Monday, June 10

Novelet Part III

Nappeun Yeoja
나쁜 
(part 3)

Pikiran Hyun-Ra separuh kosong. Namun kenangan akan kejadian itu malah menyerbunya.
Hari itu sudah larut dan hujan membuatnya terlihat semakin pekat. Hyun-Ra berlari kecil menembus hujan karena ia lupa membawa mantelnya. Sayup-sayup terdengar suara teriakan dari arah rumahnya. Hyun-Ra langsung merasakan firasat buruk itu.
Kondisi keluarganya memang meburuk sejak ayahnya terbukti berselingkuh. Ibunya sangat terpuruk, namun wanita itu bertahan. Ayahnya jarang pulang, tak pernah. Dia tak pernah memukul Hyun-Ra maupun Ibunya. Bila ayahnya marah, ia hanya akan pergi. Namun itu lebih menyakitkan bagi Ibunya. Hyun-Ra membenci cara Ibunya mencintai ayahnya. Begitu dalam dan tanpa syarat.
Hyun-Ra terpekik saat menatap pemandangan di depannya. Ibunya tersungkur di tengah kubangan darah. Pisau dapur menancap pada dadanya. Wajah Ibunya pucat kehabisan darah. Ayahnya berdiri tak jauh dari sana, antara sadar atau tidak. Sepertinya dia mabuk.
Hyun-Ra berlari menghampiri Ibunya yang sekarat. Dengan tangan bergetar Hyun-Ra mencabut pisau itu dari tubuh Ibunya. Ibunya tak pernah membuka mata. Tak pernah ada pesan terakhir. Tak ada ucapan perpisahan. Ibunya hanya menutup mata.
Ayahnya yang mungkin separuh sinting bergumam tidak jelas. Dan saat itu Hyun-Ra dikuasai kemarahan gelap. Bisa-bisanya dia membunuh Ibunya hanya untuk bisa bersama wanita jalang itu? Dia harus mati kalau begitu!
Dengan kalap Hyun-Ra menyerang ayahnya. Dia berhasil merobek tangan ayahnya sebelum tangan-tangan polisi mengamankannya. Dan sejak saat itu, Hyun-Ra tak pernah melihat ayahnya lagi. Baginya, ayahnya juga ikut mati pada saat itu.
***
Suara klakson yang keras membuat Hyun-Ra terkejut, namun ia bisa menghindar tepat waktunya. Dia sudah bertekad tak akan celaka lagi karena kenangan masa lalu itu. Dan yang tadi nyaris saja.
“Kau baik-baik saja? Astaga kau lagi-
Hyun-Ra berusaha memfokuskan perhatian. Sebersit wajah itu tampak familier. Dan suara itu… Ya. Suara itu menegaskan keraguan Hyun-Ra. Laki-laki yang berdiri di hadapannya adalah laki-laki yang sama yang menolongnya beberapa hari lalu.
“Benar kau rupanya.” Gumam laki-laki itu setelah mengamati Hyun-Ra beberapa saat. “Ayo bangun.”
Laki-laki itu membantunya berdiri, “Kau harus mentraktirku.” Katanya.
Hyun-Ra mengernyit. “Apa?”
“Ayolah, traktir aku sekali-sekali.”
Hyun-Ra terdiam sejenak. Mungkin laki-laki ini meminta imbalan atas pertolongannya selama ini. Hyun-Ra mengangkat bahu. Tak apalah membelikannya sepotong cone es cream.
Setelah mendapatkan es cream mereka, laki-laki itu membawa Hyun-Ra ke sebuah taman kota yang tak jauh dari sana. Siang itu hanya ada segelintir orang dan pedagang makanan yang duduk bergerombol di beberapa sudut taman kota.
“Jadi, apa yang kutemui disini? Gadis sial yang hobi kena kecelakaan?”
“Apa maksudmu-
“Lee Jung-Su.”
Hyun-Ra berdeham kesal. “Apa maksudmu Lee Jung-Su ssi? Aku gadis sial?” tuntut Hyun-Ra marah. Lee Jung-Su memasang cengiran lebar.
“Aku hanya tak pernah menjumpai yang sepeti dirimu. Memang sebesar apa masalahmu sampai kau berniat mengakhiri hidupmu?” kata Jung-Su.
“Mengakhiri hidupku??” Suara Hyun-Ra naik satu oktaf. Wah, laki-laki ini sudah keterlaluan. Hyun-Ra berusaha menenangkan diri. Oh, tidak bisa. Dengan kesal Hyun-Ra melayangkan cone es cream cokelatnya ke wajah laki-laki itu.
“Ya. Mungkin kau benar. Aku memang gadis sial! Betapa sialnya hidupku sehingga aku benar-benar yakin bahwa hidup itu tidak adil.” Hyun-Ra tersadar ia sudah berteriak pada Lee Jung-Su. Diam-diam dia menatap Jung-Su dari sudut matanya. Ia mendapati ekspresi terkejut dan- apa itu? Pengertian?
“Maafkan aku, Jung-Su ssi.” Gumam Hyun-Ra.
Jung-Su mengibaskan tangannya sambil lalu. “Apa yang terjadi?”
Tak pernah Hyun-Ra mendengar nada yang seperti itu. Hanya Hyeon-Reu orang yang bisa memaksa Hyun-Ra menumpahkan semua isi kepalanya. Tapi Jung-Su nyaris seperti Hyeon-Reu. Nadanya begitu tenang namun menuntut penjelasan.
“Aku benci laki-laki!” desah Hyun-Ra.
Lee Jung-Su mengernyit. “Hei, aku laki-laki.”
“Karena itulah aku membencimu.” Kata Hyun-Ra. Jung-Su diam namun Hyun-Ra tahu dia menunggu penjelasan.
“Kalau kau jadi aku, kau akan membenci semua laki-laki.”
“Kenapa?”
“Ibuku dibunuh!” bisik Hyun-Ra sangat lirih. Hingga ia ragu apakah Jung-Su bisa mendengar suaranya.
“Oleh?”
Oh, dia menyimak. “Ayahku.” Kali ini Hyun-Ra bahkan tak bisa mendengar suaranya lagi.
“Lalu?”
“Aku mencoba membunuhnya! Tapi polisi datang terlalu cepat. Dia sekarang mendekam di penjara.”
Lee Jung-Su mengangguk mengerti, “Hmm… Jadi kau datang untuk menemui ayahmu?”
“Dia menyuratiku. Memintaku pulang.”
“Tapi kau memang pulang. Itu artinya kau tidak membenci laki-laki.” Kata Jung-Su.
Kemarahan Hyun-Ra meluap lagi.”Jelas aku membencinya… dan semua laki-laki. Terutama yang sepertimu! Oh Tuhan, kenapa aku harus menceritakan semuanya kepadamu??” Hyun-Ra terdiam sejenak. Benarkah ia begitu membenci ayahnya? Lalu untuk apa dia pulang? Karena surat yang menyatakan ayahnya sekarat?
“Kau tidak membenciku-?”
“Dira.” Gumam Hyun-Ra pelan.
“Ya. Kau tak mungkin membenciku, Dira. Aku kan selalu menjadi pahlawanmu.”
Hyun-Ra mendapati dirinya tertawa mendengar kenyataan sederhana itu. Kapan terakhir kalinya Hyun-Ra tertawa? Laki-laki yang hanya bersamanya beberapa menit ini mampu memecahkan pertanyaan terbesarnya. Ia tidak membenci ayahnya. Ia tidak membenci laki-laki. Ia hanya takut menerima kenyataan.
“Wah, senangnya bisa menghiburmu.” Gumam laki-laki itu tulus. “Nah, sekarang ayo ikut aku. Aku akan membuatmu yakin bahwa kau tidak membenciku. Aku kan pahlawanmu.” Jung-Su menarik Hyun-Ra berdiri.
“Eh, Dira…” gumam Jung-Su.”Hati-hati. Mungkin aku benar-benar bisa membuatmu terpesona.”
Jung-Su tersenyum lebar, dan tanpa sadar sudut-sudut bibir Hyun-Ra tertarik membalas senyumannya yang sederhana.
***
Dari sekian banyak tempat, Jung-Su membawa Hyun-Ra ke Dufan. Laki-laki ini ternyata lebih mengenal Indonesia dari yang Hyun-Ra kira. Hyun-Ra memutuskan ikut mobil Jung-Su. Di Jakarta sangat rawan mengendarai motor, dan bibinya juga tak berniat meminjamkan motor untuk Hyun-Ra.
Kapanpun waktunya, Dufan selalu terlihat padat pengunjung. Mereka memainkan banyak permainan yang memacu adrenalin. Hari itu Hyun-Ra mendapati dirinya banyak berteriak dan tertawa lepas. Dia merasa dirinya seperti sedang benar-benar berlibur. Jung-Su mengerti bagaimana caranya membuat perasaan lebih lega. Hyun-Ra bisa melupakan masalahnya sejenak.
Memang masih terlalu dini untuk menyimpulkan. Terlalu cepat untuk merasa yakin. Namun, Hyun-Ra bertanya-tanya dalam hati, mungkinkah ia terpesona dengan Jung-Su? Apakah cinta pada pandangan pertama benar-benar ada?
Memang masih terlalu dini. Hyun-Ra tak bisa menemukan definisi kata yang tepat. Ia hanya merasa nyaman. Merasa utuh.
Saat Jung-Su membimbingnya keluar dari lorong sesat. Menggenggam tangannya di atas tornado yang mengamuk. Dan saat Hyun-Ra tertawa ketika Jung-Su mabuk laut waktu menaiki arung jeram, ia merasa dirinya utuh- seperti dulu. Ia hanya merasakan perasaan senang- benar-benar senang dan lepas.
Saat itu sudah mulai senja ketika Jung-Su dan Hyun-Ra keluar dari istana boneka. Jung-Su membawa Hyun-Ra ke Restoran Segarra di kawasan Pantai Carnaval Ancol. Jung-Su sengaja memesan tempat di kawasan sofa orbit yang letaknya tepat di bibir pantai.
Dengan seat yang nyaman, mereka menunggu pesanan mereka tiba. Ini baru pertama kali Hyun-Ra diajak pergi ke pantai. Terang saja, masa kecil Hyun-Ra tak pernah bagus. Dan saat ini, Hyun-Ra baru sadar bahwa ia benar-benar menyukai pantai. Pasirnya yang halus serta debur ombak yang memecah di sela jemari kakinya. Tempat duduk nyaman yang berayun pelan di bibir pantai- dengan Jung-Su yang duduk tenang di sampingnya. Matahari yang mulai tenggelam menggoreskan siluet keemasan di langit Jakarta yang sudah senja.
“Ini pertama kalinya aku melihat sunset- di pantai.” Gumam Hyun-Ra.
Jung-Su tersenyum kecil, “Kau suka?”
Hyun-Ra hanya mengangguk karena ia kehilangan kata-katanya. Tak pernah ia menemui laki-laki semanis Jung-Su. Karena sebelumnya ia tak pernah berurusan dengan laki-laki.
“Dira?” panggil Jung-Su.
Hyun-Ra menoleh dan terpesona dengan apa yang dilihatnya. Jung-Su telah berdiri di hadapannya berlatarbelakang debur ombak yang keras. Siluet matahari senja membuatnya tampak bercahaya. Di pelukannya bertengger sebuah boneka sapi gendut yang sempat dilirik Hyun-Ra di kawasan Dufan. Hanya sesaat- sebelum Hyun-Ra ingat bahwa boneka sapi itu benar-benar persis dengan hadiah Ibunya dulu. Setelah itu Hyun-Ra membuang muka.
Tapi, meski hanya sekilas menaruh perhatian pada boneka itu, Jung-Su memperhatikannya. Hyun-Ra tercekat dan membuang muka. Jung-Su mengernyit.
“Kenapa? Bukannya kau menyukai boneka ini?” tanyanya bingung.
“Tidak. Aku tidak suka.” Bisik Hyun-Ra pelan.
“Aku yakin kau suka. Ada apa?”
Mengapa Jung-Su bertingkah seolah telah mengenal Hyun-Ra seumur hidup? Bagaimana bisa dia nyaris menyamai kehebatan Hyeon-Reu dalam membongkar isi kepala Hyun-Ra. Ini tidak adil. Jung-Su bahkan belum satu hari mengenalnya.
“Dira?” desak Jung-Su.
Hyun-Ra menghela nafas. “Aku tidak suka segala sesuatu yang mengingatkanku pada masa lalu.” Bisiknya pelan.
Jung-Su mendekat dan membungkuk di depan Hyun-Ra. Matanya memaksa Hyun-Ra untuk mengangkat wajah. “Dengarkan aku, Dira. Sampai kapanpun kau tak akan bahagia kalau kau tak bisa melepas masa lalumu. Sekelam apapun itu, itu hanya masa lalu Dira. Kau harus menghadapi dan menerimanya.”
Bibir Hyun-Ra bergetar. Tetesan air mata pertamanya tumpah. “Aku… itu terlalu, sulit.” Isaknya.
“Aku tahu kau bisa. Aku yakin. Dan kau akan lebih bahagia setelah kau menemui ayahmu.”
Hyun-Ra terkejut dengan perkataan Jung-Su. Sesaat ia hanya membisu menatap mata gelap Jung-Su yang menatapnya dengan penuh keyakinan. Jung-Su mengangguk mantap seolah menjawab keraguan Hyun-Ra.
“Aku akan menemanimu sampai akhir.”
***
Hyun-Ra bergerak-gerak gelisah di kursi pengunjung. Dia menggenggam tangannya yang basah oleh keringat dingin, berusaha keras tidak gemetar. Jung-Su yang melihat hal itu menggenggam tangan Hyun-Ra untuk menyemangati. Hangatnya tangan Jung-Su menyelipkan sedikit ketenangan bagi Hyun-Ra.
Menit demi menit berlalu hingga ruang tahanan itu terbuka. Hyun-Ra maju dengan langkah berat dan menduduki kursi yang terasa amat keras dan dingin. Jung-Su tetap diam di tempatnya. Dia tahu sekarang saatnya Hyun-Ra menghadapi ketakutannya. Dengan begitu baru Hyun-Ra bisa bahagia.
“Papa…” bisik Hyun-Ra lirih. Ia nyaris tak mengenali laki-laki yang berhadapan wajah dengannya sekarang. Mereka hanya dibatasi selapis dinding antara tahanan dan pengunjung.
Ayahnya tampak sangat tua. Jenggotnya tumbuh tak beraturan. Wajahnya tampak pias dan matanya terkesan tak terfokus. Namun setelah laki-laki itu mendengar suara Hyun-Ra, sebersit tanda kehidupan menyinari matanya yang kosong.
“Dira?” bisiknya. Ia berusaha menatap Hyun-Ra lekat-lekat. “Dira…” ulangnya lagi.
“DIRA….” Kini ia berteriak. Tangannya mengguncang jeruji kecil setengah lingkaran yang menjadi penghubungnya dengan anaknya itu.
Hyun-Ra tercekat dan menangis, “Iya, Papa. Ini Dira.”
Dengan tangan gemetar, Hyun-Ra menyentuh tangan ayahnya yang mencoba menghancurkan jeruju kecil itu. “Tenanglah, Papa.”
“Maaf… Maafkan papa, Dira.” Dan laki-laki itu menangis. Bukan tangis histeris. Ayahnya menangis tanpa suara. Dan Hyun-Ra tahu bagaimana rasanya. Menangis tanpa suara benar-benar menyiratkan kepedihan yang benar-benar nyata. Seperti yang dulu pernah Hyun-Ra rasakan.
Hyun-Ra masih terdiam. Sudahkah ia memaafkan ayahnya? Mampukah dia?
“Aku… aku ingin mendengar cerita papa. Tante bilang tak mungkin papa mem- melakukan hal itu.” Bisik Hyun-Ra lirih.
Ayahnya menyembunyikan wajah di balik telapak tangannya dan menangis pilu. “Papa tidak yakin apa yang terjadi. Papa mabuk.” Elak ayahnya.
“Tapi kau pasti ingat, Pa. Cobalah mengingat.” Desah Hyun-Ra putus asa.
Beberapa menit berlalu dengan isak tertahan. Tak ada yang memecah keheningan. Hyun-Ra bangkit berdiri. Ini terlalu menyesakkan.
“Jangan pergi!” raung ayahnya keras.
Hyun-Ra membeku di tempatnya. “Kalau begitu jelaskan, Papa! Jelaskan! Kenapa kau tega membunuh Omma? Kenapa???” Hyun-Ra sadar dirinya telah lepas kendali ketika tangan kokoh milik Jung-Su sudah memeluknya erat-erat- menenangkan tubuhnya yang bergetar hebat.
“Ayo kita pergi.” Bisik Jung-Su.
Hyun-Ra menggeleng. Kini dengan berat hati ia melepaskan diri dari pelukan Jung-Su yang menenangkan dan melangkah menghadapi ayahnya yang masih menunduk hancur.
“Jawab aku, Pa. Ke- kenapa Papa tega?”
“Aku tidak membunuh Ibumu, Dira. Tidak. Tapi aku yang membuatnya membunuh dirinya sendiri.” Bisik ayahnya lirih hingga sesaat Hyun-Ra tak yakin. Ibunya bunuh diri?
“Apa?” Hyun-Ra tak mampu berkata-kata lebih dari sekedar bisikan.
“Aku bilang aku akan menceraikannya. Dan Ibumu- tidak bisa menerimanya.”
Hyun-Ra merasa sekeliling dunianya mengabur dan gelap. Dan saat itu Hyun-Ra benar-benar merasa damai ketika tangan Jung-Su menyanggahnya. Hal terakhir yang diingatnya sebelum Hyun-Ra melarikan diri ke dunia mimpi yang mungkin tak sesakit kenyataan.

***
#to be continued in Nappeun Yeoja Part IV

-untitled-
(Based on True Story)

Philomena Olaf

No comments:

Post a Comment