Sunday, June 9

Novelet Part II

Nappeun Yeoja
나쁜
(part 2)
Onni…” bisik Hyun-Ra dengan suara serak. Kim Hyeon-Reu nyaris terlonjak kaget mendengar suara Hyun-Ra yang diluar batas normal.
“Hyun-Ra, kau kenapa?” jawabnya kaget.
“Bisakah kau datang, onni? Aku butuh… bantuanmu.”
Hyun-Ra menghela nafas berat. Sebenarnya ia malu terlihat begitu lemah dihadapan orang lain. Apalagi Kim Hyeon-Reu. Namun setelah sejenak bingung, ia memutuskan untuk pulang ke rumah daripada ke rumah sakit. Ia benci rumah sakit. Dan sebenarnya yang lebih terasa sakit adalah luka dalam hatinya- walaupun luka fisik juga sangat menyiksa. Dan luka itu akan bertambah parah kalau Hyun-Ra pergi ke rumah sakit.
“Aku ke sana sekarang. Kau tunggu aku.”
Sambungan pun terputus. Hyun-Ra nyaris bisa membayangkan desing angin saat Hyeon-Reu berlari cepat untuk datang ke tempatnya. Ah, Hyeon-Reu… Apa jadinya Hyun-Ra tanpa sepupunya itu. Mereka berdua sama-sama anak tunggal. Karena itulah mereka menjadi begitu dekat.
Hyeon-Reu selalu ada bagi Hyun-Ra. Itulah alasan mengapa Hyun-Ra tak pernah bisa menyembunyikan apapun dari saudaranya itu. Hyeon-Reu mengenal siapa Hyun-Ra sebenarnya, karena ia telah melihat semua secara utuh. Dari awal, sebelum topeng datar itu tertanam secara permanen. Dan Hyeon-Reu tak mengeluh akan perubahan sikap Hyun-Ra yang jadi liar dan menyebalkan. Dia mengerti.
Bel apartemen Hyun-Ra ditekan berkali-kali. Hyun-Ra mengerang dan berusaha menyeret langkahnya untuk membukakan pintu. Untungnya Hyun-Ra sudah membersihkan luka di lututnya sehingga mungkin bisa lebih mengurangi kepanikan Hyeon-Reu. Tapi luka robek di mulutnya, sejauh ini, luka itulah yang paling menyiksa.
“Astaga, Hyun-Ra ssi!” pekik Hyeon-Reu seperti yang sudah bisa diperkirakan Hyun-Ra. Gadis itu meringis dan mundur sedikit. Hyun-Ra memanfaatkan sisa-sisa tenaganya untuk berjalan ke kursi yang berlepotan darah.
Hyeon-Reu setengah berlari mengambil kotak obat. Dengan sigap Hyeon-Reu mengambil baskom dan mengisinya dengan air hangat. Hyun-Ra setengah berselonjor di sofa. Nafasnya perlahan dan berat. Tentu saja Hyun-Ra tampak amat lemas. Siapa yang tahu seberapa banyak ia kehilangan darah.
Hyeon-Reu membasuh wajah sepupunya itu dengan air hangat dan mulai memeriksa kondisi Hyun-Ra. Hyun-Ra tampak sangat kacau. Wajahnya memar dan sudut bibirnya robek parah. Di dahinya ada memar seukuran bola tenis yang kini sudah berwarna ungu tua. Kedua telapak kakinya robek dan memar. Ditambah luka gores sepanjang lutut sampai paha.
“Luka robek di mulutmu harus dijahit, Hyun-Ra.” Kata Hyeon-Reu pelan. Nafas Hyun-Ra terdengar sangat pelan dan berat. “Dan kau sepertinya harus ditransfusi.” Tambah Hyeon-Reu.
“Aku tidak mau ke rumah sakit.” Bisik Hyun-Ra.
“Aku tahu. Tapi lihat kondisimu sekarang. Aku belum mahir dalam menangani luka robek. Dan di rumahmu tak ada stok darah. Aku harus membawamu ke rumah sakit Hyun-Ra. Kumohon sekali ini saja.”
Hyun-Ra menggeleng pelan, nyaris tak memiliki tenaga untuk mendebat sepupunya itu. “Jangan…jangan rumah sakit. Please?”
Hyeon-Reu mendesah, “Aku akan berusaha semampuku. Dan kau- berjuanglah mempertahankan kesadaranmu.” Kata Hyeon-Reu.
Hyun-Ra mengangguk dan meringis sedikit. Dia memejamkan mata perlahan. Rasanya menggoda sekali untuk tidur sebentar. Tapi ia harus sadar. Setidaknya sampai Hyeon-Reu kembali membawa darah dan alat bedah. Kadang memiliki sepupu seperti Hyeon-Reu- yang kebetulan seorang mahasiswi fakultas kedokteran, sangat membantu.
Oh, mata Hyun-Ra rasanya sangat berat dan tubuhnya benar-benar lemas. Yah, tak apalah ia tertidur. Ia ingin tidur, sebentar saja. Hyeon-Reu tak akan marah bukan.
***
“Apa? Untuk apa kau pergi ke Indonesia?” tanya Dong-Sun kaget.
“Berlibur sebentar. Kata Hyeon-Reu juga aku harus mengambil istirahat untuk memulihkan diri.” Kata Hyun-Ra.
Dong-Sun menggeleng,”Kenapa harus Indonesia? Jauh sekali. Aku tak bisa mejagamu nanti, Hyun-Ra ssi.”
Hyun-Ra mengernyit, “Sejak kapan kau jadi penjagaku? Aku sudah terbiasa menjaga diriku sendiri, Dong-Sun ssi. Jangan berlebihan.” Kata Hyun-Ra sedikit kesal. Apa sebenarnya arti kelakuan Dong-Sun. Kenapa ia jadi begitu perhatian.
“Aku tahu. Aku ingin menemanimu, tapi-
Tapi kau tidak bisa merasa jauh dari Dae-Hya mu itu, batin Hyun-Ra panas.
“Aku tahu. Dae-Hya tak akan mengijinkan.” Kata Hyun-Ra pahit.
Dong-Sun mengangkat wajahnya, “Apa? Dae-Hya sama sekali tak ada hubungannya. Aku hanya kehabisan masa aktif pasporku.” Kata Dong-Sun.
Hyun-Ra tak bisa mencegah sebersit perasaan senang yang menyeruak muncul. “Hmm.”
“Dan Dae-Hya tak akan berhak melarangku menemanimu. Kau lebih penting.” tambah Dong-Sun.
Apalagi itu? Hyun-Ra tertawa sumbang untuk menutupi kegugupannya. “Bisa-bisanya kau merayuku juga, Dong-Sun ssi.”
“Aku tidak merayumu.” Bantah Dong-Sun.
Hyun-Ra mengangkat bahu tak peduli, namun ia menolak menatap Dong-Sun. “Semua orang tahu kau berpacaran dengannya. Jadi jangan membuat isu miring denganku. Aku tak mau menarik perhatian.” Hyun-Ra menyadari hatinya sakit saat mengatakan hal itu.
Seok Dong-Sun nyaris sama berartinya seperti Hyeon-Reu. Hanya mereka yang bertahan berada dalam kehidupan seorang Park Hyun-Ra. Namun Dong-Sun tak pernah tahu rahasia terkelamnya. Dong-Sun bisa dikatakan dekat, tapi ia tak mengenal Hyun-Ra secara utuh. Ditambah tabiatnya yang suka berganti-ganti pasangan membuat Hyun-Ra enggan terlibat hubungan yang lebih daripada persahabatan.
“Wah, kalau begitu kau harus bersiap-siap menjadi pusat perhatian, Park Hyun-Ra.” Tanpa sadar Dong-Sun sudah berdiri di belakang Hyun-Ra dan membisikan kalimat itu dengan lembut. Hyun-Ra tertegun dan jantungnya bertalu-talu.
Masih beranikah ia berharap?
***
Hyun-Ra menguatkan dirinya untuk melangkah keluar dari bandara. Sekarang pikirannya berputar keras, mau kemana dia? Dia datang ke sini bukan untuk berlibur. Dia datang untuk menghadapi semua masalahnya. Terjun ke dalam mimpi terburuknya. Hyeon-Reu benar. Jika ingin bahagia, Hyun-Ra harus bisa mengalahkan ketakutan dan luka lamanya. Untuk itu ia pulang ke Indonesia.
Lebih baik ia pergi ke rumah bibinya dulu. Setidaknya ada suatu tempat yang bisa dituju.
Setelah hampir 2 jam membelah kemacetan Jakarta, taxi memasuki gerbang Perumahan Citra Raya. Hyun-Ra berusaha menggenggam tangannya yang mulai bergetar dan dingin. Mencoba rileks, tapi nafasnya terasa berat. Akankah sesulit ini? Apakah bibinya masih mau menerimanya setelah apa yang dilakukannya dulu?
Rumah itu tidak berubah. Hyun-Ra sering sekali menghabiskan masa liburan di rumah bibinya. Tapi ini sudah sangat lama.
Hyun-Ra menguatkan diri sebelum menekan bel. Suara intercom menjawabnya.
“Anda mencari siapa?”
Hyun-Ra tak pernah melupakan bahasa Indonesia, namun lidahnya terasa kelu karena gugup. Ia berdeham sebentar sebelum menjawab. “Nama saya Park Hyun-Ra. Saya datang menemui Ibu Ratih.”
Hening sesaat sebelum suara itu menjawab, “Dira?” tanya suara itu ragu.
Hyun-Ra baru tersadar bahwa ia berbicara dengan bibinya dari tadi. “Tante?”
“Ini benar-benar Dira?” tanya suara dari intercom itu lagi, mendesak.
“Ya, saya Dira.” Jawab Hyun-Ra gugup.
“Astaga. Tunggu sebentar.”
Hyun-Ra menunggu dengan gugup. Apa yang harus dikatakannya?
Wanita paruh baya yang membukakan pintu itu jelas adalah bibinya. Dia menatap Hyun-Ra lekat-lekat sebelum menariknya dalam pelukan yang erat.
 “Kenapa baru pulang sekarang, DIra? Kamu ga kangen sama tante?”
Hyun-Ra bergeming ketika gelombang ketenangan melandanya. Penolakan yang dibayangkannya selama ini tidak pernah nyata. Tapi hatinya masih ragu, apakah semuanya jadi semudah itu?
Mian- maaf tante.”
“Sudah, sudah. Ayo masuk dulu.”
Akankah semuanya semudah ini? Hyun-Ra ingin berharap, sekali ini saja.
***
Satu masalah yang terlepas agak melegakan bagi Hyun-Ra. Namun untuk mendekati perasaan bebas, dia masih jauh. Masih sangat jauh. Akan tetapi Hyun-Ra merasa selangkah lebih dekat. Itu lebih baik daripada tidak sama sekali.
Meski sudah bertahun-tahun, Hyun-Ra tak pernah lupa. Karena mimpi buruk akan tetap melekat dalam ingatan. Apalagi jika mimpi buruk yang menjadi nyata, pasti akan meninggalkan bekas permanen.
Pemakaman tidak terlalu ramai, karena hari libur masih jauh. Sebenarnya pergi ke sini mencabik Hyun-Ra menjadi dua bagian. Bagian hatinya yang memang selalu merindukan sosok yang terbaring di sini. Dan sosok lain meneriakan rasa sakit dan rekaan ulang semua kejadian itu. Kejadian yang bukan lagi menjadi mimpi buruk. Hyun-Ra menyebutnya kenyataan tragis.
Omma… apa kabar?”
Hyun-Ra tercekat. Ia tak mampu membendung air mata ini. Betapa ia merindukan Ibunya. Namun ia baru datang lagi ke sini setelah sekian tahun. Ia hanya tak mampu. Betapapun ia merindukan dirinya, ia tak sanggup menahan sakit yang timbul. Semua itu tak sepadan. Namun kali ini, ia rela menahannya. Oh, betapa ia merindukan Ibunya.
Omma… jangan marah padaku. Aku hanya terlalu takut untuk datang. Ternyata rasanya masih sakit. Sakit sekali, omma.” Hyun-Ra menekan dadanya, berharap perih itu berkurang.
“Aku harap omma sudah bahagia di sana. Aku juga ingin…bahagia. Tapi semua itu terus menghantuiku omma. Aku lelah.”
Tangan Hyun-Ra menggenggam tanah makam begitu kerasnya hingga terasa kebas. Apakah Ibunya marah akan kelakuannya? Akankah Ibunya marah karena Hyun-Ra terus menyimpan dendam? Namun Hyun-Ra belum bisa memaafkannya. Ia bahkan tak yakin ia bisa.
“Dia meminta maaf, omma. Dia menghubungiku lagi. Aku harus bagaimana? Sampai kapanpun aku tak bisa memaafkannya. Dia mengambilmu omma! Dia membuat hidupku hancur!” Angin yang berhembus membuat tubuh Hyun-Ra mengejang. Serasa Ibunya sedang cemberut menatapnya. Ibunya tak pernah suka Hyun-Ra menyimpan dendam.
“Kau marah omma? Tahukah kau itu sangat berat bagiku?” isak Hyun-Ra.
Hyun-Ra memejamkan matanya rapat-rapat berusaha mengais sedikit kedamaian di tempat ini.
“Akan kucoba, omma.” Bisiknya lirih. Hyun-Ra bangkit dan memantapkan hati untuk pergi. Langkahnya terasa berat ketika ia membayangkan harus pergi ke tempat itu. Akal sehat menyuruhnya tetap tinggal dan menolak menghadapi rasa sakit itu. Tapi hatinya berkata lain.
Ia harus menemui ayahnya. Mungkin Hyun-Ra memang sedikit merindukannya.
***
#to be continued in Nappeun Yeoja Part III

-untitled-
(Based on True Story)

Philomena Olaf

No comments:

Post a Comment