Nappeun Yeoja
나쁜 여자
(part 3)
Pikiran Hyun-Ra separuh kosong. Namun kenangan
akan kejadian itu malah menyerbunya.
Hari
itu sudah larut dan hujan membuatnya terlihat semakin pekat. Hyun-Ra berlari
kecil menembus hujan karena ia lupa membawa mantelnya. Sayup-sayup terdengar
suara teriakan dari arah rumahnya. Hyun-Ra langsung merasakan firasat buruk
itu.
Kondisi
keluarganya memang meburuk sejak ayahnya terbukti berselingkuh. Ibunya sangat
terpuruk, namun wanita itu bertahan. Ayahnya jarang pulang, tak pernah. Dia tak
pernah memukul Hyun-Ra maupun Ibunya. Bila ayahnya marah, ia hanya akan pergi.
Namun itu lebih menyakitkan bagi Ibunya. Hyun-Ra membenci cara Ibunya mencintai
ayahnya. Begitu dalam dan tanpa syarat.
Hyun-Ra
terpekik saat menatap pemandangan di depannya. Ibunya tersungkur di tengah
kubangan darah. Pisau dapur menancap pada dadanya. Wajah Ibunya pucat kehabisan
darah. Ayahnya berdiri tak jauh dari sana, antara sadar atau tidak. Sepertinya
dia mabuk.
Hyun-Ra
berlari menghampiri Ibunya yang sekarat. Dengan tangan bergetar Hyun-Ra
mencabut pisau itu dari tubuh Ibunya. Ibunya tak pernah membuka mata. Tak
pernah ada pesan terakhir. Tak ada ucapan perpisahan. Ibunya hanya menutup
mata.
Ayahnya
yang mungkin separuh sinting bergumam tidak jelas. Dan saat itu Hyun-Ra
dikuasai kemarahan gelap. Bisa-bisanya dia membunuh Ibunya hanya untuk bisa
bersama wanita jalang itu? Dia harus mati kalau begitu!
Dengan
kalap Hyun-Ra menyerang ayahnya. Dia berhasil merobek tangan ayahnya sebelum tangan-tangan
polisi mengamankannya. Dan sejak saat itu, Hyun-Ra tak pernah melihat ayahnya
lagi. Baginya, ayahnya juga ikut mati pada saat itu.
***
Suara klakson yang keras membuat Hyun-Ra terkejut,
namun ia bisa menghindar tepat waktunya. Dia sudah bertekad tak akan celaka
lagi karena kenangan masa lalu itu. Dan yang tadi nyaris saja.
“Kau baik-baik saja? Astaga kau lagi-”
Hyun-Ra berusaha memfokuskan perhatian. Sebersit
wajah itu tampak familier. Dan suara itu… Ya. Suara itu menegaskan keraguan
Hyun-Ra. Laki-laki yang berdiri di hadapannya adalah laki-laki yang sama yang
menolongnya beberapa hari lalu.
“Benar kau rupanya.” Gumam laki-laki itu setelah
mengamati Hyun-Ra beberapa saat. “Ayo bangun.”
Laki-laki itu membantunya berdiri, “Kau harus
mentraktirku.” Katanya.
Hyun-Ra mengernyit. “Apa?”
“Ayolah, traktir aku sekali-sekali.”
Hyun-Ra terdiam sejenak. Mungkin laki-laki ini
meminta imbalan atas pertolongannya selama ini. Hyun-Ra mengangkat bahu. Tak
apalah membelikannya sepotong cone es cream.
Setelah mendapatkan es cream mereka, laki-laki itu
membawa Hyun-Ra ke sebuah taman kota yang tak jauh dari sana. Siang itu hanya
ada segelintir orang dan pedagang makanan yang duduk bergerombol di beberapa
sudut taman kota.
“Jadi, apa yang kutemui disini? Gadis sial yang
hobi kena kecelakaan?”
“Apa maksudmu-”
“Lee Jung-Su.”
Hyun-Ra berdeham kesal. “Apa maksudmu Lee Jung-Su ssi? Aku gadis sial?” tuntut Hyun-Ra
marah. Lee Jung-Su memasang cengiran lebar.
“Aku hanya tak pernah menjumpai yang sepeti
dirimu. Memang sebesar apa masalahmu sampai kau berniat mengakhiri hidupmu?”
kata Jung-Su.
“Mengakhiri hidupku??” Suara Hyun-Ra naik satu
oktaf. Wah, laki-laki ini sudah keterlaluan. Hyun-Ra berusaha menenangkan diri.
Oh, tidak bisa. Dengan kesal Hyun-Ra melayangkan cone es cream cokelatnya ke
wajah laki-laki itu.
“Ya. Mungkin kau benar. Aku memang gadis sial!
Betapa sialnya hidupku sehingga aku benar-benar yakin bahwa hidup itu tidak
adil.” Hyun-Ra tersadar ia sudah berteriak pada Lee Jung-Su. Diam-diam dia
menatap Jung-Su dari sudut matanya. Ia mendapati ekspresi terkejut dan-
apa itu? Pengertian?
“Maafkan aku, Jung-Su ssi.” Gumam Hyun-Ra.
Jung-Su mengibaskan tangannya sambil lalu. “Apa
yang terjadi?”
Tak pernah Hyun-Ra mendengar nada yang seperti
itu. Hanya Hyeon-Reu orang yang bisa memaksa Hyun-Ra menumpahkan semua isi
kepalanya. Tapi Jung-Su nyaris seperti Hyeon-Reu. Nadanya begitu tenang namun
menuntut penjelasan.
“Aku benci laki-laki!” desah Hyun-Ra.
Lee Jung-Su mengernyit. “Hei, aku laki-laki.”
“Karena itulah aku membencimu.” Kata Hyun-Ra.
Jung-Su diam namun Hyun-Ra tahu dia menunggu penjelasan.
“Kalau kau jadi aku, kau akan membenci semua
laki-laki.”
“Kenapa?”
“Ibuku dibunuh!” bisik Hyun-Ra sangat lirih. Hingga
ia ragu apakah Jung-Su bisa mendengar suaranya.
“Oleh?”
Oh, dia menyimak. “Ayahku.” Kali ini Hyun-Ra
bahkan tak bisa mendengar suaranya lagi.
“Lalu?”
“Aku mencoba membunuhnya! Tapi polisi datang
terlalu cepat. Dia sekarang mendekam di penjara.”
Lee Jung-Su mengangguk mengerti, “Hmm… Jadi kau
datang untuk menemui ayahmu?”
“Dia menyuratiku. Memintaku pulang.”
“Tapi kau memang pulang. Itu artinya kau tidak
membenci laki-laki.” Kata Jung-Su.
Kemarahan Hyun-Ra meluap lagi.”Jelas aku membencinya… dan semua laki-laki. Terutama yang
sepertimu! Oh Tuhan, kenapa aku harus menceritakan semuanya kepadamu??” Hyun-Ra
terdiam sejenak. Benarkah ia begitu membenci ayahnya? Lalu untuk apa dia
pulang? Karena surat yang menyatakan ayahnya sekarat?
“Kau tidak membenciku-?”
“Dira.” Gumam Hyun-Ra pelan.
“Ya. Kau tak mungkin membenciku, Dira. Aku kan
selalu menjadi pahlawanmu.”
Hyun-Ra mendapati dirinya tertawa mendengar
kenyataan sederhana itu. Kapan terakhir kalinya Hyun-Ra tertawa? Laki-laki yang
hanya bersamanya beberapa menit ini mampu memecahkan pertanyaan terbesarnya. Ia
tidak membenci ayahnya. Ia tidak membenci laki-laki. Ia hanya takut menerima
kenyataan.
“Wah, senangnya bisa menghiburmu.” Gumam laki-laki
itu tulus. “Nah, sekarang ayo ikut aku. Aku akan membuatmu yakin bahwa kau
tidak membenciku. Aku kan pahlawanmu.” Jung-Su menarik Hyun-Ra berdiri.
“Eh, Dira…” gumam Jung-Su.”Hati-hati. Mungkin aku
benar-benar bisa membuatmu terpesona.”
Jung-Su tersenyum lebar, dan tanpa sadar
sudut-sudut bibir Hyun-Ra tertarik membalas senyumannya yang sederhana.
***
Dari sekian banyak tempat, Jung-Su membawa Hyun-Ra
ke Dufan. Laki-laki ini ternyata lebih mengenal Indonesia dari yang Hyun-Ra
kira. Hyun-Ra memutuskan ikut mobil Jung-Su. Di Jakarta sangat rawan
mengendarai motor, dan bibinya juga tak berniat meminjamkan motor untuk
Hyun-Ra.
Kapanpun waktunya, Dufan selalu terlihat padat
pengunjung. Mereka memainkan banyak permainan yang memacu adrenalin. Hari itu
Hyun-Ra mendapati dirinya banyak berteriak dan tertawa lepas. Dia merasa dirinya
seperti sedang benar-benar berlibur. Jung-Su mengerti bagaimana caranya membuat
perasaan lebih lega. Hyun-Ra bisa melupakan masalahnya sejenak.
Memang masih terlalu dini untuk menyimpulkan.
Terlalu cepat untuk merasa yakin. Namun, Hyun-Ra bertanya-tanya dalam hati,
mungkinkah ia terpesona dengan Jung-Su? Apakah cinta pada pandangan pertama
benar-benar ada?
Memang masih terlalu dini. Hyun-Ra tak bisa
menemukan definisi kata yang tepat. Ia hanya merasa nyaman. Merasa utuh.
Saat Jung-Su membimbingnya keluar dari lorong
sesat. Menggenggam tangannya di atas tornado yang mengamuk. Dan saat Hyun-Ra
tertawa ketika Jung-Su mabuk laut waktu menaiki arung jeram, ia merasa dirinya
utuh- seperti dulu. Ia hanya merasakan perasaan senang-
benar-benar senang dan lepas.
Saat itu sudah mulai senja ketika Jung-Su dan
Hyun-Ra keluar dari istana boneka. Jung-Su membawa Hyun-Ra ke Restoran Segarra
di kawasan Pantai Carnaval Ancol. Jung-Su sengaja memesan tempat di kawasan
sofa orbit yang letaknya tepat di bibir pantai.
Dengan seat yang nyaman, mereka menunggu pesanan
mereka tiba. Ini baru pertama kali Hyun-Ra diajak pergi ke pantai. Terang saja,
masa kecil Hyun-Ra tak pernah bagus. Dan saat ini, Hyun-Ra baru sadar bahwa ia
benar-benar menyukai pantai. Pasirnya yang halus serta debur ombak yang memecah
di sela jemari kakinya. Tempat duduk nyaman yang berayun pelan di bibir pantai-
dengan Jung-Su yang duduk tenang di sampingnya. Matahari yang mulai tenggelam
menggoreskan siluet keemasan di langit Jakarta yang sudah senja.
“Ini pertama kalinya aku melihat sunset-
di pantai.” Gumam Hyun-Ra.
Jung-Su tersenyum kecil, “Kau suka?”
Hyun-Ra hanya mengangguk karena ia kehilangan
kata-katanya. Tak pernah ia menemui laki-laki semanis Jung-Su. Karena
sebelumnya ia tak pernah berurusan dengan laki-laki.
“Dira?” panggil Jung-Su.
Hyun-Ra menoleh dan terpesona dengan apa yang
dilihatnya. Jung-Su telah berdiri di hadapannya berlatarbelakang debur ombak
yang keras. Siluet matahari senja membuatnya tampak bercahaya. Di pelukannya
bertengger sebuah boneka sapi gendut yang sempat dilirik Hyun-Ra di kawasan
Dufan. Hanya sesaat- sebelum Hyun-Ra ingat bahwa boneka sapi itu benar-benar
persis dengan hadiah Ibunya dulu. Setelah itu Hyun-Ra membuang muka.
Tapi, meski hanya sekilas menaruh perhatian pada
boneka itu, Jung-Su memperhatikannya. Hyun-Ra tercekat dan membuang muka.
Jung-Su mengernyit.
“Kenapa? Bukannya kau menyukai boneka ini?”
tanyanya bingung.
“Tidak. Aku tidak suka.” Bisik Hyun-Ra pelan.
“Aku yakin kau suka. Ada apa?”
Mengapa Jung-Su bertingkah seolah telah mengenal
Hyun-Ra seumur hidup? Bagaimana bisa dia nyaris menyamai kehebatan Hyeon-Reu
dalam membongkar isi kepala Hyun-Ra. Ini tidak adil. Jung-Su bahkan belum satu
hari mengenalnya.
“Dira?” desak Jung-Su.
Hyun-Ra menghela nafas. “Aku tidak suka segala
sesuatu yang mengingatkanku pada masa lalu.” Bisiknya pelan.
Jung-Su mendekat dan membungkuk di depan Hyun-Ra.
Matanya memaksa Hyun-Ra untuk mengangkat wajah. “Dengarkan aku, Dira. Sampai
kapanpun kau tak akan bahagia kalau kau tak bisa melepas masa lalumu. Sekelam
apapun itu, itu hanya masa lalu Dira. Kau harus menghadapi dan menerimanya.”
Bibir Hyun-Ra bergetar. Tetesan air mata
pertamanya tumpah. “Aku… itu terlalu, sulit.” Isaknya.
“Aku tahu kau bisa. Aku yakin. Dan kau akan lebih
bahagia setelah kau menemui ayahmu.”
Hyun-Ra terkejut dengan perkataan Jung-Su. Sesaat
ia hanya membisu menatap mata gelap Jung-Su yang menatapnya dengan penuh
keyakinan. Jung-Su mengangguk mantap seolah menjawab keraguan Hyun-Ra.
“Aku akan menemanimu sampai akhir.”
***
Hyun-Ra bergerak-gerak gelisah di kursi
pengunjung. Dia menggenggam tangannya yang basah oleh keringat dingin, berusaha
keras tidak gemetar. Jung-Su yang melihat hal itu menggenggam tangan Hyun-Ra
untuk menyemangati. Hangatnya tangan Jung-Su menyelipkan sedikit ketenangan
bagi Hyun-Ra.
Menit demi menit berlalu hingga ruang tahanan itu
terbuka. Hyun-Ra maju dengan langkah berat dan menduduki kursi yang terasa amat
keras dan dingin. Jung-Su tetap diam di tempatnya. Dia tahu sekarang saatnya
Hyun-Ra menghadapi ketakutannya. Dengan begitu baru Hyun-Ra bisa bahagia.
“Papa…” bisik Hyun-Ra lirih. Ia nyaris tak
mengenali laki-laki yang berhadapan wajah dengannya sekarang. Mereka hanya
dibatasi selapis dinding antara tahanan dan pengunjung.
Ayahnya tampak sangat tua. Jenggotnya tumbuh tak
beraturan. Wajahnya tampak pias dan matanya terkesan tak terfokus. Namun
setelah laki-laki itu mendengar suara Hyun-Ra, sebersit tanda kehidupan
menyinari matanya yang kosong.
“Dira?” bisiknya. Ia berusaha menatap Hyun-Ra
lekat-lekat. “Dira…” ulangnya lagi.
“DIRA….” Kini ia berteriak. Tangannya mengguncang jeruji
kecil setengah lingkaran yang menjadi penghubungnya dengan anaknya itu.
Hyun-Ra tercekat dan menangis, “Iya, Papa. Ini
Dira.”
Dengan tangan gemetar, Hyun-Ra menyentuh tangan
ayahnya yang mencoba menghancurkan jeruju kecil itu. “Tenanglah, Papa.”
“Maaf… Maafkan papa, Dira.” Dan laki-laki itu
menangis. Bukan tangis histeris. Ayahnya menangis tanpa suara. Dan Hyun-Ra tahu
bagaimana rasanya. Menangis tanpa suara benar-benar menyiratkan kepedihan yang
benar-benar nyata. Seperti yang dulu pernah Hyun-Ra rasakan.
Hyun-Ra masih terdiam. Sudahkah ia memaafkan
ayahnya? Mampukah dia?
“Aku… aku ingin mendengar cerita papa. Tante
bilang tak mungkin papa mem- melakukan hal itu.”
Bisik Hyun-Ra lirih.
Ayahnya menyembunyikan wajah di balik telapak
tangannya dan menangis pilu. “Papa tidak yakin apa yang terjadi. Papa mabuk.”
Elak ayahnya.
“Tapi kau pasti ingat, Pa. Cobalah mengingat.”
Desah Hyun-Ra putus asa.
Beberapa menit berlalu dengan isak tertahan. Tak
ada yang memecah keheningan. Hyun-Ra bangkit berdiri. Ini terlalu menyesakkan.
“Jangan pergi!” raung ayahnya keras.
Hyun-Ra membeku di tempatnya. “Kalau begitu
jelaskan, Papa! Jelaskan! Kenapa kau tega membunuh Omma? Kenapa???” Hyun-Ra sadar dirinya telah lepas kendali ketika
tangan kokoh milik Jung-Su sudah memeluknya erat-erat-
menenangkan tubuhnya yang bergetar hebat.
“Ayo kita pergi.” Bisik Jung-Su.
Hyun-Ra menggeleng. Kini dengan berat hati ia
melepaskan diri dari pelukan Jung-Su yang menenangkan dan melangkah menghadapi
ayahnya yang masih menunduk hancur.
“Jawab aku, Pa. Ke-
kenapa Papa tega?”
“Aku tidak membunuh Ibumu, Dira. Tidak. Tapi aku
yang membuatnya membunuh dirinya sendiri.” Bisik ayahnya lirih hingga sesaat
Hyun-Ra tak yakin. Ibunya bunuh diri?
“Apa?” Hyun-Ra tak mampu berkata-kata lebih dari
sekedar bisikan.
“Aku bilang aku akan menceraikannya. Dan Ibumu-
tidak bisa menerimanya.”
Hyun-Ra merasa sekeliling dunianya mengabur dan
gelap. Dan saat itu Hyun-Ra benar-benar merasa damai ketika tangan Jung-Su
menyanggahnya. Hal terakhir yang diingatnya sebelum Hyun-Ra melarikan diri ke
dunia mimpi yang mungkin tak sesakit kenyataan.
***
#to be continued in Nappeun Yeoja
Part IV
-untitled-
(Based
on True Story)
Philomena
Olaf
No comments:
Post a Comment