Saturday, June 8

Fanfic : Harry Potter Series

Lost One

Will Be Back
www.the-leaky-cauldron.org

Hal terakhir yang diingat Luna Lovegood adalah pintu yang menjeblak terbuka sebelum ia menyelesaikan mantera Colloportus untuk menyegelnya. Luna tidak yakin berapa banyak mantra pembeku yang ditujukan langsung pada dirinya, mungkin lebih dari tiga. Setelah itu semuanya berubah gelap.
Begitu ia membuka mata, ia sudah berbaring di sayap rumah sakit. Matanya mengerjap karena cahaya lampu. Sesaat ingatan akan pertarungan di Kementrian Sihir memenuhi pikirannya. Well, itu jumlah pelahap maut yang sangat banyak, mengingat lawan mereka hanyalah enam orang anak sekolah biasa.
Mungkin lebih dari anak sekolah biasa. Mereka adalah anggota LD, dan Harry sang ketua juga bersama mereka. Tapi tetap saja kan. Kau-Tahu-Siapa jadi terlihat agak pengecut dengan mengirimkan pelahap maut sebanyak itu.
Luna membuka mata lagi dan mendapati Neville Longbottom sedang menatapnya. Hidung Neville tampak lebih baik, namun ia terlihat sangat lelah. Luna bergegas bangkit dan melompat turun dari tempat tidurnya. Ia merasa jauh lebih baik dari yang semestinya. Setidaknya ia lebih baik dari Neville yang kelihatan akan roboh kapan saja karena lelah.
“Berbaringlah Neville. Kau kelihatan kacau.” Ujar Luna.
Neville menggeleng dan mengendikkan tatapan ke dua tempat tidur di sebelah Luna. Hermione berbaring di tempat tidur persis di sebelah Luna. Wajahnya terlihat amat pucat dan nafasnya terdengar berat.
“Aku tak tahu ia terkena mantera apa. Semacam mantera verbal. Madam Pomfrey sudah mengobatinya. Hanya saja ia butuh banyak istirahat untuk pulih.”
Luna mengangguk mengerti. “Dan Ron?”
Neville menghela nafas letih dan menarik kursi untuk duduk.
“Ia tampak parah.” Gumam Luna.
Sekujur badan Ron tampak membiru. Tangannya dipenuhi bekas-bekas luka tempat tentakel otak itu melilitnya. Jujur saja, kalau saat itu Luna yakin Ron tidak berada dalam bahaya, ia berniat mengambil beberapa sampel Aquavirius maggots untuk dikembangbiakkan bersama ayahnya. Namun sepertinya Hermione benar kali ini. Yang dilihat Luna bukan Aquavirius maggots, tapi sejenis otak yang berbahaya.
Neville mengangguk. “Nyaris saja. Kondisinya bisa saja lebih parah. Aku meninggalkannya dengan keadaan nyaris tercekik sulur otak itu. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku payah soal mantera, dan tongkat Hermione terasa aneh. Apalagi Harry sedang di bawah sana sendirian, dengan selusin pelahap maut.”
“Walau aku tahu tak akan banyak berguna, aku harus mencoba menolongnya kan.” Ujar Neville membela diri.
Luna menepuk bahunya dengan lembut. “Kau benar Neville. Tidak ada yang bisa disalahkan dalam kejadian ini. Kau tahu kalau aku meledakkan Pluto? Aku ingin menjauhkan pelahap maut yang mecekal kaki Ginny. Akhirnya aku meledakkan Pluto, dan meremukkan pergelangan kaki Ginny pada saat yang sama. Yang penting, Ginny bebas kan.” Ujar Luna dengan suara jauhnya yang biasa.
Neville menelan ludah. Bagi Luna, meremukkan pergelangan kaki teman untuk menjauhkannya dari bahaya lebih besar, adalah perbuatan yang dapat diterima. Neville merasa lebih baik sekarang.
“Di mana Ginny? Ia sudah sembuh kan?”
Neville mengangguk. “Ia ada di luar. Sedang berbicara dengan Ibunya, dan kakak-kakaknya.”
“Baiklah. Neville, sebaiknya kau beristirahat, sungguh. Aku memang tidak membawa kaca mata wrackspurt, tapi aku yakin mereka sedang berputar-putar di sana sekarang. Kau butuh tidur, Neville.” Ujar Luna.
Kali ini Neville tidak menolak. Ia memang butuh tidur. Tubuhnya sudah menjerit karena lelah. Mungkin Luna mau berbaik hati menunggui Ron dan Hermione. Dan Harry. Anak itu, memang. Neville yakin, di antara mereka, Harry lah yang terluka paling parah. Apalagi Sirius Black- yang ternyata ayah baptisnya- baru saja meninggal. Sirius Black yang selama ini Neville takuti, justru menjadi orang yang menyelamatkannya. Orde Phoenix! Neville tidak menyangka perkumpulan itu masih ada. Ayah dan ibunya dulu pernah ada di sana juga.
“Luna?” panggil Neville bingung ketika Luna melangkah menuju pintu.
Luna menoleh, “Ada apa, Neville?”
“Mau ke mana kau? Tidak bisakah kau di sini menunggui Ron dan Hermione? Aku ingin tidur sebentar.”
“Oh, tenang sajalah, Neville. Kau bisa tidur sekarang. Dan aku juga bisa pergi sekarang. Lagipula aku sudah mendengar langkah kaki mendekat. Kupikir itu Ginny. Dia bisa menunggui kalian, sementara aku mengirim kabar pada ayahku.” Sahut Luna ringan.
Saat itu juga pintu terbuka dan Ginny Weasley melangkah masuk. Kondisi Ginny tampak sebaik Luna, walaupun ekspresinya sangat sedih. Sudah pasti Ginny sangat sedih. Kakak dan teman-temannya terluka parah. Bahkan kondisi Harry, yang Luna yakin amat parah hingga ia tak bisa dirawat di Rumah Sakit sekolah, pasti membuat Ginny sedih dan khawatir. Gadis Weasley itu memang sudah lama menyukai Harry Potter- Luna tahu itu.
“Oh, hai Ginny.” Sapa Luna riang.
Ginny memaksakan senyum. “Hai, Luna. Kondisimu baik?”
“Tentu. Aku sudah tidak sabar ingin mengirim kabar ke ayahku. Ia pasti senang. Dan kisah kita bisa masuk di The Quibbler edisi pagi ini.”
Ginny mendengus tapi tak mendebat Luna.
“Well, kukira kau akan berangkat ke St. Mungo, Ginny.” Sahut Luna tiba-tiba.
Ginny memandang Luna bingung. “Masih terlalu pagi, Luna. Kupikir aku akan pergi ke sana besok.”
Luna menggeleng, “Kupikir kau begitu khawatir karena kondisi Harry yang amat parah. Wajahmu terlihat begitu sedih. Tapi, kalau kau memutuskan pergi ke sana besok siang, syukurlah. Aku jadi yakin kalau kondisi Harry tidak separah itu.”
“Harry? Harry tidak dirawat di St. Mungo, Luna. Tonks yang ada di sana sekarang. Ia terluka lumayan parah.”
“Oh Lalu kenapa aku tak melihat Harry di sini?” tanya Luna polos.
Ginny menarik nafas letih. “Ia sedang bersama Dumbledore, di kantornya.”
Nada suara Ginny jelas menunjukkan ketidaksetujuannya. Ia yakin Harry sangat lelah, baik fisik maupun mental. Tapi bukannya beristirahat, dia harus menerima informasi lain- yang Ginny yakin sama penting dan beratnya seperti informasi-informasi sebelumnya. Ginny hanya berharap Harry mampu melalui ini semua. Ia tidak terlihat baik akhir-akhir ini. Dan sekarang, dengan kepergian Sirius- Ginny hanya bisa berdoa.
“Ia akan kembali, Ginny, tenang saja.” Ujar Luna menenangkan.
“Maukah kau menunggui mereka sementara aku mengabari ayahku. Aku tak akan lama.” Janjinya.
Ginny mengangguk dan mengucapkan “Hati-hati” tanpa suara.
*
Luna sedang menempelkan catatan ke lima di papan pengumuman di koridor Nyonya Gemuk saat ia mendengar langkah kaki mendekat. Ia menoleh dan melihat Harry Potter sedang berdiri kaku di sana. Sejauh ini, Luna pikir Harry tidak tampak membaik. Luka batin memang tidak bisa disembuhkan secepat luka fisik. Dan sepertinya Harry Potter benar-benar terluka karena kepergian Sirius Black, daripada yang ia perlihatkan pada orang-orang selama ini.
“Hallo” sapa Luna pelan. Ia bisa melihat dengan jelas bahwa Harry sedang tidak ingin berbicara dengan siapa-siapa saat ini. Tapi sebagai sahabat- Luna sudah menganggap Harry sahabatnya juga- Luna harus berusaha menghibur Harry. Atau mengalihkan perhatiannya dari kesedihan.
“Kenapa kau tidak menghadiri pesta?” Harry bertanya.
Luna mengerling sekilas pada catatan yang ia tulis yang kini sudah tertempel di dinding. “Well, aku kehilangan hampir semua barang-barangku.” Kata Luna pelan. “Orang-orang mengambilnya dan menyembunyikannya, kau tahu. Tapi karena ini malam terakhir, aku benar-benar butuh barang-barang itu kembali, jadi aku memasang pengumuman.”
Luna mengerling ke catatan di hadapannya. Ia telah menuliskan dengan jelas daftar buku-buku dan pakaiannya yang hilang. Ia juga yakin telah menuliskan permintaan dengan sopan pada “mereka” yang menemukan untuk mengembalikannya. Setidaknya ia berharap kaos kaki hadiah Natal ayahnya bisa kembali.
Luna merasakan tatapan Harry Potter kini berubah. Ia memandang Luna dengan sorot peduli. Padangan seorang sahabat.
“Kenapa mereka menyembunyikan barang-barangmu?” Harry bertanya sambil merengut.
Luna menarik nafas. Rasanya menyenangkan bisa berbagi perasaan dengan orang lain. Mengungkapkan apa yang kadang-kadang mengganggu pikiran Luna selama ini. Harry berdiri menunggu. Luna menatapnya sekali lagi dan memutuskan untuk menceritakan ini pada Harry. Lagipula, Harry sekarang sahabatnya kan?
“Oh, well” Luna mengangkat bahu, berusaha terlihat tidak peduli. “Kukira mereka berpikir aku agak aneh, kau tahu. Nyatanya, beberapa orang memaggilku ‘Loony’ Lovegood.”
Luna lega bisa menceritakannya. Selama ini ia berusaha tidak peduli dengan panggilan itu. Toh ‘Loony’ Lovegood bukan sosok yang nyata. Hanya Luna Lovegood yang ada. Jadi selama ini Luna menganggap mereka membicarakan orang lain yang bukan dirinya.
Wajah Harry tampak aneh. Ia terlihat marah, tapi Luna yakin kemarahan itu bukan ditujukan padanya. “Itu bukan alasan bagi mereka untuk mengambil barang-barangmu.” Sergah Harry datar.
Luna benar-benar merasakan arti kepedulian seorang sahabat.
“Apa kau perlu bantuan menemukannya?” Harry menawarkan bantuan.
Luna tersenyum. Mengetahui bahwa setidaknya ia memiliki sahabat saat ini, sudah lebih dari cukup. Sesuatu yang jauh lebih besar daripada nilai barang-barangnya yang hilang. Lebih besar daripada ejekan ‘Loony’ yang diucapkan seisi sekolah.
“Oh, tidak.” Kini Luna tersenyum manis. “Barang-barang itu akan kembali, selalu begitu pada ahirnya, walaupun tidak dalam wujud yang kita kira.”
Jelas mereka sudah kembali dalam wujud kelima sahabat barunya.
“Ngomong-ngomong kau tidak ikut pesta?”

*

862013
(Memenuhi Pesanan)

Philomena Olaf

2 comments:

  1. Bagus Si~ Dipanjangin lagi klw bisa... Wkwkwk XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin next fanfic mau ambil sudut pandang Prof. Lockhart biar gokil
      Tapi kalo buat besok, mungkin aku posting chapter 3 (mungkin(
      hehe

      Delete