Saturday, June 8

Novelet Part I

Nappeun Yeoja
나쁜

Sosoknya terpekur menatap layar yang sudah lama menghitam. Entah berapa lama ia bergeming.
Satu jam
Satu hari
Ia tak menghitung waktu. Itulah caranya lari dari kenyataan. Mengubur dirinya dalam ketidaksadaran. Sesaat saja ia ingin berbohong pada dirinya, bahwa semua baik-baik saja. Bahwa masih ada banyak waktu. Semua tidak nyata dan segala kengerian ini hanyalah mimpi buruk yang akan berlalu.
Namun ia tidak bermimpi. Tidak. Bahkan tak pernah terbesit pikiran untuk menenggelamkan diri dalam mimpi. Karena ia tak bisa berlari. Tidak ke dalam mimpi sekalipun. Rasa sakit ini akan terus menerornya. Mencabiknya.
Bahwa ia terlambat. Bahwa waktunya sudah habis.
Kenyataan bahwa tak ada hal apapun yang bisa diulang. Tak ada.
***

Tiga…dua…satu.
Bendera lorek itupun terangkat tinggi dan berbaur dengan histeria dan raungan mesin yang nyaring. Park Hyun-Ra menyipitkan mata dari balik kaca helm yang gelap. Angin malam yang dingin menampar wajahnya. Namun saat-saat seperti inilah yang paling berarti bagi Hyun-Ra. Saat dimana ia bisa puas dengan dirinya sendiri. Dimana ia merasa bersinar dan tepat.
Hyun-Ra melesat maju membelah gelapnya malam yang dingin. Meninggalkan yang lain-lain jauh di belakang. Namun pikiran itu menginterupsi dengan tiba-tiba. Hyun-Ra menggertakan gigi dan menginjak pedal rem keras-keras. Ban berdecit dan motor pun oleng.
Desiran angin terasa kaku saat motor-motor lain menderu melewatinya. Memang selalu begitu. Pilihannya selalu antara melesat pergi atau ditinggal pergi. Dan Hyun-Ra benci kalau harus merasa tertinggal lagi. Bahkan disini. Dimana ia selalu merasa menang.
Hyun-Ra mengacuhkan motornya yang teronggok dengan ban yang masih berputar pelan. Dibukanya helm, dan dilemparkannya hingga memantul ke pembatas jalan, membuat kacanya retak parah.
“Kau kenapa?” Suara Seok Dong-Sun mengusiknya.
Hyun-Ra bergeming dan berbalik untuk memungut helmnya yang sudah hancur. Dia tidak bisa mengungkapkan yang satu itu. Tidak kepada Dong-Sun sekalipun. Helm itu terasa longgar dan tidak nyaman. Dengan enggan Hyun-Ra membuangnya lagi. Itu salah satu helm favoritnya.
Hyun-Ra mendirikan motornya dan berniat langsung pergi tanpa menggubris Dong-Sun yang menatapnya dengan kesal.
“Hei, Park Hyun-Ra! Setidaknya jelaskan dulu kau kenapa, setelah itu kau- hei…”
Hyun-Ra memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Menerbangkan apapun yang hendak diocehkan Dong-Sun.
***
Dering telepon itu membuat kepala Hyun-Ra berputar. Ia menggerutu dan dengan mata terpejam mencari sumber suara berisik itu. Ditempelkannya ponsel itu ke telinganya.
“Hei, Hyun-Ra, kau kenapa? Jawab aku.”
Nah, Hyun-Ra tak pernah bisa mengabaikan yang satu ini. Suara ini selalu menuntut untuk mendapat perhatian darinya. Dan Hyun-Ra tak pernah bisa mengelak.
“Kecilkan saja suaramu, Hyeon-Reu. Kau membuat kepalaku tambah pusing.” Gerutunya.
“Lukamu sudah diobati?” Balas Kim Hyeon-Reu mengabaikan sindirian saudara sepupunya itu.
“Hmm…” gumam Hyun-Ra.
“Sudah belum? Apa kau mau aku ke sana?” tanya Hyeon-Reu khawatir.
 “Tidak perlu berlebihan. Tak perlu mencoba berperan sebagai onni untukku.”
“Park Hyun-Ra!” desah Hyeon-Reu pelan.
Hyun-Ra mengutuk dirinya sendiri karena sembarangan berbicara. Saudaranya yang satu itu memang perhatian. Kelewat perhatian malah. Walaupun risih, terkadang Hyun-Ra bisa merasa tenang karena ada yang menyayanginya.
Mianhae, onni. Aku sedang kacau.” Gumam Hyun-Ra.
Hyun-Ra bisa mendengar Hyeon-Reu menghela nafas pelan diseberang sana. Dan itu membuat suasana hatinya bertambah buruk.
“Aku mengerti. Hubungi saja aku kalau kau perlu sesuatu.”
Hyun-Ra melempar ponselnya ke bawah. Sudah cukup. Ia tak mau menerima telepon lagi hari ini.
***
“Ada masalah apa?”
Hyeon-Reu mendesah. “Bukan aku yang bermasalah. Tapi adik sepupuku. Dan dia tidak mau menceritakannya padaku.” Ungkap Hyeon-Reu. Sebenarnya sikap defensif Hyun-Ra sudah menjadi rahasia umum. Dia tak pernah peduli dengan keadaan sekitarnya. Semua karena luka itu, dan Hyeon-Reu mengerti posisi Hyun-Ra.
Namun melihat sikap Hyun-Ra yang berbalik mengabaikannya sangat mengganggu pikiran. Selama ini Hyun-Ra tak pernah mengabaikannya. Biarpun dia bersembunyi dari semua orang, dia tak pernah bisa lari dari Hyeon-Reu.
“Dia hanya butuh waktu.” Ujar suara itu menenangkan.
“Apa lebih baik aku pergi menengoknya? Aku benar-benar khawatir.”
“Dia sudah besar, Hyeon-Reu. Aku rasa dia hanya butuh waktu.”
Hah, Hyun-Ra sudah besar. Benar. Mungkin tingkah Hyeon-Reu yang selalu menganggapnya sebagai adik kecil yang perlu dilindungi membuat Hyun-Ra kesal. Tanpa sadar Hyeon-Reu menempatkan dirinya sebagai sosok kakak yang kelewat protektif.
“Baiklah. Kau ada waktu siang nanti?”
***
Dong-Sun menatap Hyun-Ra sambil tersenyum geli. Mulut gadis itu penuh oleh bulgogi. Dan Dong-Sun lebih suka melihat mulut Hyun-Ra penuh makanan daripada penuh darah seperti kemarin.
 “Pelan-pelan saja. kau seperti tidak makan semalaman.” Dong-Sun tertegun dengan komentarnya sendiri. Bisa saja Hyun-Ra memang tidak makan dari kemarin malam.
“Hmm… Kau harus menyediakan bulgogi untukku setiap hari. Dan oh, gimbap juga.”
“Bisa saja. Kalau kau mau tubuhmu menggelembung seperti balon karet.”
Hyun-Ra mengangkat bahu dan terus makan dalam hening.
“Besok kau masuk sekolah kan?” tanya Dong-Sun.
“Tergantung.”
“Besok ada presentasi untuk Mrs. Choi, ingat?”
Hyun-Ra mengernyit. “Sejak kapan kau peduli soal sekolah? Kau terdengar seperti onni saja.”
Sebenarnya Dong-Sun sama sekali tidak peduli soal sekolah. Ia hanya ingin berada satu tempat dengan Hyun-Ra, melihat kondisi gadis itu yang agak labil akhir-akhir ini. Daripada membiarkan gadis itu berkeliaran tanpa arah, lebih baik mengurungnya di sekolah.
Dong-Sun tak menanggapi sindiran Hyun-Ra. “Entahlah. Aku belum ada rencana mau pergi kemana besok.” Gumam Hyun-Ra.
Dering ponsel Dong-Sun mengalihkan perhatian laki-laki itu.
“Hallo… Ada apa? Hmm… tidak. Oke, aku ke sana sekarang.” Ekpresi Dong-Sun berubah cerah. Hyun-Ra merasa gimbap yang dikunyahnya menjadi keras dan sulit ditelan. Cepat-cepat Hyun-Ra meneguk air putih.
“Dae-Hya.” Kata Dong-Sun menjelaskan.
Hyun-Ra meruntuk dalam hati. Seperti dia tidak tahu saja. Hyun-Ra berjuang memasang ekspresi tak peduli dan dengan susah payah berusaha menelan potongan-potongan terakhir gimbapnya. Namun semua ini lebih sulit ketika ia telah kehilangan selera makannya sama sekali.
“Aku pergi dulu, Hyun-Ra. Jangan lupa cuci piringnya.”
Belum sempat Hyun-Ra menyuarakan protes, Dong-Sun lebih dulu menyambar jaket hitamnya dan melesat keluar apartemen dengan tergesa-gesa. Hyun-Ra mengerang dan membanting sumpit di atas meja makan. Kesal.
***
Semua itu gara-gara surat yang diterimanya kemarin sore.
Hanya karena sepucuk surat, pertahanan diri yang dibangun Hyun-Ra bertahun-tahun runtuh. Dia kehilangan kendali diri dan pikirannya amat kacau. Mulutnya robek dan Hyun-Ra kalah dari balapan kemarin. Dengan sembrono, Hyun-Ra melepaskan kekesalannya pada Kim Hyeon-Reu yang kelewat baik hingga tampak menyebalkan. Dan Dong-Sun, laki-laki itu justru membuat pikirannya tambah buruk dengan segala ekspresi cerita tentang “Dae-Hya”.
Hari Minggu kemarin, setelah Dong-Sun pergi meninggalkannya, Hyun-Ra bergelung di kamar seharian. Mencoba tidur walaupun ia tahu usahanya itu percuma. Pikirannya terlalu kalut untuk bisa tidur.
Telepon aku, Dira…
Baris terakhir dalam surat itu terus berputar dalam kepala Hyun-Ra. Bagaimana bisa orang itu tiba-tiba datang lagi. Untuk apa? Menghancurkan hidupnya? Cukup sekali. Hyun-Ra tak pernah memberikan kesempatan kedua. Tidak.
Telepon aku…
Telepon aku…
Telepon aku…
Bunyi gelas yang berdentang pecah menarik Hyun-Ra untuk mempertahankan sedikit kesadaran akhirnya. Mengeluarkannya dari ilusi yang menyiksa itu. Hyun-Ra meneguk soju dan mendesah pelan. Yah, biarkan saja dia mabuk. Biarkan saja dia mabuk sampai mati. Mungkin lebih baik.
***
Hyun-Ra bangun dengan kepala pening. Dengan sempoyongan Hyun-Ra berjalan menuju kamar mandi, dan muntah disana. Perutnya terasa lebih lega, dan Hyun-Ra membuat secangkir teh hijau. Dia beranjak ke kamarnya lagi dan mulai menyeruput teh nya pelan-pelan.
Ponselnya bordering nyaring, “Hei, Park Hyun-Ra.” Sapa Dong-Sun riang.
“Hmm…”
“Sudah bangun kan? Ayo cepat sedikit. Aku tiba sepuluh menit lagi.”
Hyun-Ra mengernyit, “Memang mau kemana?” tanyanya bingung.
“Ya ampun, kita kan harus sekolah. Sudah jangan banyak protes. Cepat mandi. Dah.” Dong-Sun mematikan teleponnya.
Hyun-Ra mendengus.
Sepuluh menit kemudian, bel apartemen Hyun-Ra berbunyi. Hyun-Ra mengikat asal rambutnya, memasukkan sembarang buku hingga tasnya setengah terisi, dan berlari membukakan pintu. Dong-Sun tersenyum lebar melihat Hyun-Ra ternyata bersedia mengenakan seragam.
“Kenapa cengar-cengir begitu.” Ujar Hyun-Ra datar.
Dong-Sun malah tertawa, “Memangnya ada larangan? Ayo, kau ikut aku saja. Motormu masih di bengkel.”
Mereka pun bergegas keluar setelah Hyun-Ra mengunci apartemennya. Dong-Sun meletakkan sebelah tangannya ke atas bahu Hyun-Ra. Gadis itu berjengit, tapi diam saja. Mereka berjalan ke lapangan parkir.
Ponsel Dong-Sun berbunyi, “Ya? Kenapa? Aku mau ke sekolah. hmm… Apa?? Kau baik-baik saja? ya… tunggu aku sepuluh menit lagi.” Wajah Dong-Sun berubah keruh. Dahinya berkerut khawatir. Ada apa?
“Dae-Hya. Dia sakit perut.”
Hyun-Ra tak bisa menahan untuk tidak memutar bola mata. Yang benar saja. Cuma sakit perut, tapi kenapa Dong-Sun berlebihan sekali? Hyun-Ra mendengus kesal.
“Ya…ya. Princess mu sakit perut. Sudah sana pergi!” gumam Hyun-Ra berusaha terdengar tak peduli.
“Bukan sakit perut biasa. Dia muntah-muntah sejak pagi.” Ujar Dong-Sun membela diri.
“Terserah saja. Dan, hei Dong-Sun ssi… kalau kau tak sadar, ini masih pagi.”
Dong-Sun tidak berusaha mendebat Hyun-Ra. “Kau bawa saja motorku. Aku pergi naik taxi.”
Tidak menunggu respon Hyun-Ra, sosok Dong-Sun berlari menuju seberang jalan dan mencegat taxi pertama yang lewat.
Ya, semua ini toh bukan hal baru. Di dunia nyata, Hyun-Ra memang selalu ditinggalkan.
***
Memang belum sesiang itu, tapi matahari pagi ini tampak menyilaukan walaupun Hyun-Ra mengenakan helm dengan kaca gelap milik Dong-Sun.
Hyun-Ra menggeleng samar. Untuk apa dia peduli pada urusan cinta Dong-Sun. Itu sama sekali bukan urusannya. Tanpa hal seperti itupun, kepalanya sudah penuh dengan hal-hal lain yang jauh lebih mendesak.
Nah, kenapa harus hal itu lagi. Hyun-Ra mengutuk dirinya sendiri karena sempat-sempatnya memikirkan hal itu lagi. Tapi memangnya sampai kapan Hyun-Ra harus berlari? Bersembunyi? Sampai kapan Hyun-Ra terus menyembunyikan sisi dirinya yang pengecut dibalik topeng datarnya selama ini.
Tak akan ada kebahagiaan.
Tidak sebelum Hyun-Ra menyelesaikan semua masalah yang menggantung bertahun-tahun. Dia berharap dirinya bisa lupa seiring waktu. Namun seperti halnya luka yang disembunyikan, tak mungkin hilang. Justru semakin hari akan semakin membusuk.
Haruskah ia kembali pulang ke Indonesia?
Kemunculan mobil hitam itu yang tiba-tiba, tak memberi Hyun-Ra waktu untuk mengelak. Pikirannya terlalu kacau waktu itu sehingga tak mungkin sempat menghindar. Hyun-Ra hanya berharap, semoga tidak terlalu sakit.
Tubuhnya terhempas jatuh ke atas aspal jalan yang panas. Helm milik Dong-Sun yang memang kelonggaran, menggelinding entah kemana. Kepala Hyun-Ra berputar dan telinganya berdenging ngilu. Untuk sesaat, rebah di atas aspal jalan memang lebih nyaman dibanding berusaha bangkit berdiri.
“Hei, Nona… Kau baik-baik saja?” Suara itu terdengar kalut.
Hyun-Ra berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaganya untuk mengangkat wajah dari aspal. Dia bisa merasakan darah dari mulutnya. Laki-laki itu membantunya duduk. Hyun-Ra meludahkan darah dari mulutnya, rasanya anyir.
“Bagaimana bisa baik? Kau tak lihat kondisiku berantakan seperti ini.”
“Ini, bersihkan dulu memar di mulutmu.” Ujarnya sambil menyodorkan sapu tangan cokelat tua.
Hyun-Ra menerimanya dan menempelkannya ke sudut bibirnya yang robek lagi. Saat mengangkat wajah, laki-laki itu sudah pergi. Ya, kabur saja sana! Sudah menabrak orang, hanya menebus dengan sapu tangan? Hyun-Ra mengerang kesal.
“Ini, bersihkan dulu lukamu.” Laki-laki itu menyodorkan sebotol air mineral. Ternyata…
“Masih sakit?” tanyanya lagi.
“Hmm… Mungkin kakiku terlindas. Aku tak bisa berdiri.”
“Tenangkan dirimu dulu, setelah itu aku bisa mengantarmu.”
“Lain kali jangan mundur sembarangan! Kau mencelakakan orang tahu!” sela Hyun-Ra kasar.
“Apa?”
“Kau! Gara-gara kau, aku jadi jatuh!” balas Hyun-Ra setengah berteriak. Dia benar-benar kesal sekarang. Kesal kenapa ia harus jatuh lagi dan menjadi sedemikian tidak berdaya di hadapan orang lain. Gara-gara surat itu dan gara-gara laki-laki di hadapannya ini, yang berusaha bertingkah manis setelah membuatnya babak belur.
“Maaf, Nona. Tapi bukan aku yang menabrakmu. Aku menemukanmu terkapar disini, dan-
Oppa…”
Saat itu Hyun-Ra menoleh dan mendapati gadis kecil, mungkin baru 10 tahun, sedang duduk menunggu di atas motor. Gadis itu turun dan berlari kecil ke arah Hyun-Ra dan laki-laki itu.
“Aku terlambat, oppa…” katanya.
“Tunggu sebentar ya, Eun-Rim manis. Kita tolong nona ini, baru oppa akan mengantarmu.”
“Kalau Ibu Guru marah, oppa harus membelaku.”
“Tentu saja. Nah, sekarang kau tunggu di kursi itu ya.” Laki-laki itu membelai sayang adiknya, dan kembali menatap Hyun-Ra dengan mata disipitkan.
“Nah, nona muda. Kau harus tahu, aku tidak-
“Ya, aku tahu. Maaf.” Sela Hyun-Ra. “Kau bisa pergi sekarang.”
Laki-laki itu mengernyit. “Tadi kau bilang kau tidak bisa jalan.”
“Aku mau pulang saja. Aku bisa panggil taxi nanti.” Kata Hyun-Ra.
Laki-laki itu mengangkat bahu, “Baiklah kalau begitu. Tenangkan dirimu dulu. Aku pergi mencari taxi. Biar nanti motormu kubawa ke bengkel di depan sana.”
Laki-laki itu berlari-lari kecil ke bengkel yang tidak jauh dari situ. Hyun-Ra menatap motor Dong-Sun yang digotong oleh para montir berbadan besar. Laki-laki itu beringsut ke pinggir jalan mencari taxi. Sementara itu Hyun-Ra memeriksa luka-lukanya. Lututnya gemetar dan luka parah. Dilepasnya sepatu dan ia lihat telapak kakinya memang benar memar. Mungkin terlindas.
“Hei, itu taximu.” Kata laki-laki itu menarik perhatian Hyun-Ra.
Hyun-Ra mengangguk ketika laki-laki itu tampak meminta izin untuk membantunya naik ke taxi.
“Kau tidak sekolah?” tanya Hyun-Ra sebelum laki-laki itu menutup pintu taxi.
“Sekolah? Aku sudah kuliah- Bucheon College.” Katanya sambil tersenyum.
Hyun-Ra terdiam sejenak. Namun sepertinya ia telah terhanyut lebih lama dari yang disadarinya. Ia baru tersadar saat taxi sudah berjalan dan sosok itu mulai mengabur di belakang spion. Bodohnya Hyun-Ra. Kenapa ia hanya diam saja setelah semua pertolongan laki-laki itu. Bahkan mengucapkan terima kasih saja tidak. Bodoh bodoh bodoh.
***
#to be continued in Nappeun Yeoja Part II


-untitled-
(Based on True Story)


Philomena Olaf

No comments:

Post a Comment