Monday, June 10

Fanfic : Harry Potter Series (Chapter 1)

Gonggongan Duka Padfoot
www.hp-lexicon.org
Sirius Black berapparate tepat di depan pintu rumah Lupin. Ujung jubahnya yang panjang menyapu sekilas permukaan lantai kayu yang berderit. Lupin membuka pintu bahkan sebelum Sirius mengetuknya. Wajah Lupin tampak pucat. Bulan purnama belum lama lewat. Dan kali ini Lupin harus menghadapinya sendirian. Dengan James yang terkurung di Godric Hallow dan Sirius yang harus pergi jauh untuk urusan Orde. Peter yang terpaksa harus bersembunyi juga setelah menggantikan posisi Sirius sebagai penjaga rahasia keluarga Potter.
“Kau tidak tampak baik, Remus.” Ujar Sirius sebagai sapaan.
Lupin tersenyum kecut. “Kau tidak lebih baik daripada aku.” Balasnya.
Sirius nyengir lebar. “Sepertinya James yang paling buruk. Terkurung di rumah sepanjang hari.”

Dan kedua laki-laki itu tertawa. “Kita harus mengunjunginya kapan-kapan.” Ujar Lupin.

Sirius mengangguk dan mereka melangkah masuk ke rumah Lupin. Ruang tamu tampak berantakan. Di atas meja kayu berserak berlembar-lembar perkamen dengan bau tinta yang masih menyengat. Sirius mengambil tempat di sofa berlengan favoritnya. Lupin melambaikan tongkat dan sebotol whiski api melayang anggun dan mendarat di atas bagian meja- yang tidak tertutup perkamen.
“Proyek baru lagi?” tanya Sirius sambil menyeruput whiski apinya. Ia selalu suka sensasi ini- ketika cairan itu terasa membakar ketika melewati kerongkongan, lalu turun dan member efek kehangatan bahkan sampai ke ujung jemarinya.
“Kau tahu, masih seminggu sebelum Dumbledore mengutusku ke tempat lain.” Jawab Lupin.
Saat itu terdengar bunyi paruh mengetuk lembut, namun terkesan tidak sabaran di jendela kayu Lupin. Lupin sigap mengarahkan tongkatnya, tapi Sirius jauh lebih cepat.
Sirius bergumam, “Alohomora,”
Daun jendela membuka dengan derit ringan. Burung hantu hitam legam terbang masuk dengan anggun dan hinggap di bahu Sirius. Kedua mata yang sama hitamnya dengan mata Sirius memandang tongkat Lupin dengan angkuh.
“Kau mulai paranoid, Remus.” Sahut Sirius santai.
Lupin hanya mengangkat bahu. “Kau akan jadi lebih paranoid, ketika separuh dari komunitas yang kau lindungi, justru malah menyerang balik dan berusaha mengguna-gunaimu ketika kau lengah.” Dengus Lupin. “Muggle jadi tampak lebih manis dari bangsa kita.” lanjut Lupin getir.
Di masa gelap seperti sekarang, makhluk-makhluk kegelapan sudah terang-terangan menampakkan dirinya. Komunitas sihir pun jauh lebih waspada. Di mana-mana orang tidak bisa saling percaya. Kekhawatiran, kecurigaan, desas-desus. Begitulah cara Kau-Tahu-Siapa menyebar teror. Teman bisa menjadi lawan. Bagaimana bisa kau mengharapkan posisi yang lebih baik, untuk manusia serigala berhati baik  sekalipun?
“Kau membawa sesuatu untukku, Godwin?” tanya Sirius, dan si burung hantu hitam itu ber-uhu pelan. Ia menyodorkan kedua kakinya, di mana segulung perkamen yang lumayan tebal terikat rapi di sana.
Lupin sudah kembali ke sisi lain meja dan tenggelam dalam perkamennya sendiri. Sirius menyelonjorkan kakinya yang lelah dan mulai membuka gulungan itu.
Dear Padfoot,
Terima kasih banyak untuk hadiah ulang tahun Harry! Itu adalah hadiah favoritnya. Masih berusia satu tahun tapi sudah terbang ke mana-mana dengan sapu terbang mainanannya. Dia begitu senang memainkannya. Aku sertakan foto agar kau bisa melihatnya sendiri.
Senyum Sirus melebar dan membelai pelan kepala Godwin. “Kau baru berkunjung ke keluarga Potter, eh?” gumamnya.
Lupin menengok memandang Sirius. Tapi Sirius sedang sibuk memandangi foto bocah kecil dengan rambut hitam berantakan menaiki sapu terbang dengan mata berbinar-binar. Sepasang kaki yang pastinya milik James terlihat sangat sibuk menjaga jagoan kecilnya. Tak pernah sekalipun terpikirkan olehnya, bahwa sahabat gilanya yang satu itu bisa menjadi seperti sekarang. Pengasuh bayi! Dan tampaknya James menikmati perannya itu.
Setelah puas memandangi foto anak baptisnya, Sirius melemparkan foto itu kea rah Lupin dan melanjutkan membaca surat Lily.
Kau tahu kalau sapu itu hanya melayang satu meter di atas tanah, tapi Harry hampir membunuh kucing kami, dan memecahkan vas mengerikan yang Petunia berikan sebagai kado natal (tidak ada yang mengeluh). Tentu saja James menganggapnya lucu. Selalu berkata bahwa Harry akan menjadi pemain Quidditch hebat. Tapi kami harus menyimpan semua pajangan dan tidak boleh lengah saat mengawasi Harry di atas sapu.
Sirius memutar bola matanya. Yeah, Harry bisa menjadi pemain Quidditch hebat- asal tidak berkepala besar seperti ayahnya dulu. Surat itu membawa kegembiraan tersendiri untuk Sirius. Sedikit mengobati kerinduan akan sahabat-sahabatnya.
Kami mengadakan pesta ulang tahun kecil. Hanya kami, dan Bathilda yang selalu baik pada kami dan begitu menyayangi Harry. Sayang sekali kau tidak bisa datang, tapi Orde lebih penting. Lagipula, Harry masih terlalu kecil untuk tahu ulang tahunnya.
James merasa sedikit tertekan harus bersembunyi di sini, walau dia berusaha menyembunyikan perasaannya tapi aku tahu- apalagi Dumbledore masih meminjam jubah gaibnya. Tak ada kesempatan untuknya berjalan-jalan. Jika kau bisa mengunjungi kami, James pasti akan senang.
Wormy datang minggu lalu. Dia kelihatan sedih. Mungkin karena berita McKinnon. Aku sendiri menangis semalam begitu mendengar beritanya.
Sirius menghela nafas. Ia merasa bersalah pada Peter karena meletakkan beban berbahaya ini ke pundaknya. Meminta Peter menjadi penjaga rahasia keluarga Potter merupakan harga yang sangat mahal. Dengan selusin pelahap maut yang mencari-cari, bahkan dengan Kau-Tahu-Siapa sendiri yang sudah bertekad untuk menemukan mereka- nyawa Peter sama saja diletakkan di atas rahasia itu. Tapi Sirius tahu pasti, Peter akan lebih tidak menimbulkan kecurigaan dan resiko dibanding dirinya. James dan Lily pun sudah mempercayai Peter.
Bathilda sering mengunjungi kami. Dia seorang wanita tua yang mengagumkan, yang selalu bercerita betapa luar biasanya Dumbledore. Aku penasaran, apakah Dumbledore akan senang kalau tahu. Jujur, aku tidak tahu harus percaya atau tidak. Karena rasanya tidak dapat dipercaya kalau Dumbledore-
Sirius meraih perkamen ke dua, dan meneruskan membaca surat Lily lagi.
berteman dengan Gellert Grindelwald. Kukira dia sudah gila!

Penuh cinta,
Lily
Sirius menghela nafas panjang. Lagi, Lupin memandang ke arahnya menuntuk informasi. Sirius melemparkan surat tadi kepada Lupin. Lupin terdiam sesaat saat membaca surat Lily. Sudut-sudut bibirnya menahan tawa- membayangkan James harus menjadi pengasuh bayi. Setelah selesai Lupin meletakkan surat itu di atas meja lagi.
“Aku harus mengunjungi Wormtail sepertinya.” Gumam Sirius.
Lupin mengangguk. “Berita soal McKinnon benar-benar membuatnya terpukul. Kita semua juga begitu.” Ucap Lupin sedih.
Hanya sedikit orang yang tahu, bahwa penjaga rahasia keluarga Potter bukan lagi Sirius, melainkan Peter Pettigrew. Hanya Sirius, James, Lily, dan Dumbledore. Lupin memang lebih cakap dari Peter, tapi menurut Dumbledore, akan sangat riskan jika menjadikan Lupin sebagai penjaga rahasia.
“Kau masih punya sisa perkamen, Remus?” tanya Sirius.
Lupin mengangguk dan mencari-cari perkamen kosong di atas meja. Lupin menyerahkan perkamen itu. Sirius merosot ke lantai dan mulai menulis.
Dear Deer,
Sirius mulai menulis surat balasan untuk Lily. Hampir dua puluh menit penuh ia tertunduk di atas perkamen itu. Memenuhinya dengan berbagai cerita soal tugas yang diberikan Dumbledore kemarin, menggoda James soal penjaga bayi, memberitahukan rencananya mengunjugi Peter dan Godric Hallow untuk bertugas menjadi penghibur sementara bagi James. Ia menitipkan salam sayang untuk Harry dan harapan agar ia tidak menjadi pemain Quidditch dengan kepala besar seperti ayahnya dulu. Sirius menggulung surat itu dan menyegelnya. Dengan lembut dia ikatkan surat itu ke kaki Godwin.
“Antarkan ke rumah keluarga Potter ya.” Bisik Sirius.
Godwin ber-uhu lagi dan mematuk jari Sirius dengan sayang. Sirius bangkit dan melepaskan Godwin terbang ke langit malam yang hitam pekat. Sirius meraih mantel perjalanannya dan mengenakannya kembali.
“Kau pergi sekarang?” tanya Lupin kaget.
“Setidaknya aku harus memastikan Peter tidak mati ketakutan.” Canda Sirius.
Lupin bangkit berdiri. “Aku setuju denganmu. Akhir-akhir ini keadaan tidak bertambah baik.”
Sirius tersenyum dan memberi Lupin pelukan singkat. “Aku akan mampir ke rumah James juga. Mencegahnya berubah gila karena terkurung terus.”
Lupin merengut. “Kau pikir aku tidak terkurung juga?” ujarnya datar.
Sirius tertawa renyah. “Tapi kau memang selalu menjadi yang paling sabar dan waras di antara kami semua. Dan Wormtail jelas lebih suka terkurung dalam tempat aman daripada berkeliaran dengan resiko Cruciatus. James dan aku bisa jadi gila kalau terkurung. Well, kukira dia benar-benar akan jadi gila kalau aku tidak berkunjung.” Ujar Sirius dengan wajah sumringah.
Lupin hanya geleng-geleng kepala. Selama ini, kewarasannya lah yang sedikit mengontrol kegilaan James dan Sirius, dan menjadi pelindung bagi si murung Wormtail. Walaupun James dan Sirius tak mungkin menyakiti sahabatnya, tetap saja mereka suka menggoda Wormtail sesekali.
“Hati-hati kalau begitu. Sampaikan salamku pada mereka semua.”
Sirius mengangguk dan melambaikan tangannya. Angin malam terasa lebih dingin dari biasanya. Sirius Black berapparate dengan bunyi pop pelan tanpa tahu apa yang menunggunya di tempat tujuan.
***
Sirius Black tiba tepat saat salah satu sosok bertudung berapparate pergi. Walau sekilas, Sirius benar-benar yakin bahwa salah satu pelahap maut baru saja meninggalkan tempat ini. Rumah Peter! Sirius berlari cepat masuk ke rumah.
“PETER!” Raung Sirius.
Rumah terlihat begitu kosong dan rapi seolah tak pernah tersentuh. Tiba-tiba saja semburan ketakutan baru memenuhi Sirius. Hal itu membenarkan perasaan cemas yang terasa samar dalam 24 jam terakhir. Seolah-olah Sirius memang tahu sahabatnya berada dalam bahaya.
“PETER! WORMY! Jawab aku!” Sirius berteriak lagi. Hatinya dipenuhi ketakutan dan penyesalan. Salahnya lah kalau sampai terjadi apa-apa dengan Peter. Sirius memeriksa semua pintu dan mendapati semua ruangan sama kosongnya seperti ruang depan.
Apa mungkin Wormtail tidak ada di rumah? Atau pelahap maut itu sudah membawanya?
Sirius tidak bisa memastikannya.
“Homenum revelio!” serunya dengan suara gemetar.
Mantra itu meluncur dari ujung tongkat Sirius dalam wujud transparan. Sirius menunggu dalam ketegangan. Ketika akhirnya terdengar suara letupan yang berasal dari dapur. Sirius melangkah dengan tergesa dan mendapati dapur nyaris sama kosongnya dengan ruangan lain.
Namun mantera itu tak mungkin salah. Homenum revelio menunjukkan keberadaan manusia lain selain dirinya di rumah ini.
Suara cicit ketakutan itu nyaris membuat Sirius jatuh karena lega. Jauh di sudut dapur, tersembunyi di balik meja makan, Peter Pettigrew duduk bergelung seperti bayi kecil yang ketakutan. Sirius mendekati Peter dan berlutut di dekat Peter.
Tubuh Peter masih berguncang hebat. Ia memeluk tangan kanannya sendiri, menyembunyikannya di balik jubah. Hati Sirius mencelos melihat sahabatnya dalam kondisi seperti itu. Peter pasti sangat terpukul.
“Peter. Sshh Kau baik-baik saja, Peter. Mereka sudah pergi.” Ujar Sirius menenangkan.
Tapi Peter menolak untuk balik menatap Sirius. Kepalanya masih menunduk, tubuhnya masih gemetar, dan tangannya masih terbungkus rapat dalam jubahnya.
“Peter” Sirius mencoba lagi.
Wormtail menatapnya kelu dengan matanya yang berair. Gemetar tubuhnya sama sekali tidak berkurang.
“Sirius” isaknya.
Sirius memeluk tubuh Wormtail yang gemetaran. “Tenanglah Wormtail. Mereka sudah pergi.”
Wormtail terisak lebih keras. Masih menggenggam tangannya erat-erat di dalam jubahnya. Sirius melepaskan pelukannya.
“Ada apa dengan tanganmu, Wormtail?” tanya Sirius.
Wormtail menatap Sirius dengan pandangan ngeri. Bagaimana kalau Sirius sampai melihatnya? Tongkat di tangan Wormtail terasa licin karena keringat dingin. Tidak boleh. Sirius tidak boleh melihatnya! Atau Wormtail bisa mati saat itu juga.
Wormtail bangkit berdiri. Sirius masih mengikutinya dengan pandangan bingung. Wormtail berjalan kaku, berusaha tidak menarik perhatian tapi gagal. Sebisa mungkin ia menyembunyikan tangan kanannya dalam jubah. Sirius tidak boleh melihatnya! Sirius tidak akan melihatnya! Tidak, sampai Wormtail berhasil berapparate ke tempat yang aman.
“Ada apa dengan tanganmu, Wormtail?” Sirius bertanya lagi.
Wormtail sama sekali tidak menengok. Ia melangkah pelan menuju jendela yang berbingkai kusam. Kaca tipis yang melapisinya tampak sama kusamnya dengan seisi rumah itu. Sirius bergeming di tempatnya, dan Wormtail bersyukur untuk itu.
Hanya satu lambaian tongkat, dan Wormtail akan selamat. Selamat untuk menerima penghargaan besar dari Pangeran Kegelapan. Tanda kegelapan di tangan kanannya masih terasa sakit dan menusuk. Yaxley baru saja mengukirnya pada kulit Wormtail yang pucat.
Sirius bergeming, namun mata gelapnya masih mengikuti gerakan Wormtail yang kikuk.
Wormtail menggenggam tongkatnya dari balik jubah dengan mantap. Ia kini memutar tubuhnya menghadap sahabat yang sebentar lagi akan menjadi musuhnya. Semua itu sebanding. Kehilangan James dan Sirius sebanding dengan penghargaan dan kehormatan yang akan diterimanya dari Pangeran Kegelapan. Dan Lupin? Wormtail sama sekali tidak membutuhkan manusia serigala tak berguna seperti dia.
Matanya yang kecil berair membalas tatapan tajam Sirius Black.
Dan detik itu juga, Black tahu ada sesuatu yang sangat salah. Tepat ketika Wormtail membuka mulutnya untuk berbicara.
“Maafkan aku, Sirius. Sampaikan salamku untuk James, dan Lily. Dan Harry.”
Saat Peter Pettigrew akhirnya menghilang denga bunyi “tar” keras seperti peri rumah- Sirius tahu bahwa ia sudah terlambat.
***
Anjing hitam besar itu berlari. Berlari dan hanya berlari.
Sirius Black memilih mengubah wujudnya menjadi anjing. Dan ia berlari. Berlari dan berlari. Mengabaikan keempat kakinya yang menjerit protes karena jarak yang tak kunjung mendekat. Semua itu tidak sebanding dengan hatinya yang menjerit. Jeritan yang lebih keras daripada keempat kaki yang sakit dan paru-paru yang terbakar karena cepatnya gerakan Sirius.
James sudah tak ada
James sudah tak ada
James sudah tak ada
Kenyataan yang berusaha ditolak Sirius. Kenyataan yang berusaha dikuburnya dalam-dalam dibalik kesakitan fisiknya saat ini. Sirius juga menolak cara bepergian yang biasa. Yang tidak perlu membuat tubuhnya tersiksa. Hanya butuh lima detik, dan ia akan tiba dengan selamat di Godric Hallow.
Tapi ia sama sekali tidak tertarik untuk sampai dengan selamat.
Tidak! Karena ia tahu, bahwa sahabatnya sama sekali tidak selamat. Bahwa mereka telah mempercayai orang yang salah. Bahwa Wormtail mengkhianati mereka. Bahwa James sudah pergi. Bahwa Lily sudah pergi. Bahwa kepergian mereka menjadi hampir pasti untuk melindungi putra mereka, Harry- yang Sirius yakin sudah pergi juga. Bahwa keluarga Potter sudah pergi.
Jantung Sirius berdetak dengan menyakitkan. Tiap detaknya mengisyaratkan pengkhianatan. Dan penyesalan yang tak bisa dibayar dengan apapun juga. Tiap tarikan nafasnya merupakan kebodohan. Dan kecurangan karena terus hidup sedangkan keluarga Potter tidak.
Cakar-cakar besar itu terbenam dalam ke tanah yang dingin. Meninggalkan jejak panjang menuju Godric Hallow. Jejak kematian. Duka yang begitu dalam, hingga Sirius merasa bisa mati karenanya. Lebih menyakitkan daripada mantera Cruciatus.
Walaupun rasanya Sirius berlari tanpa akhir, pedesaan itu mulai menampakkan siluetnya. Sirius memelankan lajunya. Hatinya terus berdenyut menyakitkan. Dan kesakitan yang lebih parah seakan menantinya hanya dalam jarak berapa mil.
Godric Hallow masih tertidur nyenyak. Tertidur dengan tenang tanpa tahu bahwa satu lagi keluarga penyihir telah tamat riwayatnya.
Walaupun sudah menduganya, tetap saja Sirius mengeluarkan gonggongan duka ketika mendapati rumah yang hancur itu. Ia mengendus pagar yang berdiri kokoh. Yang kini bahkan kasat bagi siapapun. Mantera Fidelius telah rusak.
Walau menyakitkan, rasanya Sirius tidak bisa menunda lebih lama untuk melihat sahabatnya yang telah mati. Langkah kaki besarnya nyaris tak terdengar. Ditenggelamkan oleh gemuruh hatinya yang menjerit.
Lagi, Sirius mengeluarkan gonggogan duka itu. Kini satu desa mungkin mendengarnya.
Sirius bergelung pelan di samping James yang terbujur kaku di ruang tamu yang sudah hancur. Matanya membelalak kosong. Ia bahkan tak menggenggam tongkatnya.
Dasar bodoh! Gonggong Sirius pelan.
Ia menyelinap pelan dan menggigit ujung tongkat James yang terkubur di balik reruntuhan. Dengan hati-hati, diposisikannya tongkat itu di atas tangan James yang dingin. Dengan moncongnya ia berusaha memperbaiki posisi James menjadi lebih layak. Lidah panasnya menjilat kelopak mata James agar tertutup.
Sekarang James bisa beristirahat dengan layak.
Sirius kembali bergelung di sisi sahabatnya yang sudah mati. Ekornya mengibas-ngibas lantai kayu yang bolong. Kelopak matanya terpejam berat. Entah di mana, Lily dan Harry pasti tertidur dalam kondisi yang sama seperti James. Namun Sirius sudah tak mampu melihat kematian lagi. Ia tak mampu melihat kedua mata hijau zamrud itu menatap kosong ke arahnya.
Meneriakkan gaungan kematian.
Bola-bola air mata mengalir membasahi wajah Sirius, mengalir turun ke moncongnya. Mengapa perasaannya masih sesakit ini dalam wujud anjingnya? Wujud anjing itu selama ini selalu menyimpan kegembiraan. Kebahagiaan ketika empat sahabat itu berkeliling desa setiap bulan purnama. Sirius tak pernah merasakan kesedihan, bahkan kesakitan seperti ini selama ia menjadi anjing sebelumnya. Tapi saat ini, wujud anjing pun tak bisa melindunginya dari kesakitan.
Entah berapa lama Sirius berbaring dan meratap di sisi James sampai suara debuman membuatnya terlonjak bangun. Sosok setengah raksasa Hagrid melangkah masuk melewati pintu depan yang menganga lebar.
Sirius menggonggong keras.
Hagrid mengangkat kedua tangan besarnya. “Tahan, ini aku, Rubeus Hagrid.”
Sirius menggonggong lagi dan dalam sedetik ia kembali ke wujud manusianya.
“Jenggot Merlin!” raung Hagrid. “Bagaimana kau-
“Mau apa kau datang, Hagrid?” tanya Sirius. Ia tak bisa mengenali suara dingin yang adalah suaranya itu. Wajah Sirius kini tampak seperti topeng kelam.
“Dumbledore. Diutus untuk mengambil Harry.” Jawab Hagrid.
Mata Sirius melebar. “Mengambil Harry?” tanyanya kaget.
“Benar. Harry Potter. Ia selamat. Pangeran Kegelapan menghilang ketika berusaha membunuhnya. Sama sekali tak bisa menyentuhnya, eh.”
Kini Sirius benar-benar terperangah. Harry Potter selamat?
“Tapi James-” Ia memandang tubuh sahabatnya dengan kelu. “Dan Lily-
“Mereka berdua mati, yeah.” Kini Hagrid mulai menangis. Raungannya terdengar pilu dan kasar, menggoncangkan seisi rumah yang sudah hancur.
“Yah, tapi anak mereka selamat. Dumbledore memintaku mengambilnya.”
Sirius tak bisa mencegah sedikit perasaan gembira karena Harry selamat. Namun kegembiraan itu langsung tenggelam secepat kedatangannya. Biarpun Harry selamat, Sirius sama sekali tak pantas menemuinya. Dialah orang yang sudah membuat bocah kecil itu kehilangan kedua orang tuanya.
Hagrid menyedot hidungnya dengan berisik di balik sapu tangan sebesar taplak. Dengan limbung ia melangkah melewati Sirius, menuju tangga ke atas. Hagrid berhenti di anak tangga kedua dan menatap Sirius.
“Kau tidak ikut ke atas, Sirius?” tanya Hagrid.
Sirius menggeleng.
Hagrid meraung sedih lagi. “Tentu sajatentu. Bodohnya aku” Ia mengeluarkan suara seperti terompet lagi di balik sapu tangannya. “Tentu berat bagimu melihat James-
Sirius tetap bergeming. Posturnya menjadi lebih kaku.
“Dan Lily di atas. Aku heran Harry tidak menangis. Anak malang-
“Hagrid?” panggil Sirius.
“Ya?”
“Kau bisa memakai motorku untuk membawa Harry ke Dumbledore. Ada di halaman belakang. Aku harus pergi.”
Hagrid mengangguk dan mengusap air matanya.
“Selamat tinggal, Hagrid.”
Selamat tinggal, James
Selamat tinggal, Lily
Semoga kita bertemu lagi, Harry
Setelah sampai di halaman, Sirius merubah dirinya menjadi anjing lagi. Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum mengeluarkan gonggongan duka terakhirnya di hari ini. Dengan satu gonggongan panjang, ia meluapkan semua dukanya untuk keluarga Potter. Saat ini bisa dipastika isi desa sudah terbangun karenanya.
Kini moncong Sirius tertarik dan membentuk seringai kejam dan dingin.
Kau yang mati berikutnya, Wormtail!
Dan Sirius Black mulai berlari membelah pagi dingin yang berkabut.
***

1062013
(Tenggelam dalam asiknya fanfiction)

Philomena Olaf

3 comments: