Nappeun Yeoja
나쁜 여자
(part 4)
Hyun-Ra mendapati dirinya terbangun di tempat yang benar-benar asing. Tangannya berusaha menggapai sisi tempat tidur dan menyalakan lampu tidur yang redup. Benar. Ia sama sekali tak mengenal ruangan ini. Dimana dia?
Bukankah ia terakhir berada di penjara.
“Sudah sadar, Dira?” tanya bibinya pelan.
Hyun-Ra menoleh dan mendapati bibinya baru menyelinap masuk. Bibinya berjalan menghampiri Hyun-Ra dan duduk di sisi tempat tidurnya.
“Kau tidur seharian. Sudah baikan?” tanya bibinya.
Hyun-Ra mengangguk tapi tak berkata apa-apa.
“Temanmu yang mengantarmu kemari. Dia bilang kau baru saja- menengok ayahmu.”
“Benarkah tante?” tanya Hyun-Ra pelan. “Benarkah omma bunuh diri?”
Bibinya hanya menunduk dan menolak menatap Hyun-Ra. Dan saat itu Hyun-Ra tahu bahwa semuanya benar. Ayahnya tak pernah membunuh Ibunya. Ibunya membunuh dirinya sendiri.
“Aku mau pulang sekarang.” Gumam Hyun-Ra. “Dan, oh ya. Aku akan mencabut tuntutanku. Papa bisa bebas jadi aku mohon tante mau menjaganya.”
“Tidak perlu, Dira. Papamu tidak mau keluar dari sana. Dia ingin menghukum dirinya sendiri. Yang dia butuhkan saat ini hanya maafmu, sayang.” Kata Bibinya pelan.
Hyun-Ra merasa dadanya teramat sesak. Dia telah menghukum ayahnya untuk sesuatu yang tak pernah dilakukannya. Ayahnya memang bersalah, namun sangat jauh dari bayangan Hyun-Ra selama ini. Apa yang telah ia lakukan?
“Aku tahu. Aku menyesal.”
“Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Dira.”
Hyun-Ra menangis lagi. “Tapi memang aku salah tante. Aku bahkan hampir membunuh Papa waktu itu. Aku membuatnya menderita selama bertahun-tahun.” Hyun-Ra lagi-lagi histeris. Bibinya memeluk Hyun-Ra erat-erat.
“Sstt… Biarlah yang lalu menjadi masa lalu. Kamu boleh pulang ke Korea dan hidup bahagia di sana sekarang. Setelah kamu tahu hal yang sebenarnya. Biarkan luka itu hanya menjadi bekas, sayang. Jangan kamu menyayatnya terus sebagai pengingat akan luka itu. Berjuanglah untuk sembuh.”
Hyun-Ra menyadari, mungkin selama ini ia menyayat lukanya sendiri. Untuk pengingat. Bahwa dirinya pernah dilukai. Bahwa ia telah begitu kehilangan dan hancur. Tapi apa yang dikatakan Bibinya dan Jung-Su benar. Ia harus sembuh, Hyun-Ra bisa.
Hal itu mengingatkannya pada Jung-Su. Dimana laki-laki itu?
***
Hyun-Ra masih bertahan di Indonesia selama seminggu. Ayahnya tetap tak mau dikeluarkan dari penjara. Namun setelah kini Hyun-Ra telah memaafkannya, ayahnya tampak lebih baik. Ia telah mencukur janggutnya dan wajahnya juga tampak lebih bersinar. Beban besar yang selama ini menghimpit Hyun-Ra terasa terangkat bebas. Ia telah berdamai dengan masa lalunya.
Namun anehnya kebahagiaan ini masih terasa kurang. Jung-Su tak pernah muncul.
Benar-benar tak terpikir untuk meminta nomor telepon Jung-Su. Mereka juga baru satu hari bersama. Satu hari yang luar biasa. Dan Hyun-Ra mendapati dirinya telah terpesona.
Tapi kemanakah Jung-Su? Kenapa ia tidak menemui Hyun-Ra?
Bagaimana tanggapannya tentang satu hari itu? Apakah sama luar biasanya seperti yang dirasakan Hyun-Ra? Atau hari itu sama saja seperti hari-hari biasa? Apa yang sebenarnya dirasakan laki-laki itu?
Bolehkah Hyun-Ra berharap? Akhir-akhir ini harapannya selalu berjalan mulus.
Masih bolehkah ia berharap satu kali lagi? Bahwa Lee Jung-Su adalah orang yang membuat kebahagiaannya lengkap.
***
Kim Hyeon-Reu menyambut kepulangan Hyun-Ra dengan senyum lebar. Dia nyaris berlari memeluk Hyun-Ra dan menjatuhkan koper besarnya di Bandara.
“Astaga, Hyun-Ra. Aku benar-benar rindu padamu.” Kata Hyeon-Reu.
Anehnya kali ini Hyun-Ra sama sekali tak merasa risih. Ia membalas pelukan Hyeon-Reu sama bersemangatnya. “Aku juga rindu padamu, onni.” Balas Hyun-Ra.
Hyeon-Reu melepas pelukannya dan memandang Hyun-Ra lekat-lekat. “Sepertinya kau berhutang banyak cerita padaku. Ayo, aku traktir kau makan gimbap dan kau ceritakan semuanya.”
Hyun-Ra tertawa ceria, “Apakah aku bisa menolak.” Guraunya.
Hyeon-Reu memasang ekspresi pertimbangan yang jelas mustahil. “Ehm… tentu tidak bisa.”
Mereka pun memasuki restoran di Bandara dan memesan dua porsi besar gimbap dan soju. Entahlah, mungkin hampir sejam atau dua jam Hyun-Ra menceritakan semua yang dialaminya di Indonesia. Kim Hyeon-Reu menyimak dengan serius. Wajahnya memasang ekspresi ngeri ketika dengan pelan Hyun-Ra memberitahu bahwa Ibunya bunuh diri.
“Tapi aku senang kau sudah lepas dari masa lalumu itu. Tak sadarkah kau wajahmu sangat bersinar?” kata Hyeon-Reu sungguh-sungguh.
Hyun-Ra hanya tertawa. “Oh, iya. Ceritakan lebih detail tentang laki-laki Dufan-mu itu.”
Hyun-Ra tampak tertegun sesaat. “Dia tak pernah datang lagi.” Kata Hyun-Ra.
“Mungkin baginya semua itu hanya hari biasa. Tidak ada yang istimewa.”
Hyeon-Reu berdecak kesal. “Tak mungkin semuanya itu biasa. Dia juga pasti terpesona olehmu, Park Hyun-Ra. Tak akan ada laki-laki yang memperlakukan wanita seperti itu kalau ia tidak merasa wanita itu spesial untuknya.”
Hyun-Ra menatap sepupunya itu dengan alis terangkat. “Oh, percayalah padaku. Biar bagaimanapun juga aku lebih berpengalaman darimu. Oh ya, aku sudah memberitahumu belum kalau Seok Dong-Sun sepertinya juga tergila-gila padamu.”
Mata Hyun-Ra melebar kaget. “Dong-Sun?”
Hyeon-Reu berdeham dan menegak soju nya lagi. “Iya. Dia uring-uringan terus selama kau pergi. Dia bahkan mewanti-wantiku untuk segera menguhubunginya kalau kau sudah pulang.”
“Kau sudah memberitahunya?” tanya Hyun-Ra.
“Tentu saja tidak. Aku kan harus menginterogasimu dulu dan aku tak mau dia mengganggu. Biar saja dia selesaikan urusannya nanti malam.” Kata Hyeon-Reu.
“Memangnya ada apa nanti malam?” tanya Hyun-Ra bingung.
Hyeon-Reu membekap mulutnya sendiri. “Astaga- Dong-Sun pasti marah besar. Aku mengacaukan kejutannya. Tapi ya sudahlah, kau kan tetap bisa berpura-pura terkejut.” Hyeon-Reu mengangkat bahu tak peduli.
“Tolong berbicaralah yang jelas, onni.” Desak Hyun-Ra penasaran.
“Oke, baiklah. Besok kan hari ulang tahunmu, Park Hyun-Ra. Jadi malam ini Dong-Sun ingin memberimu kejutan spesial- ya semacam itulah.”
Hyun-Ra mengangguk mengerti, namun pikirannya melayang ke tempat lain.
“Kau sedang memikirkan apa?” tanya Hyeon-Reu
Hyun-Ra mendesah, “Bukan apa-apa, onni.”
“Oh tenang saja. Kau pasti akan bertemu dengan pangeranmu itu. Apalagi besok kan ulang tahunmu. Kau tidak lupa kan kalau harapan saat ulang tahun selalu terkabul?” ujar Hyeon-Reu.
Hyun-Ra tersenyum simpul. Kali ini ia menumpukan semua kepercayaannya untuk berharap. Sekali ini saja. bahwa Jung-Su mungkin akan muncul besok. Harapan saat ulang tahun selalu terkabul kan?
***
Dong-Sun hanya menelepon Hyun-Ra untuk memberitahu rencana mereka nanti malam. Rupanya Dong-Sun masih berbaik hati membiarkan Hyun-Ra beristirahat setelah perjalanan pulang yang melelahkan.
Hyun-Ra sudah separuh tertidur ketika dering telepon itu menginterupsi mimpinya.
“Park Hyun-Ra?” Suara wanita di ujung sana terdengar dingin dan tidak bersahabat.
“Hmm. Siapa ini?”
Hening sesaat, “Jauhi Seok Dong-Sun!” kata wanita itu.
Hyun-Ra memaksa matanya untuk terbuka dan mencoba fokus. “Siapa ini? Apa urusannya ada melarang saya berhubungan dengan Dong-Sun?”
“Pokoknya jauhi saja dia.”
“Dae-Hya?” tebak Hyun-Ra.
Hening lagi. Namun Hyun-Ra yakin bahwa tebakannya benar. Wanita yang meneleponnya ini tak lain dan tak bukan adalah Choi Dae-Hya. Diam-diam Hyun-Ra mengutuk Dong-Sun habis-habisan. Hyun-Ra sedang tidak mau terlibat masalah.
“Jauhi saja Dong-Sun, atau ulang tahunmu tidak akan berjalan dengan baik.”
Dan sambunganpun terputus. Apa-apaan ini? Baru saja Hyun-Ra mau menjelaskan bahwa diantaranya dan Dong-Sun tak pernah ada hubungan spesial. Tapi wanita itu sudah mematikan telepon. Dan caranya mengancam Hyun-Ra benar-benar menyebalkan.
Hyun-Ra melemparkan ponselnya ke bawah tempat tidur. Dia ingin tidur dengan tenang. Mungkin saja telepon tadi bagian dari mimpinya.
***
Saat itu jam sudah menunjukan pukul 9.00 malam saat Dong-Sun datang menjemput Hyun-Ra. Rencananya mereka akan mengikuti balapan liar jam sepuluh nanti dengan uang taruhan yang besar. Hyun-Ra senang sekali. Sudah lama sejak terakhir kali dia ikut balapan.
“Sudah siap, Lady?” goda Dong-Sun.
Hyun-Ra tertawa lebar dan menepuk punggung Dong-Sun. “Ayo kita menangkan pertandingan ini.”
Dong-Sun mengernyit, “Aku yang akan memenangkan pertandingan ini.” Katanya.
“Enak saja. Harus aku.” Bantah Hyun-Ra riang.
Dong-Sun mengedipkan sebelah matanya- biasanya hal itu akan membuat jantung Hyun-Ra berdegup kencang, namun saat ini Hyun-Ra hanya membalasnya dengan senyum sopan.
“Kalau aku menang, kau harus ikut aturan mainku.” Ucap Dong-Sun.
“Siapa takut?”
***
#to be continued in Nappeun Yeoja Part V
-untitled-
(Based on True Story)
Philomena Olaf
No comments:
Post a Comment