohong pada dirinya, bahwa semua baik-baik saja. Bahwa masih ada banyak waktu. Semua tidak nyata dan segala kengerian ini hanyalah mimpi buruk yang akan berlalu.
Namun ia tidak bermimpi. Tidak. Bahkan tak pernah terbesit pikiran untuk menenggelamkan diri dalam mimpi. Karena ia tak bisa berlari. Tidak ke dalam mimpi sekalipun. Rasa sakit ini akan terus menerornya. Mencabiknya.
Bahwa ia terlambat. Bahwa waktunya sudah habis.
Kenyataan bahwa tak ada hal apapun yang bisa diulang. Tak ada.
 END

-untitled-
(Based on True Story)

Philomena Olaf

No comments:

Post a Comment