The
Old Curse
Dengungan lirih pendingin ruangan
perpustakaan membuat Grace menggigil. Hari masih terlalu pagi saat itu. Grace
berjalan pelan menyusuri lorong sempit diantara rak-rak buku yang berjejer
tinggi. Aroma buku tua dan kapur barus menyengat hidungnya.
Hanya ada satu petugas perpustakaan
yang sudah sangat tua duduk di salah satu kursi berlengan di sudut ruangan
dengan mata terpejam. Grace berjalan pelan. Semakin dalam ia masuk di antara
rak-rak tinggi itu, suasana terasa semakin dingin. Bukan dingin yang biasa.
Rasa ini terasa asing dan membuatnya tidak nyaman. Grace berusaha
mengabaikannya dan terus berjalan. Tangannya menelusuri punggung-punggung buku
yang kaku dan berlapis debu.
Buku itu terlihat sangat tua dengan
sampul hitam kelam. Tak ada judul atau tulisan apapun. Buku itu tampak polos
dan sederhana. Perasaan itu semakin bergulung-gulung menyelimutinya. Ia tahu
ada yang salah. Namun kegairahannya mengalahkan pikiran rasional. Grace
mengambil buku itu dan mendekapnya di depan dada. Dengan kepala tertunduk, ia
melangkah ke salah satu kursi yang tersembunyi di balik meja tinggi.
Ia tahu ada sesuatu yang salah. Dan ia
benar.
Begitu Grace membuka halaman awal, buku
itu bergetar. Grace berusaha menahannya. Bukan buku itu ternyata. Tubuh Grace
yang bergetar hebat. Kepalanya terasa berat dan telinganya berdenging. Grace
bisa merasakan darah segar menetes dari hidungnya. Grace menjepit cuping
hidungnya keras-keras, namun darah terus mengalir lewat sela jemarinya dan
menetes ke atas halaman buku yang sudah menguning.
Setelah beberapa menit, darah itu
akhirnya berhenti mengalir. Namun kepala Grace terasa sangat sakit. Ia
mengeluarkan sapu tangan dan membersihkan hidung dan jemarinya. Kepalanya
tertunduk ke atas buku itu. Darah menodai beberapa bagian, namun semua masih
terlihat jelas.
Sungguh ini impian terbesarku. Aku tahu rasanya tidak
mungkin- mustahil. Namun aku telah berusaha
keras untuk ini. Aku ingin melakukan satu hal yang mungkin- membahagiakan Ibu. Cukup untuk
mengubah hidup kami kukira. Tidak keseluruhan, namun tempat ini merupakan
awalan. Sekolah ini menjadi awal untuk semuanya.
Jari telunjuk Grace menyusuri
tulisan-tulisan ramping di atas halaman itu. Diary.
Seiring tiap halaman, Grace tenggelam
sepenuhnya dalam harapan gadis penulis diary itu. Dia merasa telah memasuki
ruang rahasia gadis itu. Buku itu membuat Grace tahu semua tentang gadis itu.
Mimpi buruk, ketakutan, harapan, bahkan impian. Hingga Grace sampai pada akhir.
Dan ia mendapati dirinya tertegun.
Aku gagal!
Aku tak berani pulang. Bagaimana bisa?
Aku yakin telah melakukannya sebaik mungkin. Aku yakin
kemampuanku cukup. Aku sudah memberi harapan besar pada Ibu, bahwa aku akan
diterima di sekolah ini. Tempat para orang terpelajar dapat berhasil.
Aku berharap mampu berhasil merubah nasib kami. Tapi
kenyataan berkata lain. Mereka menolakku. Bukan karena kemampuanku. Tapi karena
latar belakangku. Dengan keadaan Ibuku yang kini mendekam di sudut kamar Rumah
Sakit Jiwa, dengan mental kacau.
Semuanya berakhir. Tamat…
Sampul buku itu tertutup dengan berat.
Untuk alasan tertentu, Grace merasa hancur juga. Kalimat itu menariknya begitu
dalam. Ia tahu rasanya.
“Ningsih…Ningsih…Ningsih…”
bisikan itu membuat Grace terlonjak. Penjaga perpustakaan yang sudah sepuh itu
berbisik dengan lirih. Tatapannya menyimpan teror yang dalam. Ia tertegun lama
sekali memandang buku hitam legam itu. Jemarinya yang sudah mengerut termakan
usia tampak bergetar pada bonggol besarnya.
“Ibu- ”
“Ningsih…Ningsih…Ningsih…”
bisikan itu makin lirih dan sayup. Tubuh tua itu bergetar dan terpuruk jatuh.
Grace menopangnya, namun tubuh itu menariknya jatuh bersama. Benturan itu
seolah menyadarkan si wanita tua.
“Kau-” Matanya menatap jalang. “Kenapa? Kenapa kau buka buku
ini!” bentak wanita sepuh itu. Grace tergagap menjauh di ruang yang sempit itu.
“Aku-,”
“Kau membangkitkan kutukan lama. Teror itu.” Bisiknya horor. Matanya
berputar ngeri memandang seisi perpustakaan, seakan menunggu serangan yang
muncul mendadak. Grace terbelalak ngeri. Penjaga perpustakaan itu mencoba bangkit
berdiri. Grace membantunya duduk di kursi tempat ia duduk.
“Ningsih…Ningsih…Ningsih…”
Lagi-lagi wanita tua itu berbisik. Grace terpaku dalam kengerian, namun tak
berani menuntut penjelasan lebih. Wanita tua itu mengangkat wajah dan
menatapnya dengan sorot prihatin.
“Kau telah membangkitkan teror itu
anakku. Kutukan lama.” Bisik wanita itu.
“Aku tak mengerti-”
“Tidakkah kau mengerti??? Kau membuka
buku itu! Kau membangkitkan kutukan lama dan teror. Teror yang keji!” Suara tua
itu meninggi hingga terdengar seperti ringkik kuda. Jantung Grace bertalu-talu
dalam rongganya.
“Ningsih…Ningsih…Ningsih…”
Lagi-lagi wanita tua itu berbisik.
“Siapa Ningsih?” tanya Grace pelan.
Pupil mata wanita itu melebar, “Ningsih
adalah sahabatku-
dan penulis buku itu.”
Grace memandangnya tak mengerti.
“Kami merupakan salah satu angkatan
awal di sekolah ini. Ningsih… Dia begitu cerdas. Pelajar paling brilian. Namun
tidak.” Wanita tua itu menggeleng. “Mereka menolaknya.”
“Karena Ibunya gila?” tanya Grace yang
mulai mengerti arah cerita ini.
Wanita tua itu melotot, “Tentu saja dia
tidak gila!”
“Tapi dia ada di Rumah Sakit Jiwa.”
Balas Grace.
“Tidak- dia tidak gila. Nyai hanya melihat terlalu banyak. Dia
tidak bisa menanggungnya.” Bisik wanita tua itu lebih kepada dirinya sendiri. “Tidak.
Sungguh malang nasib mereka. Nyai dan Ningsih- betapa hidup tidak adil.”
“Kalau begitu kenapa Nyai bisa masuk
Rumah Sakit Jiwa? Apa yang terjadi pada Ningsih? Dia putus asa setelah ditolak.
Dia hancur…” desis Grace cepat.
Wanita tua itu menundukkan kepalanya.
Grace bisa melihat denyut samar di pelipisnya yang sudah mengkerut. Ketika
wanita tua itu mengangkat wajah dan menatapnya, suaranya terdengar serak dan
jauh seolah tenggelam dalam arus gravitasi.
“Dia meninggal. Ningsih bunuh diri.”
Kesedihan asing ini menampar Grace. Dia
pun menangis entah untuk alasan apa. Hidup memang tidak adil.
“Kenapa?” tuntut Grace. Ia sudah muak
dengan potongan-potongan cerita yang tidak jelas. Tangan Grace tanpa sadar
mencengkeram lengan wanita tua itu. Grace merasakan kekuatan purba seolah ia
bisa menghancurkan tangan keriput itu jika ia mau. Kini wanita tua itu menatap
Grace ngeri. Wajahnya tertunduk lagi dan menangis.
“Sudah dimulai. Sudah dimulai…”
Suaranya bergetar karena histeris. Namun semua itu tidak penting. Grace hanya
membutuhkan penjelasan.
“Jelaskan semuanya!” Perintah Grace
dengan suara dingin.
Isakan wanita tua itu makin keras,
namun ia mengangkat wajahnya. Air mata membasahi wajah tuanya yang kini
mengerut ketakutan.
“Ibu Ningsih- Nyai berada dalam garis keturunan para
cenayang. Mereka bisa mengetahui segala peristiwa yang akan terjadi. Mereka
bisa mencegah nasib buruk. Namun semakin hari orang semakin takut dengan para
cenayang. Mereka menganggap ucapan mereka adalah kutuk yang tak terbantah.” Suara
wanita tua itu terdengar jauh bergaung dari dimensi waktu yang lain.
“Suatu ketika, Nyai meramalkan sesuatu
yang buruk akan menimpa sekolah. Darah dan darah. Hanya itu yang akan terjadi.
Seluruh warga dan pihak sekolah mengamankannya. Nyai dipasung jauh di tengah
kebun budin milik Pak Kepala Sekolah. Sejak saat itu, Ningsih tinggal
bersamaku.” Wanita itu kembali menunduk, seolah telah sampai pada bagian
terburuk.
“Nyai mendapat penglihatan lagi. Namun
dia menolak mengatakannya. Dia berteriak-teriak sepanjang hari, siang dan malam- menuntut kebebasan. Tak ada satupun
yang peduli. Tak ada satupun yang mau mendengar. Kebun itu terlarang bagi
siapapun kecuali Pak Kepala Sekolah. Dengan perlawanan yang hebat, Nyai
berhasil kabur- dan membunuh Pak Kepala Sekolah.”
Suaranya semakin lirih dan jauh. Grace tetap menatapnya lurus-lurus.
“Nyai berlari menghampiri Ningsih. Dia
hanya berkata, ‘jangan…’ berulang kali, seolah telah lupa cara untuk berbicara.
Dan petugas kepolisian datang. Sejak saat itu Nyai tinggal di Rumah Sakit Jiwa.
“Ningsih dan aku mendaftar di sekolah
itu. Dan tentu saja dia tidak diterima. Padahal dia begitu cerdas, begitu
mengagumkan. Dia ingin sekali menjadi orang berhasil dan mengeluarkan Ibunya
dari tempat itu. Namun ketika itu, Ningsih begitu terpukul. Dia-”
“Dia gantung diri.” Bisik Grace tanpa
sadar. Semakin dalam cerita itu didengar, Grace seolah menatapnya langsung
dengan matanya. Berada di sana. Warnanya jelas dan tajam, dan begitu nyata.
Wanita tua itu bergidik, “Ningsih sudah
membagi kenangannya.” Bisiknya lirih.
Grace mengangguk. Ia memahami saat ini.
Ia telah menatap kejadian itu dengan mata Ningsih- kenangannya.
“Aku tahu semuanya.” Bisik Grace. “Aku tahu
dia gantung diri tepat di gedung ini. Tentu saja dulunya hanya kebun terlantar.
Tapi kejadian itu di sini. Tepat di sini.” Bisik Grace.
Wanita tua itu mengangguk, “Nyai
lagi-lagi berhasil kabur-
dengan menewaskan tiga petugas Rumah Sakit Jiwa. Dia berdiri menatap putrinya
yang tergantung di atas sebatang pohon. Tatapan Ningsih kosong tertutup rambut
panjangnya yang tergerai kusut. Nyai orang pertama yang berdiri di sana.
“Tepat di bawah mayat Ningsih, buku
harian itu tergeletak. Dengan tangan bergetar, Nyai meraihnya. Dia
mendendangkan sebuah tembang tua dengan suaranya yang parau. Petugas kepolisian
datang tak lama kemudian dan menembak mati Nyai.” Lanjut wanita itu.
“Tapi semua itu belum berakhir. Belum.”
Bisik Grace.
“Ya, belum. Nyai menyimpan kutukan
dalam buku itu. Tak ada yang tahu apa itu. Sekolah berusaha menghancurkannya,
namun buku itu tetap utuh. Akhirnya pihak sekolah menguburkannya jauh di dalam
tanah- tempat Ningsih bunuh diri.”
“Apakah kutukan itu pernah terjadi?”
tanya Grace lagi yang sekarang juga berbisik.
“Ya…” jawab wanita itu.
Bukannya merasa takut seperti awalnya,
Grace justru merasa bergairah. Ada kesenangan yang meletup jauh di dasar
jiwanya. Seolah penantiannya selama ini telah selesai.
“Apa yang terjadi?” tuntutnya.
“Aku yang menemukan buku itu. Atau
mungkin buku itulah yang menemukanku. Kutukan pun berjalan.”
“Iya…iya… Tapi bagaimana? Bagaimana
cara kerjanya?” tanya Grace antusias.
Wanita itu terisak lagi, “Kau akan
dikuasai mantra itu. Kutukan itu bersemayam dalam dirimu. Kaulah yang menjadi
kutukan itu. Ketika itu, aku kehilangan kendali atas diriku. Aku menuntaskannya
pada akhirnya. Membantai seisi sekolah pada malam bulan penuh- ketika kutukan itu disegel dalam
buku.”
“Adakah yang selamat?” tanya Grace.
Wanita itu menggeleng.
“Hanya pemegang buku yang bisa selamat.
Dia yang menjadi kaki tangan untuk menuntaskan kutukan lama itu. Setelah
semuanya tuntas, kau akan dipenuhi dengan rasa bersalah yang amat sangat. Sejak
saat itu aku berusaha sebaik mungkin menjaga buku itu agar kutukannya tidak
terjadi lagi. Tapi hari ini-”
“Ya…” Mata Grace bersinar gelap. “Hari
ini adalah permulaan lagi. Dendam itu sudah lama terkubur. Harus dituntaskan.”
Bisik Grace dingin.
Mata wanita itu melebar ngeri sejenak
lalu tampak kosong. Grace telah mencekiknya hingga mati. Tak ada yang selamat kecuali pemegang buku.
“Ya. Sudah dimulai.” Bisik Grace pelan
dan melangkah keluar dari perpustakaan.
END
-untitled-
(Mengenang deadline Suryakanta Magazine)
Philomena Olaf

Belum Ada Yg Koment Nie ?
ReplyDeleteAsiggg, PertamaX,,,