Nappeun
Yeoja
나쁜 여자(part 2)
“Onni…”
bisik Hyun-Ra dengan suara serak. Kim Hyeon-Reu nyaris terlonjak kaget
mendengar suara Hyun-Ra yang diluar batas normal.
“Hyun-Ra, kau kenapa?” jawabnya kaget.
“Bisakah kau datang, onni? Aku butuh… bantuanmu.”
“Aku ke sana sekarang. Kau tunggu aku.”
Sambungan pun terputus. Hyun-Ra nyaris bisa
membayangkan desing angin saat Hyeon-Reu berlari cepat untuk datang ke
tempatnya. Ah, Hyeon-Reu… Apa jadinya Hyun-Ra tanpa sepupunya itu. Mereka
berdua sama-sama anak tunggal. Karena itulah mereka menjadi begitu dekat.
Hyeon-Reu selalu ada bagi Hyun-Ra. Itulah alasan
mengapa Hyun-Ra tak pernah bisa menyembunyikan apapun dari saudaranya itu.
Hyeon-Reu mengenal siapa Hyun-Ra sebenarnya, karena ia telah melihat semua
secara utuh. Dari awal, sebelum topeng datar itu tertanam secara permanen. Dan
Hyeon-Reu tak mengeluh akan perubahan sikap Hyun-Ra yang jadi liar dan
menyebalkan. Dia mengerti.
Bel apartemen Hyun-Ra ditekan berkali-kali.
Hyun-Ra mengerang dan berusaha menyeret langkahnya untuk membukakan pintu. Untungnya
Hyun-Ra sudah membersihkan luka di lututnya sehingga mungkin bisa lebih
mengurangi kepanikan Hyeon-Reu. Tapi luka robek di mulutnya, sejauh ini, luka
itulah yang paling menyiksa.
“Astaga, Hyun-Ra ssi!” pekik Hyeon-Reu seperti yang sudah bisa diperkirakan Hyun-Ra.
Gadis itu meringis dan mundur sedikit. Hyun-Ra memanfaatkan sisa-sisa tenaganya
untuk berjalan ke kursi yang berlepotan darah.
Hyeon-Reu setengah berlari mengambil kotak obat.
Dengan sigap Hyeon-Reu mengambil baskom dan mengisinya dengan air hangat.
Hyun-Ra setengah berselonjor di sofa. Nafasnya perlahan dan berat. Tentu saja
Hyun-Ra tampak amat lemas. Siapa yang tahu seberapa banyak ia kehilangan darah.
Hyeon-Reu membasuh wajah sepupunya itu dengan air
hangat dan mulai memeriksa kondisi Hyun-Ra. Hyun-Ra tampak sangat kacau.
Wajahnya memar dan sudut bibirnya robek parah. Di dahinya ada memar seukuran
bola tenis yang kini sudah berwarna ungu tua. Kedua telapak kakinya robek dan
memar. Ditambah luka gores sepanjang lutut sampai paha.
“Luka robek di mulutmu harus dijahit, Hyun-Ra.”
Kata Hyeon-Reu pelan. Nafas Hyun-Ra terdengar sangat pelan dan berat. “Dan kau
sepertinya harus ditransfusi.” Tambah Hyeon-Reu.
“Aku tidak mau ke rumah sakit.” Bisik Hyun-Ra.
“Aku tahu. Tapi lihat kondisimu sekarang. Aku
belum mahir dalam menangani luka robek. Dan di rumahmu tak ada stok darah. Aku
harus membawamu ke rumah sakit Hyun-Ra. Kumohon sekali ini saja.”
Hyun-Ra menggeleng pelan, nyaris tak memiliki
tenaga untuk mendebat sepupunya itu. “Jangan…jangan rumah sakit. Please?”
Hyeon-Reu mendesah, “Aku akan berusaha semampuku.
Dan kau- berjuanglah mempertahankan kesadaranmu.” Kata Hyeon-Reu.
Hyun-Ra mengangguk dan meringis sedikit. Dia
memejamkan mata perlahan. Rasanya menggoda sekali untuk tidur sebentar. Tapi ia
harus sadar. Setidaknya sampai Hyeon-Reu kembali membawa darah dan alat bedah.
Kadang memiliki sepupu seperti Hyeon-Reu- yang kebetulan seorang mahasiswi
fakultas kedokteran, sangat membantu.
Oh, mata Hyun-Ra rasanya sangat berat dan tubuhnya
benar-benar lemas. Yah, tak apalah ia tertidur. Ia ingin tidur, sebentar saja.
Hyeon-Reu tak akan marah bukan.
***
“Apa? Untuk apa kau pergi ke Indonesia?” tanya
Dong-Sun kaget.
“Berlibur sebentar. Kata Hyeon-Reu juga aku harus
mengambil istirahat untuk memulihkan diri.” Kata Hyun-Ra.
Dong-Sun menggeleng,”Kenapa harus Indonesia? Jauh
sekali. Aku tak bisa mejagamu nanti, Hyun-Ra ssi.”
Hyun-Ra mengernyit, “Sejak kapan kau jadi
penjagaku? Aku sudah terbiasa menjaga diriku sendiri, Dong-Sun ssi. Jangan berlebihan.” Kata Hyun-Ra
sedikit kesal. Apa sebenarnya arti kelakuan Dong-Sun. Kenapa ia jadi begitu
perhatian.
“Aku tahu. Aku ingin menemanimu, tapi-”
Tapi
kau tidak bisa merasa jauh dari Dae-Hya mu itu, batin Hyun-Ra panas.
“Aku tahu. Dae-Hya tak akan mengijinkan.” Kata
Hyun-Ra pahit.
Dong-Sun mengangkat wajahnya, “Apa? Dae-Hya sama
sekali tak ada hubungannya. Aku hanya kehabisan masa aktif pasporku.” Kata
Dong-Sun.
Hyun-Ra tak bisa mencegah sebersit perasaan senang
yang menyeruak muncul. “Hmm.”
“Dan Dae-Hya tak akan berhak melarangku
menemanimu. Kau lebih penting.” tambah Dong-Sun.
Apalagi itu? Hyun-Ra tertawa sumbang untuk
menutupi kegugupannya. “Bisa-bisanya kau merayuku juga, Dong-Sun ssi.”
“Aku tidak merayumu.” Bantah Dong-Sun.
Hyun-Ra mengangkat bahu tak peduli, namun ia menolak
menatap Dong-Sun. “Semua orang tahu kau berpacaran dengannya. Jadi jangan
membuat isu miring denganku. Aku tak mau menarik perhatian.” Hyun-Ra menyadari
hatinya sakit saat mengatakan hal itu.
Seok Dong-Sun nyaris sama berartinya seperti
Hyeon-Reu. Hanya mereka yang bertahan berada dalam kehidupan seorang Park
Hyun-Ra. Namun Dong-Sun tak pernah tahu rahasia terkelamnya. Dong-Sun bisa
dikatakan dekat, tapi ia tak mengenal Hyun-Ra secara utuh. Ditambah tabiatnya
yang suka berganti-ganti pasangan membuat Hyun-Ra enggan terlibat hubungan yang
lebih daripada persahabatan.
“Wah, kalau begitu kau harus bersiap-siap menjadi
pusat perhatian, Park Hyun-Ra.” Tanpa sadar Dong-Sun sudah berdiri di belakang
Hyun-Ra dan membisikan kalimat itu dengan lembut. Hyun-Ra tertegun dan
jantungnya bertalu-talu.
Masih beranikah ia berharap?
***
Hyun-Ra menguatkan dirinya untuk melangkah keluar
dari bandara. Sekarang pikirannya berputar keras, mau kemana dia? Dia datang ke
sini bukan untuk berlibur. Dia datang untuk menghadapi semua masalahnya. Terjun
ke dalam mimpi terburuknya. Hyeon-Reu benar. Jika ingin bahagia, Hyun-Ra harus
bisa mengalahkan ketakutan dan luka lamanya. Untuk itu ia pulang ke Indonesia.
Lebih baik ia pergi ke rumah bibinya dulu.
Setidaknya ada suatu tempat yang bisa dituju.
Setelah hampir 2 jam membelah kemacetan Jakarta,
taxi memasuki gerbang Perumahan Citra Raya. Hyun-Ra berusaha menggenggam
tangannya yang mulai bergetar dan dingin. Mencoba rileks, tapi nafasnya terasa
berat. Akankah sesulit ini? Apakah bibinya masih mau menerimanya setelah apa
yang dilakukannya dulu?
Rumah itu tidak berubah. Hyun-Ra sering sekali
menghabiskan masa liburan di rumah bibinya. Tapi ini sudah sangat lama.
Hyun-Ra menguatkan diri sebelum menekan bel. Suara
intercom menjawabnya.
“Anda mencari siapa?”
Hyun-Ra tak pernah melupakan bahasa Indonesia,
namun lidahnya terasa kelu karena gugup. Ia berdeham sebentar sebelum menjawab.
“Nama saya Park Hyun-Ra. Saya datang menemui Ibu Ratih.”
Hening sesaat sebelum suara itu menjawab, “Dira?”
tanya suara itu ragu.
Hyun-Ra baru tersadar bahwa ia berbicara dengan
bibinya dari tadi. “Tante?”
“Ini benar-benar Dira?” tanya suara dari intercom
itu lagi, mendesak.
“Ya, saya Dira.” Jawab Hyun-Ra gugup.
“Astaga. Tunggu sebentar.”
Hyun-Ra menunggu dengan gugup. Apa yang harus
dikatakannya?
Wanita paruh baya yang membukakan pintu itu jelas
adalah bibinya. Dia menatap Hyun-Ra lekat-lekat sebelum menariknya dalam
pelukan yang erat.
“Kenapa
baru pulang sekarang, DIra? Kamu ga kangen sama tante?”
Hyun-Ra bergeming ketika gelombang ketenangan
melandanya. Penolakan yang dibayangkannya selama ini tidak pernah nyata. Tapi
hatinya masih ragu, apakah semuanya jadi semudah itu?
“Mian-
maaf tante.”
“Sudah, sudah. Ayo masuk dulu.”
Akankah semuanya semudah ini? Hyun-Ra ingin
berharap, sekali ini saja.
***
Satu masalah yang terlepas agak melegakan bagi
Hyun-Ra. Namun untuk mendekati perasaan bebas, dia masih jauh. Masih sangat
jauh. Akan tetapi Hyun-Ra merasa selangkah lebih dekat. Itu lebih baik daripada
tidak sama sekali.
Meski sudah bertahun-tahun, Hyun-Ra tak pernah
lupa. Karena mimpi buruk akan tetap melekat dalam ingatan. Apalagi jika mimpi
buruk yang menjadi nyata, pasti akan meninggalkan bekas permanen.
Pemakaman tidak terlalu ramai, karena hari libur
masih jauh. Sebenarnya pergi ke sini mencabik Hyun-Ra menjadi dua bagian.
Bagian hatinya yang memang selalu merindukan sosok yang terbaring di sini. Dan
sosok lain meneriakan rasa sakit dan rekaan ulang semua kejadian itu. Kejadian yang
bukan lagi menjadi mimpi buruk. Hyun-Ra menyebutnya kenyataan tragis.
“Omma…
apa kabar?”
Hyun-Ra tercekat. Ia tak mampu membendung air mata
ini. Betapa ia merindukan Ibunya. Namun ia baru datang lagi ke sini setelah
sekian tahun. Ia hanya tak mampu. Betapapun ia merindukan dirinya, ia tak sanggup
menahan sakit yang timbul. Semua itu tak sepadan. Namun kali ini, ia rela
menahannya. Oh, betapa ia merindukan Ibunya.
“Omma…
jangan marah padaku. Aku hanya terlalu takut untuk datang. Ternyata rasanya
masih sakit. Sakit sekali, omma.”
Hyun-Ra menekan dadanya, berharap perih itu berkurang.
“Aku harap omma
sudah bahagia di sana. Aku juga ingin…bahagia. Tapi semua itu terus
menghantuiku omma. Aku lelah.”
Tangan Hyun-Ra menggenggam tanah makam begitu
kerasnya hingga terasa kebas. Apakah Ibunya marah akan kelakuannya? Akankah
Ibunya marah karena Hyun-Ra terus menyimpan dendam? Namun Hyun-Ra belum bisa
memaafkannya. Ia bahkan tak yakin ia
bisa.
“Dia meminta maaf, omma. Dia menghubungiku lagi. Aku harus bagaimana? Sampai kapanpun
aku tak bisa memaafkannya. Dia mengambilmu omma!
Dia membuat hidupku hancur!” Angin yang berhembus membuat tubuh Hyun-Ra
mengejang. Serasa Ibunya sedang cemberut menatapnya. Ibunya tak pernah suka
Hyun-Ra menyimpan dendam.
“Kau marah omma?
Tahukah kau itu sangat berat bagiku?” isak Hyun-Ra.
Hyun-Ra memejamkan matanya rapat-rapat berusaha
mengais sedikit kedamaian di tempat ini.
“Akan kucoba, omma.”
Bisiknya lirih. Hyun-Ra bangkit dan memantapkan hati untuk pergi. Langkahnya
terasa berat ketika ia membayangkan harus pergi ke tempat itu. Akal sehat
menyuruhnya tetap tinggal dan menolak menghadapi rasa sakit itu. Tapi hatinya
berkata lain.
Ia harus menemui ayahnya. Mungkin Hyun-Ra memang
sedikit merindukannya.
***
#to be continued in Nappeun Yeoja
Part III
-untitled-
(Based
on True Story)
Philomena
Olaf
No comments:
Post a Comment