Nappeun
Yeoja
나쁜 여자
Sosoknya terpekur menatap layar yang sudah lama
menghitam. Entah berapa lama ia bergeming.
Satu jam
Satu hari
Ia tak menghitung waktu. Itulah caranya lari dari
kenyataan. Mengubur dirinya dalam ketidaksadaran. Sesaat saja ia ingin berbohong
pada dirinya, bahwa semua baik-baik saja. Bahwa masih ada banyak waktu. Semua
tidak nyata dan segala kengerian ini hanyalah mimpi buruk yang akan berlalu.
Namun ia tidak bermimpi. Tidak. Bahkan tak pernah
terbesit pikiran untuk menenggelamkan diri dalam mimpi. Karena ia tak bisa
berlari. Tidak ke dalam mimpi sekalipun. Rasa sakit ini akan terus menerornya.
Mencabiknya.
Bahwa ia terlambat. Bahwa waktunya sudah habis.
Kenyataan bahwa tak ada hal apapun yang bisa
diulang. Tak ada.
***
Bendera lorek itupun terangkat tinggi dan berbaur
dengan histeria dan raungan mesin yang nyaring. Park Hyun-Ra menyipitkan mata
dari balik kaca helm yang gelap. Angin malam yang dingin menampar wajahnya.
Namun saat-saat seperti inilah yang paling berarti bagi Hyun-Ra. Saat dimana ia
bisa puas dengan dirinya sendiri. Dimana ia merasa bersinar dan tepat.
Hyun-Ra melesat maju membelah gelapnya malam yang
dingin. Meninggalkan yang lain-lain jauh di belakang. Namun pikiran itu
menginterupsi dengan tiba-tiba. Hyun-Ra menggertakan gigi dan menginjak pedal
rem keras-keras. Ban berdecit dan motor pun oleng.
Desiran angin terasa kaku saat motor-motor lain
menderu melewatinya. Memang selalu begitu. Pilihannya selalu antara melesat
pergi atau ditinggal pergi. Dan Hyun-Ra benci kalau harus merasa tertinggal
lagi. Bahkan disini. Dimana ia selalu merasa menang.
Hyun-Ra mengacuhkan motornya yang teronggok dengan
ban yang masih berputar pelan. Dibukanya helm, dan dilemparkannya hingga
memantul ke pembatas jalan, membuat kacanya retak parah.
“Kau kenapa?” Suara Seok Dong-Sun mengusiknya.
Hyun-Ra bergeming dan berbalik untuk memungut
helmnya yang sudah hancur. Dia tidak bisa mengungkapkan yang satu itu. Tidak kepada
Dong-Sun sekalipun. Helm itu terasa longgar dan tidak nyaman. Dengan enggan
Hyun-Ra membuangnya lagi. Itu salah satu helm favoritnya.
Hyun-Ra mendirikan motornya dan berniat langsung
pergi tanpa menggubris Dong-Sun yang menatapnya dengan kesal.
“Hei, Park Hyun-Ra! Setidaknya jelaskan dulu kau
kenapa, setelah itu kau- hei…”
Hyun-Ra memacu motornya dengan kecepatan tinggi.
Menerbangkan apapun yang hendak diocehkan Dong-Sun.
***
Dering telepon itu membuat kepala Hyun-Ra
berputar. Ia menggerutu dan dengan mata terpejam mencari sumber suara berisik
itu. Ditempelkannya ponsel itu ke telinganya.
“Hei, Hyun-Ra, kau kenapa? Jawab aku.”
Nah, Hyun-Ra tak pernah bisa mengabaikan yang satu
ini. Suara ini selalu menuntut untuk mendapat perhatian darinya. Dan Hyun-Ra
tak pernah bisa mengelak.
“Kecilkan saja suaramu, Hyeon-Reu. Kau membuat
kepalaku tambah pusing.” Gerutunya.
“Lukamu sudah diobati?” Balas Kim Hyeon-Reu
mengabaikan sindirian saudara sepupunya itu.
“Hmm…” gumam Hyun-Ra.
“Sudah belum? Apa kau mau aku ke sana?” tanya
Hyeon-Reu khawatir.
“Tidak
perlu berlebihan. Tak perlu mencoba berperan sebagai onni untukku.”
“Park Hyun-Ra!” desah Hyeon-Reu pelan.
Hyun-Ra mengutuk dirinya sendiri karena
sembarangan berbicara. Saudaranya yang satu itu memang perhatian. Kelewat
perhatian malah. Walaupun risih, terkadang Hyun-Ra bisa merasa tenang karena
ada yang menyayanginya.
“Mianhae,
onni. Aku sedang kacau.” Gumam Hyun-Ra.
Hyun-Ra bisa mendengar Hyeon-Reu menghela nafas
pelan diseberang sana. Dan itu membuat suasana hatinya bertambah buruk.
“Aku mengerti. Hubungi saja aku kalau kau perlu
sesuatu.”
Hyun-Ra melempar ponselnya ke bawah. Sudah cukup.
Ia tak mau menerima telepon lagi hari ini.
***
“Ada masalah apa?”
Hyeon-Reu mendesah. “Bukan aku yang bermasalah.
Tapi adik sepupuku. Dan dia tidak mau menceritakannya padaku.” Ungkap
Hyeon-Reu. Sebenarnya sikap defensif Hyun-Ra sudah menjadi rahasia umum. Dia
tak pernah peduli dengan keadaan sekitarnya. Semua karena luka itu, dan
Hyeon-Reu mengerti posisi Hyun-Ra.
Namun melihat sikap Hyun-Ra yang berbalik
mengabaikannya sangat mengganggu pikiran. Selama ini Hyun-Ra tak pernah
mengabaikannya. Biarpun dia bersembunyi dari semua orang, dia tak pernah bisa
lari dari Hyeon-Reu.
“Dia hanya butuh waktu.” Ujar suara itu
menenangkan.
“Apa lebih baik aku pergi menengoknya? Aku
benar-benar khawatir.”
“Dia sudah besar, Hyeon-Reu. Aku rasa dia hanya
butuh waktu.”
Hah, Hyun-Ra sudah besar. Benar. Mungkin tingkah
Hyeon-Reu yang selalu menganggapnya sebagai adik kecil yang perlu dilindungi
membuat Hyun-Ra kesal. Tanpa sadar Hyeon-Reu menempatkan dirinya sebagai sosok kakak
yang kelewat protektif.
“Baiklah. Kau ada waktu siang nanti?”
***
Dong-Sun menatap Hyun-Ra sambil tersenyum geli.
Mulut gadis itu penuh oleh bulgogi. Dan Dong-Sun lebih suka melihat mulut
Hyun-Ra penuh makanan daripada penuh darah seperti kemarin.
“Pelan-pelan
saja. kau seperti tidak makan semalaman.” Dong-Sun tertegun dengan komentarnya
sendiri. Bisa saja Hyun-Ra memang tidak makan dari kemarin malam.
“Hmm… Kau harus menyediakan bulgogi untukku setiap
hari. Dan oh, gimbap juga.”
“Bisa saja. Kalau kau mau tubuhmu menggelembung
seperti balon karet.”
Hyun-Ra mengangkat bahu dan terus makan dalam
hening.
“Besok kau masuk sekolah kan?” tanya Dong-Sun.
“Tergantung.”
“Besok ada presentasi untuk Mrs. Choi, ingat?”
Hyun-Ra mengernyit. “Sejak kapan kau peduli soal
sekolah? Kau terdengar seperti onni
saja.”
Sebenarnya Dong-Sun sama sekali tidak peduli soal
sekolah. Ia hanya ingin berada satu tempat dengan Hyun-Ra, melihat kondisi
gadis itu yang agak labil akhir-akhir ini. Daripada membiarkan gadis itu
berkeliaran tanpa arah, lebih baik mengurungnya di sekolah.
Dong-Sun tak menanggapi sindiran Hyun-Ra.
“Entahlah. Aku belum ada rencana mau pergi kemana besok.” Gumam Hyun-Ra.
Dering ponsel Dong-Sun mengalihkan perhatian
laki-laki itu.
“Hallo… Ada apa? Hmm… tidak. Oke, aku ke sana
sekarang.” Ekpresi Dong-Sun berubah cerah. Hyun-Ra merasa gimbap yang
dikunyahnya menjadi keras dan sulit ditelan. Cepat-cepat Hyun-Ra meneguk air
putih.
“Dae-Hya.” Kata Dong-Sun menjelaskan.
Hyun-Ra meruntuk dalam hati. Seperti dia tidak tahu
saja. Hyun-Ra berjuang memasang ekspresi tak peduli dan dengan susah payah
berusaha menelan potongan-potongan terakhir gimbapnya. Namun semua ini lebih
sulit ketika ia telah kehilangan selera makannya sama sekali.
“Aku pergi dulu, Hyun-Ra. Jangan lupa cuci
piringnya.”
Belum sempat Hyun-Ra menyuarakan protes, Dong-Sun
lebih dulu menyambar jaket hitamnya dan melesat keluar apartemen dengan
tergesa-gesa. Hyun-Ra mengerang dan membanting sumpit di atas meja makan.
Kesal.
***
Semua itu gara-gara surat yang diterimanya kemarin
sore.
Hanya karena sepucuk surat, pertahanan diri yang
dibangun Hyun-Ra bertahun-tahun runtuh. Dia kehilangan kendali diri dan
pikirannya amat kacau. Mulutnya robek dan Hyun-Ra kalah dari balapan kemarin.
Dengan sembrono, Hyun-Ra melepaskan kekesalannya pada Kim Hyeon-Reu yang
kelewat baik hingga tampak menyebalkan. Dan Dong-Sun, laki-laki itu justru
membuat pikirannya tambah buruk dengan segala ekspresi cerita tentang
“Dae-Hya”.
Hari Minggu kemarin, setelah Dong-Sun pergi
meninggalkannya, Hyun-Ra bergelung di kamar seharian. Mencoba tidur walaupun ia
tahu usahanya itu percuma. Pikirannya terlalu kalut untuk bisa tidur.
Telepon
aku, Dira…
Baris terakhir dalam surat itu terus berputar
dalam kepala Hyun-Ra. Bagaimana bisa orang itu tiba-tiba datang lagi. Untuk
apa? Menghancurkan hidupnya? Cukup sekali. Hyun-Ra tak pernah memberikan
kesempatan kedua. Tidak.
Telepon
aku…
Telepon
aku…
Telepon
aku…
Bunyi gelas yang berdentang pecah menarik Hyun-Ra
untuk mempertahankan sedikit kesadaran akhirnya. Mengeluarkannya dari ilusi
yang menyiksa itu. Hyun-Ra meneguk soju dan mendesah pelan. Yah, biarkan saja
dia mabuk. Biarkan saja dia mabuk sampai mati. Mungkin lebih baik.
***
Hyun-Ra bangun dengan kepala pening. Dengan
sempoyongan Hyun-Ra berjalan menuju kamar mandi, dan muntah disana. Perutnya
terasa lebih lega, dan Hyun-Ra membuat secangkir teh hijau. Dia beranjak ke
kamarnya lagi dan mulai menyeruput teh nya pelan-pelan.
Ponselnya bordering nyaring, “Hei, Park Hyun-Ra.”
Sapa Dong-Sun riang.
“Hmm…”
“Sudah bangun kan? Ayo cepat sedikit. Aku tiba
sepuluh menit lagi.”
Hyun-Ra mengernyit, “Memang mau kemana?” tanyanya
bingung.
“Ya ampun, kita kan harus sekolah. Sudah jangan
banyak protes. Cepat mandi. Dah.” Dong-Sun mematikan teleponnya.
Hyun-Ra mendengus.
Sepuluh menit kemudian, bel apartemen Hyun-Ra
berbunyi. Hyun-Ra mengikat asal rambutnya, memasukkan sembarang buku hingga
tasnya setengah terisi, dan berlari membukakan pintu. Dong-Sun tersenyum lebar
melihat Hyun-Ra ternyata bersedia mengenakan seragam.
“Kenapa cengar-cengir begitu.” Ujar Hyun-Ra datar.
Dong-Sun malah tertawa, “Memangnya ada larangan?
Ayo, kau ikut aku saja. Motormu masih di bengkel.”
Mereka pun bergegas keluar setelah Hyun-Ra
mengunci apartemennya. Dong-Sun meletakkan sebelah tangannya ke atas bahu
Hyun-Ra. Gadis itu berjengit, tapi diam saja. Mereka berjalan ke lapangan
parkir.
Ponsel Dong-Sun berbunyi, “Ya? Kenapa? Aku mau ke
sekolah. hmm… Apa?? Kau baik-baik saja? ya… tunggu aku sepuluh menit lagi.”
Wajah Dong-Sun berubah keruh. Dahinya berkerut khawatir. Ada apa?
“Dae-Hya. Dia sakit perut.”
Hyun-Ra tak bisa menahan untuk tidak memutar bola
mata. Yang benar saja. Cuma sakit perut, tapi kenapa Dong-Sun berlebihan
sekali? Hyun-Ra mendengus kesal.
“Ya…ya. Princess mu sakit perut. Sudah sana pergi!”
gumam Hyun-Ra berusaha terdengar tak peduli.
“Bukan sakit perut biasa. Dia muntah-muntah sejak
pagi.” Ujar Dong-Sun membela diri.
“Terserah saja. Dan, hei Dong-Sun ssi… kalau kau tak sadar, ini masih
pagi.”
Dong-Sun tidak berusaha mendebat Hyun-Ra. “Kau
bawa saja motorku. Aku pergi naik taxi.”
Tidak menunggu respon Hyun-Ra, sosok Dong-Sun
berlari menuju seberang jalan dan mencegat taxi pertama yang lewat.
Ya, semua ini toh bukan hal baru. Di dunia nyata,
Hyun-Ra memang selalu ditinggalkan.
***
Memang belum sesiang itu, tapi matahari pagi ini
tampak menyilaukan walaupun Hyun-Ra mengenakan helm dengan kaca gelap milik
Dong-Sun.
Hyun-Ra menggeleng samar. Untuk apa dia peduli
pada urusan cinta Dong-Sun. Itu sama sekali bukan urusannya. Tanpa hal seperti
itupun, kepalanya sudah penuh dengan hal-hal lain yang jauh lebih mendesak.
Nah, kenapa harus hal itu lagi. Hyun-Ra mengutuk
dirinya sendiri karena sempat-sempatnya memikirkan hal itu lagi. Tapi memangnya
sampai kapan Hyun-Ra harus berlari? Bersembunyi? Sampai kapan Hyun-Ra terus
menyembunyikan sisi dirinya yang pengecut dibalik topeng datarnya selama ini.
Tak akan ada kebahagiaan.
Tidak sebelum Hyun-Ra menyelesaikan semua masalah
yang menggantung bertahun-tahun. Dia berharap dirinya bisa lupa seiring waktu.
Namun seperti halnya luka yang disembunyikan, tak mungkin hilang. Justru
semakin hari akan semakin membusuk.
Haruskah ia kembali pulang ke Indonesia?
Kemunculan mobil hitam itu yang tiba-tiba, tak
memberi Hyun-Ra waktu untuk mengelak. Pikirannya terlalu kacau waktu itu
sehingga tak mungkin sempat menghindar. Hyun-Ra hanya berharap, semoga tidak
terlalu sakit.
Tubuhnya terhempas jatuh ke atas aspal jalan yang
panas. Helm milik Dong-Sun yang memang kelonggaran, menggelinding entah kemana.
Kepala Hyun-Ra berputar dan telinganya berdenging ngilu. Untuk sesaat, rebah di
atas aspal jalan memang lebih nyaman dibanding berusaha bangkit berdiri.
“Hei, Nona… Kau baik-baik saja?” Suara itu
terdengar kalut.
Hyun-Ra berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaganya
untuk mengangkat wajah dari aspal. Dia bisa merasakan darah dari mulutnya.
Laki-laki itu membantunya duduk. Hyun-Ra meludahkan darah dari mulutnya,
rasanya anyir.
“Bagaimana bisa baik? Kau tak lihat kondisiku
berantakan seperti ini.”
“Ini, bersihkan dulu memar di mulutmu.” Ujarnya
sambil menyodorkan sapu tangan cokelat tua.
Hyun-Ra menerimanya dan menempelkannya ke sudut
bibirnya yang robek lagi. Saat mengangkat wajah, laki-laki itu sudah pergi. Ya,
kabur saja sana! Sudah menabrak orang, hanya menebus dengan sapu tangan?
Hyun-Ra mengerang kesal.
“Ini, bersihkan dulu lukamu.” Laki-laki itu
menyodorkan sebotol air mineral. Ternyata…
“Masih sakit?” tanyanya lagi.
“Hmm… Mungkin kakiku terlindas. Aku tak bisa
berdiri.”
“Tenangkan dirimu dulu, setelah itu aku bisa
mengantarmu.”
“Lain kali jangan mundur sembarangan! Kau
mencelakakan orang tahu!” sela Hyun-Ra kasar.
“Apa?”
“Kau! Gara-gara kau, aku jadi jatuh!” balas
Hyun-Ra setengah berteriak. Dia benar-benar kesal sekarang. Kesal kenapa ia
harus jatuh lagi dan menjadi sedemikian tidak berdaya di hadapan orang lain.
Gara-gara surat itu dan gara-gara laki-laki di hadapannya ini, yang berusaha
bertingkah manis setelah membuatnya babak belur.
“Maaf, Nona. Tapi bukan aku yang menabrakmu. Aku
menemukanmu terkapar disini, dan-”
“Oppa…”
Saat itu Hyun-Ra menoleh dan mendapati gadis
kecil, mungkin baru 10 tahun, sedang duduk menunggu di atas motor. Gadis itu
turun dan berlari kecil ke arah Hyun-Ra dan laki-laki itu.
“Aku terlambat, oppa…” katanya.
“Tunggu sebentar ya, Eun-Rim manis. Kita tolong
nona ini, baru oppa akan
mengantarmu.”
“Kalau Ibu Guru marah, oppa harus membelaku.”
“Tentu saja. Nah, sekarang kau tunggu di kursi itu
ya.” Laki-laki itu membelai sayang adiknya, dan kembali menatap Hyun-Ra dengan
mata disipitkan.
“Nah, nona muda. Kau harus tahu, aku tidak-”
“Ya, aku tahu. Maaf.” Sela Hyun-Ra. “Kau bisa
pergi sekarang.”
Laki-laki itu mengernyit. “Tadi kau bilang kau
tidak bisa jalan.”
“Aku mau pulang saja. Aku bisa panggil taxi
nanti.” Kata Hyun-Ra.
Laki-laki itu mengangkat bahu, “Baiklah kalau
begitu. Tenangkan dirimu dulu. Aku pergi mencari taxi. Biar nanti motormu
kubawa ke bengkel di depan sana.”
Laki-laki itu berlari-lari kecil ke bengkel yang
tidak jauh dari situ. Hyun-Ra menatap motor Dong-Sun yang digotong oleh para
montir berbadan besar. Laki-laki itu beringsut ke pinggir jalan mencari taxi.
Sementara itu Hyun-Ra memeriksa luka-lukanya. Lututnya gemetar dan luka parah.
Dilepasnya sepatu dan ia lihat telapak kakinya memang benar memar. Mungkin
terlindas.
“Hei, itu taximu.” Kata laki-laki itu menarik
perhatian Hyun-Ra.
Hyun-Ra mengangguk ketika laki-laki itu tampak
meminta izin untuk membantunya naik ke taxi.
“Kau tidak sekolah?” tanya Hyun-Ra sebelum
laki-laki itu menutup pintu taxi.
“Sekolah? Aku sudah kuliah-
Bucheon College.” Katanya sambil tersenyum.
Hyun-Ra terdiam sejenak. Namun sepertinya ia telah
terhanyut lebih lama dari yang disadarinya. Ia baru tersadar saat taxi sudah
berjalan dan sosok itu mulai mengabur di belakang spion. Bodohnya Hyun-Ra.
Kenapa ia hanya diam saja setelah semua pertolongan laki-laki itu. Bahkan
mengucapkan terima kasih saja tidak. Bodoh
bodoh bodoh.
***
#to be continued in Nappeun Yeoja
Part II
-untitled-
(Based on True Story)
Philomena Olaf
No comments:
Post a Comment